Bentang Padang Rumput dan Binatang Buas Sensasi Menikmati Alam Liar TN Baluran

28

Ingin merasakan pengalaman berada di tengah alam liar ? Datanglah ke Taman Nasional Baluran di Situbondo, Jawa Timur. Taman Nasional seluas kurang lebih 25.000 hektar ini merupakan miniatur segala jenis hutan dan vegetasi Indonesia. Baluran mempunyai hutan musim, hutan hujan, mangrove, savannah (savana), pantai, gunung, sungai, bahkan terumbu karang. Baluran sangat mudah diakses. Berada sekitar 255 kilometer dari Kota Surabaya atau 35 km dari Banyuwangi, 60 km dari Situbondo dan 159 km dari Denpasar. Dalam satu hari, taman nasional ini bisa dikunjungi lebih dari 100 orang dan jumlahnya akan naik lima kali lipat pada hari libur.

Uniknya, sebagian besar pengunjungnya adalah wisatawan asing. Banyak yang bilang Sabana Taman Nasional Baluran adalah ”The Little Africa in Java.” Cukup beralasan, karena begitu memasuki kawasan sabana , seolah melihat Afrika, walau saya belum pernah menginjakkan kaki di Benua Hitam. Padang rumput yang luas menguning de­ngan beberapa pohon di pinggir dan di dalamnya. Sekelompok rusa berlari-lari di tengah sabana, suara lengusan banteng menggema begitu liar, dan tentu saja se­ngatan teriknya matahari yang panas. Benar-benar kontras dengan hutan-hutan lain di Indonesia. Sabana ini atau dikenal dengan nama Sabana Bekol berada 12 km dari pintu masuk Taman Nasional Baluran. Untuk mencapainya, saya menggunakan sepeda motor sewaan bersama dengan petugas taman nasional, menyusuri jalan aspal yang sudah terlihat batunya membelah hutan musim serta hutan evergreen.

Luas Sabana Bekol kurang lebih 300 hektar , di bagian utara berbatasan dengan jalan, sebelah barat berbatasan dengan hutan musim, sebelah timur berhadapan dengan pantai di Selat Bali. Satu-satunya akses jalan , membelah sabana ini menjadi dua , sebelah barat Sabana Bekol , sebelah timur Sabana Bama. Pohon-pohon Widoro Bukel dengan bentuk seperti payung banyak memenuhi Sabana Bama. Jika melihat sabana dari sisi timur, sebuah pemandangan mengagumkan, Gunung Baluran terlihat megah. Dari menara pandang, bisa melihat keseluruhan sabana dan Selat Bali yang membiru. Di kaki bukit terdapat beberapa bangunan berupa wisma penginapan, lahan parkir dan kamar mandi umum.

Mengunjungi Sabana Bekol, terbaik pada pagi dan sore hari , karena pada waktu-waktu ini, hewan-hewan liar keluar dari hutan. Saat kemarau, air di dalam hutan sudah mulai habis dan yang tersisa hanyalah di padang sabana. Malam hari juga memberikan sensasi pemandangan yang menakjubkan. Dari depan penginapan bisa terlihat sinar yang berasal dari mata hewan memenuhi kegelapan malam . Sabana Bekol hanya sebagian kecil dari 10.000 ha sabana yang dimiliki Baluran. Tetapi hanya Sabana Bekol dan Bama yang bisa diakses dengan mudah.

Sabana di Baluran merupakan tempat hidup rusa, banteng, kerbau, ular hijau, monyet ekor panjang, biawak, ajag (anjing hutan kecil), macan tutul dan lainnya. Jika kebetulan , kita bisa menyaksikan kawanan ajag tengah membantai rusa untuk dimakan , seperti melihat kehidupan hewan di pandang tandus Afrika yang ditayangkan di televisi. Pantai Bama merupakan ujung dari jalan akses yang membelah Baluran. Di balik lautnya yang tenang dan dangkal, Pantai Bama menyimpan keindahan alam bawah laut yang memesona. Konon merupakan yang terindah di Pulau Jawa. Dengan kondisi laut seperti ini, banyak aktivitas yang dilakukan pengunjung, seperti berenang, snorkelling, dan kano.

Untuk snorkelling, setidaknya kamu harus berenang sejauh 500 meter dari bibir pantai untuk mendapatkan pemandangan terumbu karang dan ikan-ikan kecil yang indah. Jelang matahari terbit , kita bisa melihat sunrise yang terkenal indah. Di Bama ada tiga rumah singgah yang masing-masing berisi dua kamar, cafeteria, kamar mandi umum, musholah dan rumah petugas taman nasional. Di dalam taman nasional , tepatnya di Bama terdapat cafeteria yang menghidangkan masakan Jawa, jam bukanya dari pukul 10.00-16.00 dan itu pun tidak setiap hari. Jadi jika menginap di dalam taman nasional, sebaiknya membawa bekal makanan sendiri.

Kuliner Osing
Ada makanan khas di sekitar Baluran yang layak untuk dicoba, yakni di Kota Banyuwangi dan Situbondo , makanan khas orang Osing (sebutan orang Banyuwangi) yang terkenal , rujak soto dan nasi tempong. Kedua makanan tersebut dihidangkan pada jam yang sama, untuk makan siang atau malam. Jadi jangan harap bisa menemukan penjual rujak soto dan nasi tempong pada pagi hari.

Rujak soto merupakan gabungan antara nasi putih, kuah soto, dan bumbu rujak. Rasanya sangat khas dan unik. Sementara nasi tempong seperti nasi lalapan pada umumnya. Hanya saja sambal dan sayurnya yang berbeda. Sayur nasi tempong berupa sayuran rebus, terdiri dari bayam, daun kenikir, dan kangkung ditambah irisan mentimun.
Sementara sambalnya, adalah sambal mentah yang terbuat dari ranti (sejenis tomat), cabai, dan terasi khas Banyuwangi yang terbuat dari ebi atau udang kering. Sementara lauknya bisa memilih tahu, tempe, ayam, atau ikan laut goreng. Sambalnya sa­ngat pedas .
Nama ”nasi tempong” diambil dari kata ”tempong” yang artinya dipukul atau ditampar. Ini dikarenakan kebanyakan orang yang makan nasi tempong wajahnya memerah sebab menahan pedas, seperti habis ditampar pipinya. Nasi tempong semakin nendang jika dimakan dengan kerupuk cumi khas Banyuwangi. Ada banyak penjual nasi tempong di Kota Banyuwangi.

Beda halnya kalau menginap di Situbondo, wajib mencoba meninkmati tajin palappa. Namanya berasal dari bahasa Madura, yang berarti bubur berbumbu. Merupakan bubur nasi gurih dengan topping kangkung, bayam, kembang turi, taoge, dan bakwan (kebanyakan orang Jawa Timur menyebutnya ote-ote, sementara orang Situbondo menyebutnya dengan hongkong), kemudian disiram dengan bumbu kacang (hanya orang Situbondo yang bisa membuat bumbu kacang selezat dan seunik bubur berbumbu ini).
Tidak seperti nasi tempong yang mudah ditemukan di Banyuwangi, tajin palappa hanya dijual di warung-warung kecil dalam gang sebagai menu sarapan.
(Akbar – penyuka traveling) ***