Menyambut Musim Hujan

27

WARGA, terutama para petani bersorak sorai. Mereka tampak bergembira, ketika Jumat 30 September 2017, turun hujan di beberapa daerah. Cukup lama masyarakat menderita akibat kekeringan. Musim kemarau yang cukup panjang tahun ini, berakibat debit air di saluran irigasi, bendungan, embung, dan sumur warga, tak berair sama sekali. Sawah yang sedianya akan ditanami padi, harus urung karena tidak ada pasokan air. Warga yang memerlukan air bersih untuk kepentingan rumah tangganya, harus rela berjalan berkilo-kilometer menuju kubangan. Mereka terpaksa menggunakan air kotor dari selokan pembuangan untuk keperluan rumah tangganya.

Pemerintah kota/kabupaten harus mengerahkan bantuan tengki air bersih dan membagikannya kepada warga. Antrean panjang berupa jerigen, kompan, atau ember, di tempat distribusi air, menjadi pemandangan biasa pada setiap musim kemarau. Minggu lalu, hujan turun hampir merata di wilayah Jawa Barat namun intensitas dan kederasannya berbeda-beda. Masyarakat yakin, hujan pada akhir September itu merupakan awal musim hujan.

Sebagian orang menyambut datangnya musim hujan dengan sukaria. Sebaliknya, ada pula yang beranggapan, datangmya musim penghujan meruapakan awal datangnya bencana. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, seperti banjir dan longsor, datangnya musim hujan  membuat mereka was-was. Mereka butuh air untuk keperluan hidup sehari-hari dan untuk pertanian. Namun mereka  mulai dihinggapi rasa takut, kalau-kalau musibah tahunan juga akan segera menimpa mereka.

Badan Meteorogi, Klimatologi, dan Geofisika (MKG)  sejak awal sudah mengimbau agar masyarakat di daerah bencana bersiap-siap menghadapi musim hujan.Benar saja, hujan pertama turun di Jawa Barat sudah membawa musibah. Kabupten Bandung meskipun hanya sekilas, mengalami banjir. Kampung Andir. Dayeuhkolot, Cigebar dan Cijagra, sebagai daerah pelanggan banjir,mulai terserang banjir. Bencana longsor terjadi  di daerah Tasikmalaya, Cianjur, Pangandaran,  dan Sukabumi. Musibah longsor yang paling parah terjadi di Kecamatan Takokak Kabupaten Cianjur. Pergeseran tanah yang dipacu hujan awal Oktober, Selasa, kemarin, mengakibatkan 138 buah rumah hancur, 103 rusak berat, 139 rusak ringan. Longsor juga menyeret 32 masjid/musola,  dan 3 bangunan sekolah. Musibah akibat hujan deras di Cianjur itu  menimbulkan kerugian sekira Rp68 miliar.