Sosok Penggila Fosil dari Waled Cirebon Rela Keluar sebagai PNS

21

Kira-kira bagaimana kami bisa menjadi seperti bapak ? Tanya seorang peserta dalam sebuah acara sarasehan, beberapa waktu lalu di Cirebon. Dengan lugas Thamrin menjawab, ada lima hal ! Yakni, mau jadi orang miskin, siap dicelakai orang lain, rela ditipu, rela dipenjara serta siap mati Raut mukanya tegas dengan tatapan mata tajam, menandakan ia bersungguh-sungguh mengucapkan lima perkara tersebut. Lima poin tersebut sebenarnya intisari dari perjalanan panjang sosok Thamrin, sejak 1972 ia mulai aktif mengumpulkan fosil, arko-artefak, benda budaya kuno hingga barang antik.

Kakek yang menginjak usia 71 tahun ini tampil eksentrik, selalu mengumbar senyum, namun di balik itu dirinya berkepribadian tegas dan memiliki integritas.

Demi kecintaanya mengumpulkan fosil, ia rela meninggalkan pekerjaanya sebagai pegawai negeri, sebagai Kepala Puskesmas di Sindang Laut, Cirebon.

Selama menjadi pegawai kesehatan, saat berkunjung ke pelosok daerah, ia selalu menyempatkan mencari fosil, baik yang ter­singkap di sungai, atau hanya sekedar mencari informasi dari warga.

Modus seperti itu yang ia lakukan di awal kariernya mengumpulkan benda purba . Hingga awal tahun 80-an ia memutuskan total terjun sebagai pengumpul fosil. Sesuai anjuran dari bapaknya, ia harus keluar dari pegawai negeri.

Godaan demi godaan ia terima, bahkan suatu malam pernah didatangi seorang pengu- saha menawarkan mobil baru, untuk ditukar dengan fosil temuannya. Keteguhan meng- antarkannya ke pengalaman suka dan duka hingga pernah dipenjara. Selain itu ia pun pernah dikecewakan oleh beberapa pengusaha yang ingin membeli. Setelah barang diantar, tidak ada pembayaran.

Thamrin lahir dan besar di Sindang Laut, 6 September 1951. Menamatkan Sekolah Dasar di Sindang Laut, melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas di Karangsuwung. Selepas SMA , melanjutkan di Akademi Kesehatan. Awal tahun 80-an ia mulai serius berburu fosil secara sistematis, tetapi belum bisa memaknai temuannya.

Yang dicari lebih ke bentuk, keindahan dan menarik perhatian, selebihnya mencari batu Susaeki yang mudah dijual untuk menghidupi keluarganya. Lokasi pencarian , mulai dari daerah Palimanan, Sumber, Waled Kab. Cirebon, hingga wilayah Kab.Kuningan serta di perbatasan wilayah Brebes Jateng, Daerah pencarian fosil ini oleh Thamrin disebut wilayah Cibening ( Cirebon-Brebes-Kuningan).

Tahun 1974, Thamrin menemukan fosil kerbau purba yang masih utuh, di bukit Conbera, Cirebon yang menjadi bagian koleksi Museum di Jawa Barat, namun fosil tersebut kini hilang. Beberapa koleksinya tersebar di sejumlah tempat, termasuk di museum kecil di Kecamatan Waled serta di beberapa kolektor dan di museum Pangeran Cakrabuana, Sumber Cirebon yang diresmikan 2 April 2014 lalu.

Kini koleksi Thamrin diperkirakan jumlahnya mencapai ribuan , seperti di antaranya batu susaeki, fosil vertebrata, moluska, benda arkeologi hingga benda budaya. Karena tidak memiliki lahan yang cukup, ia mengubur sebagain temuannya yang kelak akan digali bila sudah memiliki tempat yang cukup luas. M. Thamrin tampaknya tidak akan puas, selalu ”gila” yang ia artikan ”Gemar Belajar Ilmu Alam”. Semakin banyak yang menyangka ia gila. Ia semakin kuat untuk mencari fosil di umurnya yang 71 tahun.
(Deny Sugandi/Fotografer Kebumian) ***