Catatan Tercecer dari Kathmandu : Mengunjungi Istana Hanuman Dhoka Dibangun Sankharadev Tahun 1069 – 1083 Masehi

11

Bersama beberapa sahabat merencanakan melakukan perjalanan menuju salah satu destinasi impian kami ke Nepal , yakni ke salah satu puncak pegunungan Himalaya. Tapi kurangnya persiapan dan perizinan trekking yang tidak sempat diurus serta keterbatasan waktu yang kami miliki, akhirnya kami putuskan hanya mengunjungi lembah Kathmandu dan kota-kota di sekitarnya saja. Saat menjejakkan kaki di Bandara Internasional Tribuvhan Kathmandu, ingatan saya melayang kembali ke masa kanak-kanak sewaktu ayah dan ibu sering mengajak kami anak-anaknya bertamasya ke luar kota.

Pada masa itu, bandara dan beberapa hotel yang sempat kami kunjungi bernuansa persis seperti Bandara Internasional Tribuvhan Kathmandu, sedikit old school mungkin kalau istilah tren nya sekarang. Setiap sudut bandara dihiasi oleh dinĀ­ding bata merah, ukiran-ukiran kayu, interiornya masih bergaya tahun 80-an. Tidak lama setelah meninggalkan bandara, suasana hiruk pikuk Kota Kathmandu langsung menyambut kami. Kemacetan lalu lintas, padatnya lalu – lalang penduduk dan debu tebal yang menghiasi setiap bangunan dan jalanan menjadi pemandangan yang lazim ditemui di kota ini.

Ada yang unik dari suasana jalanan di Kathmandu, selama beberapa hari berada di kota itu , jarang sekali kami temui lampu pengatur lalu lintas, semua kegiatan berlalu lintas termasuk di perempatan jalan, diatur oleh seorang polisi. Lucunya, walaupun klakson terdengar bersahut-sahutan dari mobil dan motor, tapi tidak tampak raut marah atau emosi dari para pengendara maupun pejalan kaki . Meski terlihat banyak pelanggaran yang terjadi, termasuk dilakukan oleh Rham, pemuda lokal yang setia menemani perjalanan kami selama di Nepal. Cukup hanya teguran saja yang diberikan polisi kepada Rham dan pengemudi lainnya yang melakukan pelanggaran serupa.

Ya, tampak semrawut memang tapi justru hal inilah yang membuat kami menikmati sekali perjalanan ke Kathmandu, kota seribu kuil. Kathmandu adalah kota terbesar sekaligus ibukota dari Republik Demokratik Nepal. Tempat kelahiran Sidharta Gautama Nepal merupakan sebuah negara kecil di Asia Selatan yang diapit oleh dua negara , India dan Tiongkok. Sebagai negara tempat kelahiran sang Budha Sidharta Gautama, mayoritas penduduk Nepal memeluk agama Hindu dan Budha.

Negeri yang berada di kawasan pegunungan Himalaya dan dikelilingi oleh beberapa pegunungan tertinggi di dunia menjadikan Nepal sebagai “officially highest country on earth” atau negeri tertinggi di muka bumi dan menjadikan Nepal sebagai salah satu negara yang paling banyak dikunjungi wisatawan terutama para pecinta petualangan. Kami juga mengunjungi Kathmandu Durbar Square atau Alun-alun Kota Kathmandu . Menurut catatan sejarah, Kathmandu Durbar Square telah ada sejak abad ke-3 Masehi . Sedangkan kompleks istana di area Durbar Square atau disebut istana Hanuman Dhoka didirikan pada era Sankharadev tahun 1069 – 1083 Masehi.

Masih di sekitar kompleks Kathmandu Durbar Square terdapat pula beberapa kuil Hindu yang dibangun pada tahun 1500-an oleh Raja Ratna Malla yang saat itu tengah berkuasa. Komplek Istana Raja ini menjadi tempat tinggal resmi keluarga kerajaan sampai abad 19 dan juga menjadi tempat penobatan raja – raja Nepal.

Di bagian selatan kompleks Kathmandu Durbar Square terdapat satu bangunan yang disebut Kumari Ghar, tempat tinggal sang Raj Kumari, yaitu seorang gadis yang telah melewati seleksi mistis dan ketat, dipercaya sebagai titisan dari Dewi Hindu Durga. Selain banyak dikunjungi pemuja yang meminta restunya pada hari-hari biasa . Sang Dewi akan menampakkan dirinya pada perayaan dan festival keagamaan terutama pada perayaan tahunan terbesar di Nepal, yaitu festival Indra Jatra. (Diah Sugandi) ***