Panen Raya Tekan Gejolak Perberasan

227

BISNIS BANDUNG- Panen raya padi  di Jawa Barat yang ditargetkan mulai  Januari 2018 oleh Kementerian Pertanian (Kementan) mampu menekan gejolak harga beras yang terus naik.
“Kementan menyatakan akhir Januari panen raya padi, Insha Allah Januari ini, kita berharap panen raya padi ini jadi solusi terkait kenaikan harga beras beberapa hari ini,” kata Ketua DPRD Jawa Barat Ineu Purwadewi Sundari, di Kota Bandung, pekan ini.

Menurut Ineu, panen raya padi di wilayah Jawa Barat tidak gagal agar bisa memenuhi kebutuhan padi untuk wilayah ini dan daerah lainnya.

“Kalau bisa sih jangan dulu sampai impor, ini kan sebentar lagi panen raya padi. Jangan sampai ketika panen (ada kebijakan impor) mempengaruhi ke harga beras yang nantinya malah akan turun,” ujar dia.

Pihaknya berharap Pemprov Jawa Barat melalui OPD terkait seperti dinas pertanian bisa mengecek jelang persiapan panen raya padi agar tidak ada gagal panen.

“Selain itu, Pemprov Jabar juga harus bisa membina para petani supaya hasilnya bisa terdistribusi dengan baik sehingga bisa memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Jawa Barat dan daerah lain, terlebih Jawa Barat dikenal sebagai salah satu daerah lumbung padi nasional,” kata dia.

Semenjak akhir tahun 2017, harga beras di pasar tradisional yang ada di Bandung mengalami kenaikan.

Dari hasil-hasil rapat kerja nasional bidang pertanian di  Jakarta, pekan ini menyimpulkan bahwa  pertama, capaian peningkatan produksi padi, jagung, bawang merah, gula, daging sapi, dan lainnya pada 2017 sudah on the right track menuju terwujudnya kedaulatan dan kemandirian pangan.

Kedua, pada 2017 telah mencapai swasembada empat komoditas, ditandai sejak 2016 tidak impor beras medium, cabai segar dan bawang merah. Pada 2017 tidak impor jagung pakan ternak hemat devisa Rp10,6 triliun, bahkan telah ekspor bawang merah 7.561 ton kepada Thailand, Malaysia, Timor Leste dan lainnya.

Ketiga, kinerja produksi komoditas strategis cukup bagus. Produksi padi, jagung dan bawang merah meningkat masing-masing 2,4%; 18,5%; dan 3,3% disbanding produksi tahun 2016. Produksi gula, daging sapi, sawit, dan karet masing-masing meningkat 10,9%; 2,6%; 6,4%; dan 2,3% dibanding tahun 2016.

Realisasi anggaran tahun 2017 sebesar Rp21,9 triliun atau 90,4% terhadap pagu APBN-P 2018 sebesar Rp24,2 triliun.

Keempat, capaian produksi dan swasembada juga berdampak pada kesejahteraan petani. Indikasinya jumlah Rumah Tangga Petani sejahtera (tidak miskin) meningkatdari 85,25 persen pada Maret 2014 menjadi 85,87 persen Maret 2017.

Tidak saja dalam persentase, jumlah absolute Rumah Tangga Petani  miskin juga menurun dari 3,13 juta Rumah Tangga pada Maret 2014 menjadi 3,05 juta Rumah Tangga pada Maret 2017.

Indikator kemiskinan di perdesaan  menurun. Pada Maret 2017 penduduk miskin di perdesaan menjadi 17,10 juta jiwa turun 842 ribu jiwa atau 4,7% disbanding Maret 2015 sebanyak 17,94 juta jiwa. Gini rasio di perdesaan membaik pada Maret 2017 sebesar 0,320 menurun 0,014 poin atau 4,19% disbanding pada Maret 2016 sebesar 0,334.(B-002)***