Bandung Selatan di Waktu Banjir

263
  • Bandung Selatandi waktu malam
  • Berselubung sutera putih

KETIKA  kita mendengar lagu ”Bandung Selatan” karya Ismail Marzuki itu, dalam imajinasi kita terhampar dataran yang amat indah memesona. Apalagi pada waktu malam.  Ismail Marzuki yang pernah tinggal di Lamajang, Dayeuhkolot itu, begitu mengagumi daerahnya. Ia mampu melukiskan panorama itu melalui kata dan nada.

Beruntung seniman besar itu telah lama dipanggil Illahi sehingga ia tidak dapat menyaksikan Bandung Selatan sekarang. Ismail Marzuki tidak sempat melihat Citarum  yang selalu meluap-luap pada waktu musim penghujan. Berair hitam legam ketika musim kemarau. Ia tidak menjadi korban banjir yang harus mengungsi ke tempat-tempat penampungan darurat. Ia tidak sempat memantau ketika kota lama atau Dayeuhkolot sangat semerawut ketika musim kemarau dan menjadi lautan ketika musim hujan, laiknya Danau Bandung masa purba.

Bandung Selatan tidak pernah lagi berselubung sutra putih. Selimut tebal berupa embun malam yang putih bak sutera itu tersibak sudah. Tercabik-cabik, kusam dan lusuh. Leuwi Balem, Leuwi Bandung, dan beberapa lubuk lagi yang dulu sarat ikan, tempat para menak marak dan lintar, sekarang tidak ada lagi. Jangan harap mendapat ikan ketika kita memancing di Citarum. Kail kita akan mengait sampah plastik, sepatu butut, bahkan  bantal atau kasur rombeng. Tidak ada jenis ikan yang sanggup hidup di perairan penuh limbah beracun seperti itu.