Mengolah Limbah Kayu Jadi Produk Bermutu

25

DI tangan Mario Benet, pemuda asal Malang, limbah kayu disulap menjadi berbagai produk furnitur, dekorasi interior dan kacamata kayu. Ia merintis bisnisnya, Rojo Keling sejak tiga tahun lalu.

Saat merintis bisnisnya, Benet baru saja keluar lapas. “Ketika di lapas, saya dan teman-teman memproduksi miniatur kapal dari limbah kayu jati dan sonokeling. Hasilnya lumayan, begitu keluar saya sudah punya modal usaha,” kenangnya.

Berbekal ilmu dan keterampilan itu, Benet langsung mendirikan usaha olahan limbah kayu. Namun, tak lagi membuat miniatur kapal, ia merambah furnitur custom, seperti lemari, meja dan kursi. “Miniatur kapal agak susah kalau dikembangkan karena pasarnya terbatas di kalangan kolektor,” tuturnya.

Selain itu, Rojo Keling juga menggarap desain interior dari limbah kayu pallet serta kacamata dari limbah kayu jati dan sonokeling. Penggunaan limbah kayu memang berbeda jenisnya, disesuaikan dengan karakter produk.

Menurut Benet, tantangan dalam membuat furnitur dari limbah kayu pallet adalah adanya ukuran yang berbeda-beda dan bekas paku.  Maka, saat pengerjaan harus pandai menyesuaikan kondisi limbah kayu tersebut. Perbedaan ukuran bahan baku itulah yang membuat hasil akhirnya juga berbeda bentuk dan ukuran. “Tiap produk yang kami buat, ukuran, model dan bentuknya pasti beda. Ada kekhasan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Satu set meja kursi buatan Rojo Keling dibanderol antara Rp 600.000–Rp 1,8 juta. Lemari berkisar Rp 1,5 juta–Rp 2,5 juta per set. Sedangkan, harga kacamata kayu lebih dari Rp 500.000 per buah.

Dalam sebulan, Benet mengaku, bisa mengantongi omzet hingga puluhan juta rupiah. Tak jarang, Rojo Keling juga mendapat pesanan borongan dari sejumlah kafe, warung maupun tempat nongkrong lainnya.

“Kalau pekerjaan borongan itu biasanya kami yang garap semua, mulai set meja kursi, lemari sampai interior. Lama pengerjaannya sekitar sebulan,” ujar Benet.  Sedangkan untuk produk furnitur lain, jika pesannya satuan, lama pengerjaannya sekitar seminggu sampai tiga minggu.

Saat ini, Benet memiliki sembilan pekerja yang berasal dari anak jalanan, mantan pengguna narkoba dan mantan narapidana. Dua karyawan khusus untuk menggarap pesanan kacamata, sedangkan tujuh lainnya menggarap produk lain.

“Kadang pengerjaan kacamata kami juga dibantu oleh Yayasan Sadar Hati yang bekerjasama dengan kami,” kata Benet. Selain menjalankan bisnis, pria 35 tahun ini  juga memberikan pelatihan keterampilan mengolah kayu. Dia pun berharap, kaum yang dianggap marjinal bisa berkembang dan punya kehidupan yang lebih baik, seperti yang dia alami. (C-003/KNTN)***