Industri Kreatif Sumbang Rp 784,82 Triliun Produk Domestik Bruto Nasional

37

BISNIS BANDUNG — Pakar Manajemen dan Bisnis Universitas Widyatama Bandung, Dr. Tezza Adriansyah Anwar, S.IP., MM mengemukakan, industri kreatif bisa disebut sebagai aktivitas ekonomi yang terkait dengan pengetahuan informasi.

Di Indonesia industri kreatif biasa disebut industri budaya atau ekonomi kreatif yang dimiliki oleh setiap individu yang membuka lapangan pekerjaan baru dan menciptakan kesejahtraan di daerah. ”Industri kreatif merupakan hasil dari kreativitas dan daya cipta setiap individu,” ujar Tezza.

Walau jauh tertinggal dibandingkan negara lain, berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraft) dan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014, industri mampu menyumbang Rp 784,82 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, tahun berikutnya menjadi Rp 852,24 triliun , tumbuh sebesar 4,38%. Data itu menunjukkan kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB nasional mencapai Rp 641,81 triliun (7,05%) dan menduduki peringkat ke tujuh dari 10 sektor kontributor PDB nasional. Kelima kelompok industri kreatif yang menjadi penyumbang PDB terbesar adalah kuliner 32,51%, mode atau fashion 28,29%, kerajinan 14,44%, penerbitan dan percetakan 8,11%, dan desain 3,9%.

Pada tahun 2013, terdapat 5,4 juta usaha kreatif yang mampu menyerap 11,8 juta tenaga kerja. Ekonomi kreatif juga mampu menyumbangkan devisa negara melalui ekspor sebesar US$ 3,2 miliar (5,8%). Lebih jauh Dikemukakan Tezza , peringkat daya saing global Indonesia dalam IMD World Competitiveness Centre 2017 mencatat kenaikan enam level ke posisi 42 dari tahun sebelumnya di urutan 48. Daya saing Indonesia memperoleh skor 71,116. “Tapi kenaikan ini belum mampu mendongkrak Indonesia dari posisi buncit dari 5 negara ASEAN (Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Indonesia).

Singapura tetap menempati posisi pertama sebagai negara dengan daya saing tertinggi dalam ASEAN dengan skor 99,488. Kemudian diikuti Malaysia dengan skor 83,53, Thailand dengan skor 80,095, dan di posisi ke empat Filipina dengan skor 71,798.
”Kurangnya ketersediaan dana serta prioritas untuk infrastruktur, prioritas yang tidak jelas, kepastian hukum yang tidak belum pasti, ditambah penegakan hukum kurang memadai, menjadikan peringkat Indonesia kalah dibandingkan dengan negara anggota ASEAN lainnya,” ungkap Tezza seraya menambahkan, masih tingginya korupsi dan kolusi serta besarnya ketimpangan distribusi kekayaan di Indonesia membuat peringkat daya saing Indonesia tidak bisa naik lebih jauh.

Sebenarnya , dukungan yang diberikan oleh pemerintah negara pesaing hampir sama dengan pemerintah kita. Namun perbedaannya adalah komitmen negara pesaing untuk memajukan industri kreatif dan konsistensinya. Permasalahan krusial yang dihadapi industri kreatif di Indonesia adalah permasalahan Badan Hukum dari pelaku industri kreatif dan Hak Kekayaan Intelektual yang akan berdampak pada komersialisasi dari produk/jasa yang akan dijual. Pemerintah dapat mendorong dan mempermudah serta membantu para pelaku industri kreatif pembentukan badan hukum dan kekayaan intelektual.

Fakultas Bisnis dan Manajemen Universitas Widyatama Bandung ini menyebut, data yang menunjukkan kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB nasional sebesar 7,05% atau Rp 641,81 triliun dalam perkembangannya belum optimal karena dua hal, yakni masalah badan hukum dan Hak Kekayaan Intelektual. ”Sayangnya di dalam negeri, penghargaan terhadap karya cipta, merek dan sejenisnya, belum terbina dengan baik. Pembajakan karya dan plagiat masih menjadi fenomena yang sering ditemukan. Pemerintah seharusnya memberi sanksi yang tegas dan berdaya sock teraphy, supaya industri kreatif berkembang. (E-018)***