Uang Elektronik, Apa pula Itu?

40

SUDAH  cukup lama, orang berbicara tentang uang elektronik.  Cukup banyak orang Indonesia, terutama kaum berduit, menggunakan uang elektronik dalam melakukan transaksi. Sejak ”musim” kartu kredit berikut segala permasalahannya, bermunculanlah penerbut uang elektronik. Hampir semua bank, baik bank berplat merah maupun bank swasta penuh, mencoba masuk ke bisnis uang elektronik.

Apa keuntungan bagi masyarakat banyak dengan terbitnya uang elektronik? Sudah banyak dibicarakan di media. Para penerbit uang elektronik, penyedia layanan, penjual kartu, mempromosikan nilai tambah bagi para pemegang uang elektronik. Pemegang uang elektronik, tidak harus membawa uang tunai. Ke mana-mana orang tidak usah menjejali dompetnya dengan uang tunai. Cukup membawa kartu kredit, uang plastik, atau uang elektronik. Transaksi, baik kepentingan transportasi, jual beli, transaksi perbankan, sampai biaya pengobatan,tidak harus membayar dengan uang tunai.

Uang elektronik memiliki nilai praksis dan sekuriti yang jauh lebih tinggi dibanding uang tunai. Karena itu pengguna uang elektronik dari waktu ke waktu terus bertambah.Namun bagi masyarakat awam, penggunaan uang elektronik dirasakan justru tidak praktis. Mereka harus ”membeli” uang elektronik dengan jumlah tertentju, sedangkan rakyat kebanyakan boleh dikatakan ”mustahil” punya uang tunai untuk membeli uang elektronik. Hal itu pula yang membuat pembayaran tol nontunai tidak segera dapat dilaksanakan secara menyeluruh. Banyak orang yang berpendapat, lebih baik berdesak-desakan di jalan arteri daripada harus membayar tol. Apalagi harus membeli kartu nontunai.

Sekarang yang menjadi masalah bukan hanya manfaat uang elektronik tetapi ongkos isi ulangnya. Ketika saldo uang elektronik habis dan harus diisi ulang, pengguna dikenai biaya pengisian. Meskuipun biaya itu relatif kecil, sekitar Rp 2.000 – Rp 3.000 pertransaksi apabila dijumlahkan, dana yang masuk ke penyedia jasa isi ulang, cukup besar. Masyarakat pengguna uang elektronik menganggap, isi ulang merupakan bentuk layanan penyedia uang elektronik. Mengapa hal itu harus menjadi beban pengguna padahal penmgguna sudah memasukkan deposit yang pasti menguntungkan bank penerbit uang elektronik.