Film Investment Forum Jembatani Pendanaan Film

25

BADAN Ekonomi Kreatif (Bekraf) berusaha tingkatkan akses pendanaan sub sektor film dengan menyelenggarakan Film Investment Forum. Bekraf mempertemukan para pemilik modal untuk membangun dan mengembangkan industri film khususnya layar lebar baik dari sisi peluang investasi, produksi, sumber daya, pemasaran, distribusi maupun teknologi pada forum ini.

Film Investment Forum merupakan rangkaian kegiatan Akatara yang akan dilaksanakan pada tanggal 15 dan 16 November 2017. Film Investment Forum ini bisa digunakan untuk mengurangi risiko berinvestasi pada sub sektor film, meningkatkan laba, dan memelihara output untuk mendukung infrastruktur distribusi film.

“Di Amerika, kebanyakan studio Hollywood menggunakan film financing sebagai cara yang efektif mengurangi risiko dan meningkatkan laba perusahaan maupun studio film. Kami berharap, Film Investment Forum ini bisa menjadi solusi para pemilik modal dan investor yang tertarik menyalurkan pendanaan bagi perfilman Indonesia,“ ucap Deputi Akses Permodalan Bekraf, Fadjar Hutomo dalam keterangan pers, Senin (6/11).

Setidaknya pelaku usaha ekonomi kreatif bisa menyumbang pendapatan hingga Rp 1.000 triliun ke pertumbuhan ekonomi nasional. Dari data Bekraf, sektor film hanya menyumbang 0,16% saja untuk pertumbuhan ekonomi. Padahal lebih dari 10 film lokal ditonton lebih dari satu juta penonton di Indonesia. Untuk itu, Bekraf berharap ada inisiasi pendanaan untuk para pelaku film.

Andi Boediman, Managing Partner dari Ideosource Venture Capital berpendapat, produksi film Indonesia terfokus pada anggaran produksi dan beberapa produsen mengalokasikan anggaran yang lebih sedikit untuk pemasaran. “Di sinilah pembuat film akan mendapatkan dukungan investasi, karena sejumlah anggaran akan dialokasikan untuk pemasaran selain untuk produksi,” kata Andi Boediman.

Peserta yang hadir pada forum ini antara lain Ideosource, Aurora Media, Laughing Elephant, MOX, 13 Entertainment, HOOQ, Legacy Pictures, Mizan Publika, Loket.com, Kumparan, Emera Capital, APROFI, Badan Perfilman Indonesia (BPI), Kravtd, Sarana Jakarta Ventura, AMVESINDO dan para pembuat film. (C-003/bbs)***