Robohnya Balkon BEI

224

SEMUA orang yang berada di sana tidak sempat menghindar ketika selasar Lantai I Menara II Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) tiba-tiba terban. Lebih dari 70 orang mahasiswa yang tengah melakukan kunjungan industri dan beberapa tamu serta karyawan yang berkumpul di selasar itu jatuh bersama reruntuhan gedung. Dikabarkan ada 72 orang yang terluka terjerembab dan tertimpa potongan-potongan beton. Tidak ada korban jiwa, kebanyakan menderita luka lecet sampai patah tulang.

Peristiwa robohnya balokn BEI itu merupakan peristiwa yang sungguh tragis, tidak terduga, dan bukan akibat gempa, pergeseran tanah, atau angin ribut. Pengelola gedung dan penghuni sama sekali tidak mengira, peristiwa itu terjadi.

Gedung yang belum terlalu tua, dibangun berdasarkan kajian teknis yang dipastikan sangat mendalam itu tiba-tiba roboh. Karena itu peristiwa yang mencederai lebih dari 70 orang tersebut menarik perhatian berbagai pihak.

Kepolisian RI mengerahkan penyidik gabungan dari berbagai unsur yakni Direskrimum Polda Metro Jaya, Laboratorium Forensik, dan unsur Mabes Polri. Secara bersamaan mereka melakukan olah TKP, menelisik apa penyebab utama robohnya selasar BEI itu.

Begitu pula para ahli konstruksi, dan rancang bangun, baik swasta maupun para akademisi, menaruh perhatian khusus terhadap peristiwa tragis itu.

Tampaknya, jalan masih panjang untuk sampai pada kesimpulan, mengapa petristiwa itu bisa terjadi. Para ahli dan pihak kepolisian belum dapat memastikan, apakah balkon atau selasar BEI itu merupakan bagian terintegrasi dengan bangunan utama atau justru hanya merupakan tempelan yang bersifat artivisial.

Mungkin saja mazanin itu merupakan bangunan baru yang ditempelkan ke dinding gedung utama dengan sistem arkade.

Apabila bangunan berupa sayap itu merupakan bagian tak terpisahkan dari bangunan utama, diperkirakan, konstruksi, termasuk beton penopangnya, rapuh. Mungkin saja bahan yang digunakan tidak laik mutu.

Apabila selasar itu hanya merupakan sayap yang dibangun kemudian setelah bangunan utama selesai, kemungkinan besar, arkade itu dibangun tanpa besi pengait yang mengikat bangunan baru dengan tulang beton bangunan utama.

Tentu saja masih banyak kemungkinan lain. Namun peristiwa itu sungguh merupakan cermin bagi pendirian semua bangunan bertingkat. Instansi terkait, terutama Kementerian PUPR, harus benar-benar memberi jaminan bagi masyarakat pengguna bangunan bertingkat, bahwa bangunan itu kukuh.

Semua bangunan, perkantoran, mal. apartemen, kondomonium, rumah susun, dan sebagainya dibangun tidak asal-asalan. Jaminan itu penting agar masyarakat tidak merasa khawatir ketika berada di gedung bertingkat, berapa pun jumlah lantainya.

Pengawasan harus langsung dilakukan sejak penggalian  tanah untuk pemasangan fondasi, tiang pancang, dan semua pekerjaan tennis lainnya. Pengawasan juga harus dilakukan secara lebih ketat terhadap bahan bangunan yang digunakan, apakah memenuhi standar mutu atau tidak.

Kita sering menyaksikan pembangunann hotel atau apartemen yang mangkrak, karena fondasinya turun padahal bangunan itu sudah mencapai belasan tingkat. Bukan hanya konstruksi yang harus diawasi tetapi juga kontur tanah tempat bangunan itu didirikan.

Tanah di Indonesia, khususnya di P. Jawa rawan longsor, terjadinya celah akibat pergeseran tanah. Terdapatnya garis sesar yang memanjang. Belum lagi terjadinya gempa bumi yang tidak terprediksi sebelumnya.

Para pengembang rumah susun, apartemen, kondomonium, dan bangunanb bertingkat lainnya, seyogianya menyampaikann semua hasil penelitian secara terbuka.

Hasil pengujian laboratorium tentang bahan bangunan, baik rangka beton, besi penggalang, campuran semen, dan masalah teknis lainnya, juga diumumkan secara transparan. Semuanya harus sesuai dengan standar bangunan bertingkat yang dikeluarkan Kementrerian PUPR.

Dengan keterbukaan itu masyarakat pengguna akan merasa tertarik, aman, dan nyaman tinggal di gedung bertingkat tinggi. Secara bersama-sama kita berusaha mengubah budaya masyarakat yang ragu bahkan khawatir tinggal di rumah susun.

Mereka akan percaya apabila ada jaminan. Karena itulah, jaminan itu perlu disosialisasikan. Robohnya selasar BEI jangan sampai menambah alasan masyarakat bawah, enggan tinggal di rumah susun. ***