Di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara Tersimpan Benda dan Kekayaan Sejarah Budaya

545

Selain mengunjungi tempat wisata di Pulau Jawa , Mandalawangi beberapa waktu lalu   mengunjungi kawasan Provinsi Sulawesi Tenggara. Kami penasaran dengan sejarah  provinsi ini,salah satu di antaranya  dengan mengunjungi museum yang terdapat di daerah tersebut.  Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara yang dibangun antara tahun 1978-1979 dalam wadah proyek pembinaan permuseuman yang dikelola bidang PSK (Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan)  Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara.

Pada 1991 Museum Sulwesi Tenggara resmi menjadi Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara yang merupakan UPTD Direktorat Jendreral Kebudayaan dengan SK Mendikbud No. 001/0/ 1991 tanggal 9 Januari 1991.

Seiring dengan UU otonomi daerah,  Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara, dilimpahkan ke daerah , berdasar Surat Keputusan Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara Nomor 425 Tahun 2001, Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi UPTD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara, Tahun 2009 berpindah menjadi UPTD Dinas Pendidikan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara.

Museum ini terletak di Jalan Abunawas No. 191 Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara. Museum berdiri di atas lahan seluas 1,85 hektar dengan luas bangunan 3.170 m² , memiliki gedung pameran tetap, gedung pameran temporer, laboratorium, gedung administrasi, tempat koleksi rumah perahu suku Bajo, tempat koleksi mobil, tempat koleksi ikan paus, gedung kuratorial, tempat penampungan air, gedung penyimpanan koleksi (storage), dan koleksi rumah adat suku Tolaki, toilet serta taman yang luas.Gedung pameran tetap berada di bagian sudut kiri arah selatan.

Gedung tersebut memiliki luas bangunan 900 m². Bentuk bangunan pameran tetap menggunakan arsitektur tradisional yang dikombinasikan dengan arsitektur modern. Arsitektur tradisional mengacu pada salah satu rumah ada Sulawesi Tenggara, yaitu rumah adat suku Buton (Kamali/Malige).

Koleksi Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara dipamerkan dalam gedung  dua lantai. Lantai satu terdiri atas ruang pamer koleksi geologi, biologi dan teknologi. Di lantai dua terdapat ruang penyajian informasi koleksi etnografi, arkeologi, histori, numismatik, filologi, keramik, dan kesenian.

Koleksi Geologi

Koleksi geologi yang dipamerkan , antara lain berbagai jenis batu alam yang ada di Sulawesi Tenggara, seperti batu silica, marmer, batu gabro dan batu onix, maket PT. Aneka Tambang dan hasil tambang yang ada di Pomalaa seperti batu nikel, pellet, elektroda pasta, fero silicon, batu bara, fero nikel skot (butiran) dan fero nikel ingot (batangan). Selain itu, ada juga koleksi berupa bahan baku aspal, pasir yang mengandung aspal seperti butimen, aspal mikro, modifair dan lasbutak yang berasal dari Buton.

Koleksi Biologi

Pada koleksi biologi  dipamerkann hewan yang hidup di laut seperti sepalopoda, tiram mutiara dan keong paya. Kemudian ada koleksi kalajengking dan tripang, kepiting, rajungan, udang kipas, kura-kura dan penyu yang telah diawetkan.

Selain, terdapat koleksi kupu-kupu  beraneka warna, burung alap-alap dan burung rangkong yang didesain bertengger di dahan, koleksi biawak, anoa dan rusa.Semua koleksi  merupakan kekayaan biota langka khas Sulawesi Tenggara.

Koleksi Teknologi

Pada ruang koleksi teknologi ini dipamerkan berbagai koleksi bidang ilmu pengetahuan, alat transportasi laut seperti perahu bercadik yang digunakan untuk menangkap ikan, bagang terapung, alat angkut (kalabandi) untuk hasil pertanian, mesin telegraf, teodolit, alat pencetak Koran dan alat industri rumah tangga berupa alat mengolah sagu, mengolah padi, alat pengolahan minyak kelapa dan peralatan yang terbuat dari besi.

 Koleksi Etnografi

Di ruang koleksi etnografi dipamerkan koleksi kalosara, alat penginangan, baju adat penganting suku Tolaki, kain serta alat tenun suku Buton, alat dapur tradisional, alat rumah tangga dari bahan kuningan dan dari bahan anyaman, alat berburu, serta koleksi alat pertanian.

Koleksi Arkeologi

Pada ruang koleksi arkeologi tedapat koleksi prasejarah seperti replika manusia purba beserta alat yang digunakan oleh manusia purba dalam kegiatan sehari-hari. Juga terdapat wadah kubur prasejarah yang ditemukan di gua Tanggalasi Pakue, Kabupaten Kolaka Utara.

Koleksi Histori

Di ruang histori , bisa dilihat alat yang digunakan masyarakat Sulawesi Tenggara dalam sejarah perjuangannya melawan penjajah. Ada taawu (parang) , senjata khas yang berasal dari suku Tolaki, pinai (parang) dari suku Buton, leko (keris) yang berasal dari suku Tolaki, mata tombak serta koleksi alat perang sekitar abad ke-17/18 seperti meriam dan pelurunya. Selain itu, ada juga koleksi kebesaran Kerajaan Buton yang digunakan oleh raja seperti tombak dan pedang serta koleksi foto raja Buton.

Koleksi Numismatik

Di ruang koleksi numismatik bisa dilihat koleksi mata uang kampua yang berjumlah tiga buah. Kampua adalah mata uang Kerajaan Buton yang terbuat dari kain tenun dalam berbagai ukuran dan motif.Selain itu, ada juga koleksi mata uang Kerajaan Gowa, mata uang Kerajaan Majapahit, mata uang Belanda (gulden) dari bahan logam dalam berbagai nominal dan mata uang dengan seri Ratu Wilhelmina, uang kertas dari Jepang seri wayang tahun 1934-1939 dan seri Nica tahun 1946-1949.

Koleksi Filologi

Pada ruang koleksi filologi dipamerkan Al-Qur’an tulisan tangan yang ditulis pada bahan kertas daluang, tasbih dari kayu, tongkat khotib, naskah Amarana yang dijadikan sebagai bahan khutbah Jumat yang digulung dan dimasukkan dalam bambu.Selain itu, ada pula naskah lontara yang beraksara Bugis. Naskah ini ditulis berbahan kayu (bilangari) dan dipercaya oleh masyarakat untuk melihat hari-hari baik, misalnya untuk menentukan hari yang tepat untuk bepergian, bercocok tanam, berburu, menikah dan membangun rumah.

Koleksi Keramik

Di ruang koleksi keramik dipamerkan sejumlah keramik peninggalan dinasti Ming dan dinasti Ching. Keramik tersebut terbuat dari bahan porselen dan batuan.Bentuk keramik yang dipamerkan, antara lain guci, tempayan, mangkuk pleret, jambangan, dan kendi.

Koleksi Kesenian

Koleksi yang dipamerkan di ruang koleksi kesenian , berupa alat music tiup (ore-ore mbondu). Ore-ore mbondu , alat musik yang terbuat dari tembaga atau tulang yang telah dilubangi, kemudian diberi tali. Alat musik tersebut digunakan oleh kaum remaja saat panen.Selain itu, ada kanda-kanda wuta, baasi, gendang (dimba), gong dan rebana. Kanda-kanda wuta adalah sebuah alat musik pukul yang digunakan untuk mengiringi tarian lulo , tarian suku Tolaki yang dimainkan saat pesta. Sedangkan, baasi adalah alat musik yang terbuat dari bambu yang ditiup. (E-001) ***