Vandalisme, Brutalisme dan Budaya Tertib

123

HAMPIR semua orang, terutama yang berada di luar Jakarta, mengutuk keras, perilaku suporter sepak bola yang merusak beberapa titik Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Perusakan terjadi ketika Persija Jakarta dinyatakan sebagai juara Piala Presiden 2018 setelah mengalahkan rival utamanya, Bali United, 3-0.

Suporter yang terdiri atas remaja dan pemuda Jakarta menyerbu stadion. Mereka merangsek masuk dengan menjebol  beberapa pintu tertutup, merusak kursi dan bagian-bagian lain stadion.

Ulah suporter dan kerusakan stadion kebanggaan Indonesia itu, menurut pengelola stadion utama GBK dan panitia penyelenggara Piala Presiden, sudah diprediksi bahkan sudah diantisipasi. Kerusakan secara cepat akan ditanggulangi dan dalam waktu dua atau tiga hari, GBK akan pulih.

Kalau benar sudah diprediksi dan diantisipasi, mengapa penjagaan tidak diperketat sejak awal? Pada saat suporter tanpa tiket itu serempak menjebol pintu-pintu gerbang, tidak tampak tindakan pengaman, misalnya, memagari semua pintu masuk, melakukan tindakan fisik dengan menyemprotkan air, baik dari kendaraan water canon, maupun pemadam kebakaran.

Sebentar lagi Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games. Masyarakat mengapresiasi persiapan yang dilakukan pemerintah. Renovasi SU-GBK selesai dengan cukup memuaskan para pencinta olahraga, termasuk organisasi olahraga Asia.

Mereka menyatakan sangat puas dengan peningkatan stadion yang dibangun atas pralarsa Presiden Pertyama RI, Bung Karno itu meskipun masih ada beberapa arena pertandingan atletik yang kurang sesuai. Masalah tersebut termasuk ringan dan dapat segera diubah.

Seharusnya kepercayaan organisasi olahraga internasional terhadap Indonesia itu menjadi kebanggaan semua masyarakat di seluruh Indonesia.Kebanggan tersebut seyogianya mendorong masyarakat ikut memelihara dan menjaga kebanggaan itu.

Peristiwa 17 Februari 2018, justru membuktikan, bangsa atau sebagian bangsa kita tidak punya kepedulian sama sekali. Rasa bangga tersebut terpupus dengan tindakan mencari kepuasan sesaat dengan tindakan vandalistis dan brutalistis yang sungguh memalukan.

Tindakan vandalistis dan britalustis di Senayan itu bukan hanya dilakukan di dalam stadion. Para vandalis itu tanpa sadar atau mungkin sangat sadar, merusak taman dan membuang sampah di mana-mana. Entah berapa ton sampah yang berserakan. Ternyata tidak kurang dari tujuh truk sampah yang dikumpulkan dari seputar stadion.

Perilaku menyampah merupakan indikator budaya bangsa yang masih sangat rendah. Sebagian bangsa Indonesia belum memiliki budaya bersih. Kerusakan dan kotornya stadion jangan lantas menjadi kebanggaan panitia dan pengelola stadion.

Hal itu jangan digunakan sebagai tolok ukur bahwa penyelenggaraan sepakbola sangat sukses. Melimpah ruahnya penonton boleh membanggakan akan tetapi perusakan sekecil apapun harus menjadi catatan kita semua.

Pihak keamanan pertandingan harus melakukan tindakan dengan pelacakan dan membawa para pelakunya ke ranah hukum. Di samping itu kita semua harus berusaha menyadarkan masyarakat akan pentingnya budaya tertib.

Vandalisme dan brutalisme itu merupakan penyakit masyarakat, khususnya masyarakat modern. Kitmas itu bukan hanya gepeng, pelacuran, perjudian, premanisme, tetapi juga vandalisme, dan brutalisme. Kedua macam, penyakit itu seolah luput dari perhatian kamtibmas.

Benar kitmas itu tidak bisa hilang dengan tindakan represif saja. Dua penyakit itu akan hilang dan berganti dengan budaya tertib, melalui pendidikan. Di sekolah sejak TK hingga PT, budaya tertib seyogianya menjadi bagian kurikulum pendidikan.

Kita berharap, peristiwa 18 Februari itu tidak terulang pada semua cabang pertandingan Asian Games. Kita tidak ingin martabat bangsa kita jatuh di mata internasional hanya karena tindakan vandalistis dan brutalistis sebagian supporter. Ajak bicaralah para tokoh suporter yang sudah terorganisasi itu ***