Progres Perbankan Syariah Melambat

36

SEBAGAI  provinsi  berpenduduk sekitar 47 juta jiwa atau terbanyak secara nasional dan 98% penduduknya muslim, Jawa Barat  memiliki peranan penting dalam pengembangan ekonomi syariah di tanah air. Provinsi ini memiliki modal sumber daya manusia yang sangat potensial untuk diarahkan sebagai penggerak pengembangan ekonomi syariah.

Namun realitasnya  penetrasi pemanfaatan layanan jasa keuangan syariah di sini masih terasa minim. Pangsa pemanfaatan layanan jasa pembiayaan perbankan syariah terhadap total kredit perbankan di Jawa Barat masih relatif kecil, yaitu 8,4%. Walau pun  sudah lebih baik dibandingkan dengan pangsa pemanfaatan layanan jasa pembiayaan perbankan syariah nasional terhadap total kredit perbankan nasional yang baru mencapai 5,9%.

Memang kondisi perkembangan keuangan syariah di Jawa Barat yang terpantau pada triwulan II 2017 mengalami peningkatan. Hal ini didorong oleh pertumbuhan pembiayaan perbankan umum syariah  yang meningkat. Hingga triwulan II 2017, pertumbuhan pembiayaan syariah  sebesar 10,6% (yoy) meningkat dari triwulan I 2017 sebesar 8,4% (yoy).

Berasarkan distribusi jenis kegiatannya, pembiayaan syariah di Jabar masih didominasi untuk kegiatan konsumsi sebesar 49%. Sementara itu, pemanfaatan pembiayaan syariah untuk pembentukan modal kerja usaha sebesar 31% dan untuk keperluan kegiatan investasi baru 21%.

Padahal,  ekonomi syariah dapat menjadi langkah penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.  Ekonomi berbasis Wahyu Illahiah ini, seperti disampaikan Gubernur Ahmad Heryawan,  berpotensi menumbuhkan semangat berekonomi bagi masyarakat Jabar.Ekonomi syariah merupakan sistem ekonomi berbasis keyakinan kepada Allah SWT, dengan berpedoman pada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW.

Peradaban perekonomian pun telah berjalan pada zaman Nabi Muhammad SAW, beliau adalah seorang ‘Saudagar’ yang jadi contoh utama dalam menjalankan bisnis dengan asas-asas syariah. Jadi seharusnya orang yang beriman itu maju luar biasa. Karena iman membawa paradigma baru tentang kehidupan, paradigma kemajuan. Benci akan kemiskinan, benci akan kebodohan, benci akan segala urusan keterbelakangan, yang dia cintai karena keimanannya adalah kemajuan dan kemajuan dalam konteks iman dan takwa kepada Allah swt.