Tim SAR Masih Kesulitan Cari Nenek Titing

25

Lebatnya vegetasi tumbuhan dan banyaknya lembah curam di kawasan hutan cikole, cibeusi, dan puncak erad, kabupaten Bandung Barat serta kabupaten Subang, dinilai komunutas pecinta alam cukup menyulitkan proses pencarian mak Titing, yang hilang saat mengikuti gerak jalan bersama warga. Memasuki hari kesepuluh, relawan dari komunitas para pecinta alam di bandung raya dan warga, kian berdatangan untuk membantu proses pencarian.

Di lokasi inilah Raden Titing Widianingsih atau yang biasa disapa mak Titing, nenek berusia 75 tahun, mulai berpisah dengan rombongan, saat mengikuti gerak jalan di kawasan hutan Cikole, kecamatan Lembang, kabupaten Bandung Barat, 31 Oktober lalu.

Saat itu, mak Titing memilih berangkat lebih dulu. Saat seorang dari rombongan mencoba mengejarnya, mak Titing justru berjalan menuju arah berbeda dari rute rombongan, di sebuah jalan yang bercabang. Hal itu diketahui, saat orang tersebut, memilih kembali bergabung dengan rombongan, setelah ditolak menemani mak Titing. Sejak saat itu, mak titing belum ditemukan.

Memasuki hari kesepuluh, sejumlah relawan dari komunitas para pecinta alam dan warga, berdatangan ke tenda posko di bumi perkemahan Cikole Lembang, untuk membantu proses pencarian. lebatnya vegetasi tumbuhan di kawasan hutan Cikole, cibeusi, dan puncak erad, serta banyaknya lembah yang cukup curam, diakui tim sar menyulitkan pencarian. Sementara itu, penyisiran di sekitar jejak temuan berupa topi dan sisa makanan sang nenek, hampir seluruhnya sudah dilakukan., namun, tim SAR gabungan belum juga menemukan jejak baru mak Titing.

Pencarian mak Titing diperpanjang hingga 14 November. Kali ini, kordinator pencarian dipegang komunitas pecinta alam wanadri, dari sebelumnya di bawah komando Basarnas Jabar. Hingga saat ini, jumlah relawan yang membantu pencarian terus bertambah, seperti dari komunitas pecinta alam Unjani, Unpad, Unpas, PGPI, dan lainnya, beserta ratusan warga.

Algi Muhammad Gifari, BandungTV.