Raperda Soal Ponografi Upaya Cegah Predator

205

BISNIS BANDUNG- Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pencegahan dan Penanggulangan Pornografi, yang sedang dibahas bisa mencegah para predator seks menjalankan aksinya. “Kami  meyakini jika sudah disahkan dapat implementatif di bawah dan bisa mencegah pelaku atau predator seks, terutama predator seks ke anak-anak,” kata Ketua DPRD Jawa Barat Ineu Purwadewi Sundari, barau-baru ini.

Raperda ini  pun diharapkan dapat meminimalisir kasus-kasus pornografi seperti kasus video porno yang melibatkan anak kecil dengan wanita dewasa di Kota Bandung beberapa waktu lalu.

“Kalau ada perdanya minimal masyarakat jadi takut atau mencegah. Di raperda ini dibahas soal sosialisasi tentang pencegahan bahaya pornografi,” ujarnya.

Oleh karenanya,  raperda ini dinilai penting karena masalah pornografi sudah sangat mengkhawatirkan. “Makin marak pornografi dan akses informasi di dunia maya begitu mudah didapatkan, termasuk masalah pornografi sehingga kami memandang ketika ada usulan raperda ini, maka sangat bagus,” katanya.

Ia menambahkan raperda ini ditargetkan akan disahkan menjadi perda oleh DPRD Jawa Barat pada akhir 2018.

“Insha Allah akhir bulan ini disahkan, sebenarnya raperda ini disahkan akhir Desember tapi teman-teman minta diperpanjang masa kerjanya sampai akhir Januari agar bisa menampung masukan dari berbagai pihak seperti KPAI Pusat karena kita ingin ada sinergitas dengan pusat,” kata dia.

Selain itu, lanjut Ineu, keberadaan raperda ini tidak akan tumpang tindih dengan Undang-Undang RI Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

“Tidak akan tumpang tindih karena Undang-undang ini membutuhan peraturan pelaksanaan di level pusat PP, kalau di level daerah Perda, jadi perlu ditajamkan untuk kekinian yang ada di Jabar,” kata dia.

Setidaknya ada lima faktor penyebab kian maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak. Terutama, banyaknya sajian tontonan seks yang merangsang nafsu birahi para lelaki. Pertama, banyaknya tontonan seks yang merangsang laki-laki. Kedua, kurang baiknya pengasuhan anak-anak perempuan, sehingga diasuh oleh yang bukan seharusnya mengasuh.

Faktor ketiga, manusia diberi kodrat menyukai anak laki-laki dan anak perempuan.  Wujud dari menyukai anak-anak jika tidak disertai dengan pengawasan, maka sering terjadi kekerasan seksual pada anak-anak.

Keempat, akibat pengangguran atau tidak ada kegiatan, maka energi yang dimiliki disalurkan pada hal-hal yang negatif seperti kekerasan seksual pada anak-anak. Dan kelima yaitu pergaulan bebas mengakibatkan seks bebas. Tidak hanya perempuan dewasa yang digauli tetapi, juga anak-anak.

Guna mencegah terjadinya kekerasan seks bebas pada anak-anak perempuan disarankan agar tak terulang, maka anak-anak perempuan tidak boleh diasuh, dijaga, dan dipelihara oleh laki-laki.  Apakah itu keluarga dekat apalagi orang lain.(B-002)***