Rosdah, Pengusaha Rajut

244

Rosdah, yang lahir di Baturaja 27 April 1979 ini, adalah anak  dari pasangan M. Baidi dengan Salma. Ia merupakan sosok pengusaha rajut di kota Cimahi,  dan sudah sekitar 14 tahun menggeluti usaha rajut.  Rosdah aktif di organisasi IKM serta IPEMI kota Cimahi, dan juga anggota di komunitas Tailor Indonesia Divisi Bandung.

Ibu dari Nurfazri Hastuti (20), dan Aliifah Raafa Muthmainnah (14) serta Wafa Hanuun Azizah (8) ini, mengawali usahanya sejak tahun 2004, dan rajut ini adalah usahanya yang ke lima kalinya, setelah sebelumnya Rosdah menekuni bidang furnitur serta sembako, namun mengalami kegagalan.

“Ini ide saya dan suami, karena saya menguasai bidang jahit – menjahit dan suami punya dasar rajut, sehingga kita berusaha menyatukan dua keahlian ini dalam sebuah usaha. Sebelumnya, saya pernah bekerja di sebuah perusahaan swasta, dan suami saya bekerja di perusahaan rajut export,” cerita Rosdah akhir pekan lalu mengenai perjalanan usahanya.

Bermodal awal dari uang tabungan sebesar Rp 1.000.000, yang digunakan untuk membeli mesin dan bahan baku. Sementara untuk tenaga kerjanya, dikerjakan sendiri bersama suami.

Karena, ketika itu mereka tidak berani untuk mengajukan pinjaman, selain disebabkan tidak mau memakai uang riba, juga tidak ada bank yang mau memberi pinjaman kepada  usaha yang masih merintis.

“Kenapa kami memilih usaha rajut ? Hal ini dikarenakan, keahlian dan kemampuan kita ada pada bidang ini. Sedangkan kemampuan untuk memproduksi / mendesain produk diawali dengan survey ke pasar, yakni apa yang dibutuhkan di pasar, dan Alhamdulillah kami menemukan sweater, manset serta ciput yang banyak peminatnya,” ucap Rosdah.

Kemudian, dibangunlah tempat untuk produksinya, yaitu di kelurahan Karangyang, kecamatan Cimahi Tengah.  Saat ini,  di rumah produksinya, Rosdah mempekerjakan 17 orang tenaga kerja yang memiliki kemampuan / keahlian menjahit dan merajut.

Dalam sebulan, Rosdah bersama suaminya mampu memproduksi 1500 pieces fashion dan atribut yang serba rajut.

Istri dari Didin Wahyudin (44)  ini mengutarakan bahwa,  dalam sebulan bisa mencapai 1200 pieces lebih yang terjual, tergantung dari permintaan pasar.  Kalau pas sedang ramai, bahkan bisa sampai 2000 pieces yang terjual.

Produk rajut buatan Rosdah dijual dengan kisaran harga Rp 60.000- Rp 90.000 untuk sweater, dan Rp 10.000- 30.000. untuk manset serta ciput. Pemasarannya hampir ke seluruh Indonesia. Omzetnya bisa mencapai Rp 150-200 juta / bulan.

“Produk yang kita pasarkan, terutama untuk manset dan ciput, menggunakan bahan baku dari kualitas terbaik, serta memiliki tampilan bagus dan terasa nyaman ketika digunakan,” tutur Rosdah.

Mengenai persaingan usaha, Rosdah mengakui bahwa hal itu pasti ada, bahkan harga jual yang jauh lebih rendah dari produknya juga banyak. Tapi ia meyakini bahwa, rejeki itu tidak akan tertukar, dan Insya Allah sudah ada jatah nya masing-masing, selama kita masih mau berusaha.

Diungkapkan pula oleh Rosdah bahwa,  selama hampir 14 tahun menjalani usaha ini, ia pun mengalami jatuh bangun dalam usaha, dan hal itu sudah biasa, tinggal bagaimana usaha kita untuk bangkit lagi, ataukah mau terus jatuh ? Semua pilihan itu ada di tangan kita sendiri.

Salah satu strategi Rosdah agar produknya tetap berdaya saing adalah, dengan meningkatkan kualitas produk dan kualitas diri, serta menyeimbangkan ikhtiar dengan doa.

“Kesuksesan itu datangnya dari Allah dan bukan dari usaha kita pribadi semata. Oleh karena itu, bila ingin sukses, ya… kita harus dekati pemilik kesuksesan itu,” ujar Rosdah.

Agen pejualan barang yang diproduksinya, selain tersebar di Bandung, juga ada di Surabaya, Jakarta, Bekasi,  Malang dan Makasar. Untuk reseller, sudah tersebar di seluruh Indonesia dan selalu melakukan repeat order.

“Untuk merk dagang,  sedang dalam proses pendaftaran hak paten. Alhamdulillah, produksi rajut saya memiliki banyak peminat, hingga kita bisa bertahan sampai 14 tahun dengan produk yang sama,” pungkas penggemar warna hitam ini mengakhiri obrolannya dengan BB.     (E-018)***