Difasilitasi Baznas Sumedang Penyandang Disabilitas Mengikuti Pelatihan Menjahit

14
Sejumlah warga pedalaman mengikuti pelatihan menjahit di Desa Matang Kuli, Aceh Utara, Provinsi Aceh. Senin (1/12). Pembinaan dan pelatihan menjahit tingkat dasar bagi remaja pedalaman untuk membuka lapangan kerja mandiri melalui Lembaga Pengembangan Bisnis Wanita Mandiri sebagai realisasi program Corporate social responsibility (CSR ) Exxon Mobil di Aceh. ANTARA FOTO/Rahmad/ed/ama/14

BISNIS BANDUNG – Setiap perusahaan wajib mempekerjakan penyandang disabilitas 1% dari total jumlah karyawan di perusahaan tersebut yang mengacu pada UU Nomor 19/2011 dan UU Nomor 8/2016.

Sebagai upaya untuk menyiapkan penyandang disabilitas bersaing di dunia kerja, Aliansi Perempuan Disabilitas dan Lansia (APDL) Sumedang bekerjasama dengan Disnakertrans Sumedang dan difasilitasi Baznas Sumedang melakukan pelatihan menjahit.

“Selama ini kami gencar melakukan sosialisasi dengan perusahaan. Karena itu sudah jelas di undang-undang tentang penyandang disabilitas. Itu sudah mencakup seluruhnya tentang hak-hak penyandang disabilitas untuk mendapat pekerjaan. Di dalamnya juga disebutkan bahwa perusahan wajib mempekerjakan tenaga kerja disabilitas 1%,” ujar Ketua APDL Sumedang Sri Agustina di BLK (Balai Latihan Kerja) Kabupaten Sumedang, baru-baru ini.

Pelatihan menjahit , ujar Sri, bertujuan untuk memupuk sema­ngat para penyandang disabilitas agar bisa hidup mandiri, berwirausaha dan kerja di beberapa perusahaan yang telah bekerjasama dengan Yayasan APDL.

“Alhamdulillah, segalanya difasilitasi oleh Baznas Sumedang. Termasuk uang transportasi peserta, uang saku, penginapan dan lain-lain , karena acara ini berlangsung selama dua hari.
Tentunya, peran Baznas Sumedang ini luar biasa. Untuk tingkat nasional, Baznas Sumedang sangat luar biasa perannya ,” tutur Sri.

Kepala UPTD Balai Pelatihan Kerja Kabupaten Sumedang, Irma Dewi Agustin menyebutkan jika pelatihan menjahit yang dilakukan APDL dan Baznas Sumedang di apresiasi Pemkab Sumedang.

“Pihak dinas mengapresiasi pelatihan menjahit yang diadakan Baznas dan APDL. Ini merupakan hal yang sangat baik , SDM di Sumedang itu banyak. Namun dari segi keahlian sangat minim. Mudah-mudahan dengan kegiatan ini, mereka (penyandang disabilitas) bisa meraih sukses,” ucapnya.

Pihaknya, kata Irma, berharap akan ada kerjasama lagi untuk pelatihan menjahit di BLK. Sebab, tiap tahun ada dana pemerintah untuk pelatihan bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Dan penyandang disabilitas mudah-mudahan bisa ikuti serta pelatihan di BLK,”ujar Irma.
Peserta penderita autis asal Citangkalak, Desa Sukahayu, Kecamatan Rancakalong, Sidik Permana (11 th) mengaku senang mengikuti pelatihan yang dislenggarakan ADDL.”Saya senang sekali bisa ikut latihan menjahit,” ucapnya.

Peserta lain, Agustin Nurin Haryanti (21 th), warga Perum Kelapa Gading, Desa Padasuka, Kecamatan Sumedang Utara mengaku, sangat antusias mengikuti pelatihan menjahit karena berkeinginan untuk terampil dalam menjahit.

“Saya ingin bisa menjahit seperti mamah. Biar bisa membantu mamah ,” akunya.
Sementara, Ketua Baznas Sumedang H Ali Badjri menga- takan, kegiatan pelatihan menjahit bagi penyandang disabilitas merupakan program Baznas Sumedang sebagai upaya memberdayakan umat.

“Tujuannya membantu para penyandang disabilitas agar mampu berdikari, mampu bersaing di dunia kerja, dan jadi motor penggerak ekonomi keluarga, sehingga mampu meningkatkan taraf kesejahteraan penyandang disabilitas khususnya, umumnya masyarakat Sumedang ,” tambah Ali. (E010) ***