Simalakama itu Bernama Petasan

291

PABRIK petasan di Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten, meledak. Api yang melalap hampir sluruh bangunan pabrik itu, menewaskan 48 orang dan melukai 43 orang. Dampak peristiwa itu menimbulkan duka yang mendalam bagi keluarga korban. Pemilik dan penanggung jawab perusahaan itu terkena hukuman. Bukan hanya itu, ledakan dahsyat, beberapa hari lalu tersebut, berdampak pula bagi usaha petasan rumahan di Indramayu.

Keposian Resor Indramayu  melakukan penggerebekan di sebuah pabrik petasan di Telukagung, Indramayu. Polisi menyita empat juta petasan siap edar dari pabrik milik SK (40). Dari dalam pabrik di Blok Bojongloro, Desa Telukagung, Kecamatan Kota Indramayu itu, polisi menyita pula 4 ton sulfur, 500 kg potasium, dan 240 kg bubuk alumunium. Polisi juga menahan pemilik pabrik yang diduga sebagai penyimpan dan produsen petasan tanpa izin.

Razia dan penyitaan petasan di Indrayau itu bukan yang pertama kali dilakukan. Menurut Kapolrers Ibdramayu, AKBP Arif Fajarudin, setahun terakhir, polisi menyita tujuh juta petasan korek api yang akan dikirim ke Jakarta dan Lampung. Terungkap pula 20 kasus pembuatan petasan illegal dan menahan lima orang yang diduga membawa 30 juta petasan ke luar Indramayu. ’Razia petasan ini akan kami lakukan terus,” kata Arif kepada awak media. Tindakan itu dilakukan agar peristiwa Tangerang tidak terjadi di Indramayu.

Pabrik petasan di Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten itu terhitunmg masih baru. Dilihat dari izin usaha, pabrik itu baru beropersi sekira empat bulan lalu. Selain memproduksi, pabrik itu juga melakukan pengemasan dan pendistribusian. Pemasarannya, kebanyakan daerah Jakarta dan Lampung. Secara tradisi, masyarakat Jakarta dan sebagian Lampung sangat menggemari petasan Hampir di setiap kenduri, baik khitanan maupun pernikahan, diwarnai dengan penyulutan petasan berantai. Apalagi ketika menyambut Hari Raya Lebaran dan Tahun Baru. Sedangkan pembuatan petasan di Indramayu sudah merupakan bagian dari mata pencaharian rakyat banyak.