Orang Baduy Lebih Suka Menyebut Diri Urang Kanekes

39

Orang Kanekes atau orang Baduy merupakan kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan ”Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang suka berpindah-pindah tempat (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes sesuai dengan nama wilayah mereka.

Dari berbagai sumber data yang dihimpun BB , wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten,berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung.

Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45% merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah) dan tanah campuran (di bagian selatan). Suhu rata-rata 20°C. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Sunda (dialek Sunda–Banten). Orang Kanekes ”dalam” tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.

Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.

Pendapat mengenai asal-usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok serta cerita rakyat mengenai “Tatar Sunda’ yang minim keberadaannya.

Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor ). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat Pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda.
Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pe­dalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umum menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan.

Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugas khusus, tampaknya menjadi cikal bakal masyarakat Baduy yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng . Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan, bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditu­tup, mungkin untuk melindungi komunitas Baduy dari serangan musuh-musuh Pajajaran.

Van Tricht, seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan pada tahun 1928, menyangkal teori tersebut. Menurut dia, orang Baduy adalah penduduk asli daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat terhadap pe­ngaruh luar. Orang Baduy akan menolak jika dikatakan, bahwa mereka merupakan pelarian dari Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda. Menurut Danasasmita dan Djatisunda , orang Baduy merupakan penduduk setempat yang dijadikan ” mandala” (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama Hindu atau Budha.

Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan Jati Sunda atau ‘Sunda Asli’ atau Sunda Wiwitan (wiwitan = asli) Oleh karena itulah agama asli mereka diberi nama Sunda Wiwitan. Raja yang menjadikan wilayah Baduy sebagai ”mandala” adalah Rakeyan Darmasiksa. Ada versi lain mengenai sejarah suku Baduy, dimulai ketika Kian Santang putra Prabu Siliwangi sepulangnya dari Arabia setelah me­nganut agama Islam di tangan Sayyidina Ali. Sang putra ingin mengislamkan Sang Prabu beserta para pengikutnya.

Melalui ”wangsit siliwangi” yang diterima Sang Prabu, mereka berkeberatan masuk Islam, kemudian mereka menyebar ke penjuru tatar Sunda untuk tetap dalam keyakinannya. Sementara Prabu Siliwangi dikejar hingga ke daerah Lebak (Baduy sekarang) dan bersembunyi . Di daerah Baduy Sang Prabu berganti nama dengan gelar baru Prabu Kencana Wungu. Di Baduy ”dalam” Prabu Siliwangi bertahta de­ngan 40 pengikut setianya. (B-003/BBS) ***