Gula Aren Dikhawatirkan Musnah

160

BISNIS BANDUNG – Pemerintah Desa Cipeundeuy, Kecamatan Jatinunggal Sumedang menilai gula aren yang selama ini  diproduksi warganya, bisa dijadikan  pendongkrak perekonomian masyarakat. Dusun Cidarma, Desa Cipeundeuy yang mayoritas penduduknya  perajin gula aren berkualitas , selain  mampu membangkitkan roda perekonomian , juga sebagai pembeda  dengan desa lain di Kabupaten Sumedang.

Dituturkan Kepala Desa Cipeundeuy, Anang Suherman, jika selama ini banyak peluang untuk bisa mendongkrak roda perekonomian warganya dengan meningkatkan  produksi gula aren. Saat ini,  gula aren dari Cipeundeuy sudah tersebar ke seluruh wilayah  di Kabupaten Sumedang ,baik di  pasar tradisional , warung-warung  maupun pasar modern.

“Gula aren disini tidak usah diragukan lagi kualitasnya, banyak dipasarkan  dan luar Sumedang mayoritas di wilayah Sumedang,” tutur Anang saat ditemui di ruangan kantornya,Selasa (19/02/2018).

Namun, lanjut Anang , ada yang lebih dikhawatirkan mengenai kelangsung produksi gula. Gula aren asal Cipeudeuy perlahan-lahan akan musnah , bila perajin gula aren tidak memiliki generasi penerus  perajin yang bisa diandalkan, karena banyak anak perajin  lebih memilih kerja keluar daerah daripada harus mengelola gula aren secara turun temurun.

“Memang merupakan hal yang wajar kalau anak muda jaman sekarang kurang berminat untuk mengelola atau jadi perajin gula aren, karena kemungkinan kendala untuk mengambil bahan bakunya juga tidak segampang yang dibayangkan,” ucap Anang memberi gambaran.

Saat ini produksi gula aren di wilayah Cipeundeuy masih  banyak,  bisa diandalkan. Diharapkan untuk ke depannya masyarakat bisa lebih kreatif lagi dalam memasarkan gula yang diproduksinya, terutama dalam segi pengemasannya.

Sedangkan gula aren yang diproduksi warga Jatinunggal dan Wado,juga cukup dikenal masyarakat Sumedang  dan luar Sumedang. Seperti dituturkan Encep perajin dan pedagang gula aren di Jatinunggal.Gula aren dari daerah ini dikenal dengan nama gula Wado yang memiliki ciri khas dibanding  gula aren produk daerah lain.

“Selain memiliki citarasa, terutama rasa manis yang beda dengan jenis gula aren lain. Gula aren  Wado  dikenal karena wanginya,” ujar Encep. Tidak heran jika harga gula Wado , menurut Encep ,harganya lebih mahal dibanding gula merah lain.

Apalagi , saat-saat memasuki bulan puasa dan  lebaran, gula Wado banyak dicari masyarakat . Gula Wado  dijadikan bahan  rasa pemanis utama pada  makanan dan minuman.

“Gula aren Wado memang banyak dicari, memasuki bulan puasa banyak masyarakat   menyiapkan penganan berbuka puasa ,seperti kolak atau candil, begitu halnya  menjelang lebaran untuk membuat berbagai macam kue,” ungkap Encep.

Encep menyebut, perajin gula aren Wado banyak dijumpai di Desa Cimaningtin, Cipeundeuy, Banjarsari dan Cidarma, Kecamatan Jatinunggal. “Kenapa  lebih populer nama gula Wado bukan Jatinunggal, karena  sebelumnya ada pemekaran wilayah, Kecamatan Jatinunggal masuk ke Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang,” jelasnya.

Masyarakat memiliki kemampuan membuat gula aren secara turun temurun dari dari orang tua mereka. Bahan-bahan untuk membuat gula aren (gula merah), seperti sari pohon aren atau kawung banyak ditemui di pinggir hutan atau perkebunan milik warga.

“Sehingga warga masyarakat disini menjadikannya sebagai ladang bahan baku gula aren, bahan- bahannya sudah ada di sekelilingnya,” tambah Encep.(E-010) ***