Impor Beras untuk Apa?

206

KONON pemerintah tahun ini akan mengimpor beras sekira 500.000 ton. Menurut Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, beras yang  diimpor itu merupakan beras khusus yag memiliki  kandungan pecah maksimal 5 persen. Beras itu juga tidak diproduksi di Indonesia.

Impor beras yang biasa dilakukan Bulog, kini dipercayakan kepada PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), juga milik pemerintah.

Indonesia mengimpor beras, dalam teori jurnalistik, bukan berita. Indonesia mengekspor beras, baru berita. Namun berita Indonesia akan mengimpor beras awal tahun ini, mengundang berbagai pendapat.

Pendapat itu kebanyakan bernada penolakan. Banyak orang yang berkomentar, impor beras yang dilakukan awal tahun, tidak tepat. Masalahnya, bulan-bulan awal tahun ini di beberapa daerah di Indonesia akan terjadi panen raya.

Stok beras yang berlebih di Bulog, akan berpengaruh terhadap harga gabah di tingkat petani. Banyak petani yang merasa khawatir, hasil panennya tidak akan terserap baik oleh Bulog maupun koperasi atau pengepul.

Kenaikan harga yang terjadi sekarang ini, meneurut beberapa pengamat, hanya semetara. Dalam waktu dekat, bersamaan dengan panen raya secara merata di Indonesia, harga beras akan kembali normal.

Para pedagang beras di beberapa daerah mengatakan, kenaikan harga beras dewasa ini tidak terlalu mencolok. Rata-rata kenaikannya antara Rp 100 – Rp 300 perkilogram. Karena itu para pelaku pasar dan petani menilai, impor beras saat ini tidaklah tepat. Impor beras akan mengganggu harga gabah di tingkat petani yang selama ini relatif aman.

Stok beras Bulog juga boleh dikatakan aman meskipun Bulog tengah melakukan operasi pasar. Beras yang digelontorkan dari gudang Bulog ke pasar, paling banyak hanya sekira Rp 200.000 ton bahkan sampai sekarang, operasi pasar baru menghabiskan 30.000 ton. Jadi untuk apa kita harus mengimpor beras?

Namun pemerintah melihat, kecenderungan naiknya harga beras akan berlanjut.  Sampai panen raya di seluruh Indonesdia usai. Harga gabah naik, dipastikan harga beras juga terus naik.

Di tingkat petani harga gabah kering giling mencapai Rp 620.000/kuintal, naik dari Rp 480.000/kuintal. Selasa kemarin harga beras premium antara Rp 12.800-Rp Rp 13.000 perkilogram. Sedangkan harga beras medium Rp 11.000/kg., naik dari Rp 9.500/kg (PR16/1).

Cara yang paling ”ekonomis”, menurut pemerintah ialah mengimpor beras. Tujuan utama masuknya beras dari Thailand dan Vietnam itu, demi keamanan stok dan pengendalian  harga. Pendistrusiannya juga dijamin tidak akan menjatuhkan harga beras petani.

”Pemerintah memegang kendali atas beras impor khusus itu,” kata Menteri Perdagangan. Pemerintah sudah menetapkan hargta eceran tertinggi (HET), artinya harga eceran beras tidak akan melampaui ketentuan yang digariskan pemerintah

Menjawab pertanyaan, mengapa impor beras dilakukan PPI bukan olegh Bulog yang sudah berpengalaman dalam mengimpor beras, Menteri Enggartiasto mengatakan, PPI merupakan PT milik pemerintah.

Pemberian izin impor kepada PPI tidak menyalahi atutran, karena sesuai dengan Peratuiran Menteri Perdagangan Nomor 1 tahun 2018 tentang Ketentuan Ekspor dan Impor (KOMPAS 15/1)

Pertanyaannya, mampukah pemerintah mengendalikan harga beras di tingkat konsumen? Pada satu sisi pemerintah wajib meningkatkan pendapatan petani dengan pengaturan harga gabah di tingkat petani.

Pada sisi lain, pemerintah juga harus tetap menjaga tingkat harga beras di pasar agar tidak memberatkan konsumen. Selama ini pemerintah belum mampu meningkatkan daya beli masyarakat secara merata. Harga beras yang terus naik, akan terasa sangat berat bagi sebagian rakyat.

Mengendalikan harga dan menjaga mutu beras membutuhkan pengawasan dan tindakan tegas pemerintah. Sedikit demi sedikit, kita perlu melakukan upaya mutasi konsumsi beras. Namun pergeseran konsumsi masyarakat itu membutuhkan edukasi dan ketersediaan makanan nonberas yang lebih banyak dan bervariasi. ***