H.Aun Gunawan SE., Regenerasi Usaha Peternakan

30

H. Aun Gunawan SE., kelahiran Bandung 16 Oktober 1960, dan putra dari keluarga H. Aran Suparan (Alm) ini, kini menjabat sebagai Ketua Umum Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan, serta sebagai Komisaris PT ISAM dan pengurus GKSI.

Suami Yulis Artati ini, terpilih menjadi Ketua Umum KPBS Pangalengan sejak tahun 2005. Selama menjadi Ketua Umum KPBS, ia melakukan beberapa terobosan, antara lain, mengembangkan produk turunan susu, seperti susu pasteurisasi, keju, yoghurt dan ice cream.

Di samping itu, H.Aun juga melakukan pembenahan di bidang administrasi (perubahan AD/ART), serta penerapan sistem IT, yang dibantu oleh Dinas Koperasi Provinsi Jawa Barat.
Mengelola koperasi dilakukannya secara sukarela. Di KPBS, H. Aun mengadvokasi sekitar 3600 anggota (peternak sapi). “Orang tua saya peternak, dan secara turun temurun saya belajar dari pengalaman mereka saja. Saya juga banyak belajar dan mendengar dari siapa pun, termasuk dari staf,” paparnya mengenai pekerjaannya.

Ayah dari Drg. Alifia Priliani, dan Afghan Arif Arandi Spt., serta Amira Nur Hasanah ini, beberapa waktu lalu mendapat penghargaan Satya Lencana Wira Karya dari Presiden.  “Kalau sebagai peternak, saya akan terus menggeluti usaha peternakan, tetapi kalau sebagai pengurus, tergantung kepada anggota,” ucap H. Aun.

”Saat ini, minat menjadi peternak sangat kurang, terutama pada anak muda. Peternak yang ada saat ini, rata-rata usianya di atas 40 tahun. Kebetulan, anak saya yang laki-laki adalah Sarjana Peternakan, dan Insya Alloh dia mau meneruskan mengelola peternakan milik saya,” demikian penjelasan H.Aun.  Swasembada sulit tercapai. Dikemukakan pula oleh H. Aun Gunawan, saat ini, produksi susu rata-rata 80 ton / hari, dan selama dua tahun terakhir ini mengalami stagnasi di angka 80 ton. Populasi sapi juga sulit bertambah, hingga berdampak pada sulitnya peningkatan produksi. Pangale­ngan sebenarnya mampu memproduksi sampai 200 ton susu / hari.

Beberapa kendala yang masih dihadapi antara lain, pakan ternak hijau yang sangat terbatas, karena umumnya peternak di Indonesia, termasuk di Pangalengan, tidak punya ladang rumput, sehingga hanya mengandalkan rumput lapangan. Sedangkan untuk pakan konsentrat cukup tersedia secara memadai. Jumlah peternak aktif yang memiliki sapi sebanyak 3.400 orang, dengan jumlah populasi sapi mencapai 13.600 ekor. Harga susu di Pangale­ngan untuk kualitas terbaik adalah Rp 5.200 / liter. Susu dari hasil peternak KPBS, 80 % dijual ke PT. Ultra Jaya, Susu Bendera dan Indomilk. Sedangkan 20% sisanya digunakan untuk produksi sendiri menjadi susu pasteurisasi, yoghurt, keju, mentega, maupun ice cream.

Menurut H. Aun Gunawan, untuk mendongkrak produksi susu di Indonesia, baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya, diperlukan dukungan dari pemerintah, terutama dalam hal penyediaan lahan bagi pakan hijau.  Kalau dukungan dari pihak swasta cukup baik, seperti lembaga keuangan, karena prospek peternakan sapi perah cukup bisa diharapkan.

“Swasembada susu agak berat, dan masih butuh waktu panjang. Kebutuhan susu nasional baru terpenuhi 18 %, sisanya kita masih mengimpor dari negara produsen susu, seperti Selandia Baru. Kebutuhan susu nasional yang baru terpenuhi 18 % inilah, yang bisa menjadi prospek usaha bagi peternak sapi perah di masa depan,” ujar H. Aun belum lama ini kepada BB. (E-018)***