Pikukuh Dianut Orang Baduy, Sebuah Kepatuhan Mutlak dalam Kehidupan

22

Orang Baduy yang lebih suka disebut urang Kanekes (BB Edisi 341). Kepercayaan yang dianut orang Baduy adalah Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangannya dipengaruhi oleh agama Budha, Hindu, dan Islam. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari.

Isi dari pikukuh (kepatuhan) adalah konsep ”tanpa perubahan apapun” dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harafiah. Di bidang pertanian, bentuk pikukuh tersebut dengan tidak mengubah kontur lahan bagi ladang, sehingga cara berladang pun sangat sederhana, tidak mengolah lahan dengan bajak, tidak membuat terasering, hanya menanam dengan tugal (bambu yang ujungnya diruncingkan). Pada pembangunan rumah, juga kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya, sehingga tiang penyangga rumah Kanekes seringkali tidak sama panjang. Tutur kata dan tindakan mereka pun jujur, polos, tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar.

Objek kepercayaan terpenting bagi warga masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, lokasinya dirahasiakan dan dianggap sakral. Orang Kanekes me­ngunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali (waktunya ditentukan mereka ). Pelaku pemujaan hanya ketua adat dan beberapa warga yang terpilih ikut rombongan pemujaan . Di komplek Arca Domas , konon terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan.
Apabila pada saat pemujaan, batu lumpang tersebut dipenuhi air yang jernih, maka bagi masyarakat Kanekes, air tersebut merupakan pertanda hujan akan banyak turun, panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, merupakan pertanda kegagalan panen .

Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu tangtu, panamping, dan dangka. Kelompok tangtu merupakan kelompok yang dikenal sebagai Baduy Dalam yang paling ketat mengikuti adat, tinggal di tiga, kampung Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Ciri khas orang Baduy Dalam berpakaian warna putih dan biru tua serta memakai ikat kepala putih. Kelompok panamping dikenal sebagai Baduy Luar, tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam, seperti Cikadu Katug, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lainnya.

Masyarakat Baduy Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam. Apabila Baduy Dalam dan Baduy Luar tinggal di wilayah Kanekes, Baduy Dangka tinggal di luar wilayah Kanekes, yakni di kampung Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yakni sistem nasional, yang mengikuti aturan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya mereka. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa, sehingga tidak terjadi perbenturan.

Pimpinan Tertinggi
Secara nasional penduduk Kanekes dipimpin oleh Kepala Desa yang disebut sebagai Jaro Pamarentah, dalam struktur pemerintah berada di bawah Camat, sedangkan secara adat pimpinan tertinggi adalah puun yang ada di kampung tangtu. Jabatan ini turun-temurun, tidak otomatis dari bapak ke anak, namun dapat ke kerabat . Jangka waktu jabatan puun tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut.

Pelaksana sehari-hari pemerintahan adat kapuunan dilaksanakan oleh jaro yang dibagi ke dalam empat jabatan, yakni jaro tangtu, jaro dangka, jaro tanggungan, dan jaro pamarentah. Jaro tangtu bertanggung jawab pada pelaksanaan hukum adat pada warga tangtu dan berbagai macam urusan lainnya. Jaro dangka bertugas menjaga, mengurus, dan memelihara tanah titipan leluhur yang ada di dalam dan luar Kanekes.

Jaro dangka jumlahnya 9 orang, dan apabila ditambah dengan 3 orang jaro tangtu disebut jaro duabelas. Pimpinan dari jaro duabelas ini disebut sebagai jaro tanggungan. Tugas jaro pamarentah secara adat bertugas sebagai penghubung antara masyarakat adat Kanekes dengan pemerintah nasional, yang dalam tugasnya dibantu oleh pangiwa, carik, dan kokolot lembur atau tetua kampung.

Mata pencaharian
Mata pencaharian yang telah berlangsung selama ratusan tahun, adalah bertani padi huma. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan hasil menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan.

Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba ke Kesultanan Banten . Sampai sekarang, upacara seba masih dilaksanakan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepadan Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat) melalui bupati Kabupaten Lebak. Di bidang pertanian, penduduk Baduy Luar berinteraksi erat dengan masyarakat luar, misalnya dalam sewa menyewa tanah, dan tenaga buruh.

Perdagangan pada waktu lampau dilakukan secara barter, namun sekarang telah mempergunakan uang rupiah . Mereka membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar yang terletak di luar wilayah Kanekes, antara lain pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger. Orang luar yang mengunjungi wilayah Kanekes, kini meningkat , umumnya adalah pelajar, mahasiswa, dan pengunjung masyarakat umum. Warga Baduy menerima para pengunjung untuk menginap satu malam, de­ngan ketentuan harus menaati adat-istiadat yang berlaku di sana.

Aturan tersebut , antara lain tidak boleh berfoto di wilayah Baduy Dalam, tidak menggunakan sabun atau odol di sungai. Wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk, sejauh ini selalu ditolak masuk. Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, orang Baduy juga senang berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan berjalan kaki dalam rombongan kecil , antara 3 sampai 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Baduy sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. (B -003/BBS) ***