Kinerja Ekonomi Jabar Menguat Jelang Pilkada dan Pemilu 2019

105

BISNIS BANDUNG- Perekonomian Jawa Barat pada tahun 2018  diperkirakan akan meningkat cukup tinggi lantaran  ada gelaran Pilkada Serentak  27 Juni nanti dan setahun berikutnya diselenggarakan  Pemilu 2019 yaitu Pileg dan Pilpres.

Pada awal triwulan  pertama  saat ini  perekonomian Jawa Barat sedikit melambat. Namun  bakal ada kenaikan yang cukup tinggi pada triwulan selanjutnya secara keseluruhan  selama tahun 2018.

“Pertumbuhan ekonomi Jabar triwulan I 2018 diperkirakan masih cukup tinggi meskipun tidak setinggi triwulan sebelumnya yang didorong oleh peningkatan ekspor luar negeri dan domestik, peningkatan konsumsi pemerintah menjelang Pilkada,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jabar, Wiwiek  Sisto Widayat kepada pers, pekan ini.

Konsumsi rumah tangga juga masih kuat. Hal ini didorong salah satunya oleh kenaikan upah minimum tahun ini meskipun diperkirakan tidak setinggi triwulan sebelumnya yang dipengaruhi oleh faktor musiman.

Sementara secara keseluruhan tahun 2018, kinerja perekonomian Jabar diperkirakan juga meningkat pada kisaran 5,2 persen – 5,6 persen. Membaiknya prospek ekonomi Jawa Barat tahun 2018 diperkirakan didorong oleh peningkatan hampir seluruh komponen pengeluaran

“Komponen pengeluaran yang meningkat seperti konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah serta ekspor, kecuali investasi yang diperkirakan relatif stagnan karena adanya kecenderungan wait and see menjelang Pemilu,” ujarnya.

Dari sisi lapangan usaha, kinerja lapangan usaha utama diperkirakan meningkat terutama industri pengolahan dan perdagangan. Hal ini dipengaruhi oleh membaiknya prospek ekonomi domestik dan konsumsi.

Ia menambahkan untuk inflasi  Jawa Barat pada Januari 2018 tercatat sebesar 0,83 persen. Angka ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Tekanan inflasi pada bulan ini didorong oleh andil di seluruh kelompok khususnya bahan makanan yang dipengaruhi oleh menurunnya pasokan akibat beberapa komoditas yang masih dalam musim tanam.

“Berdasarkan disagregasinya, pada bulan Januari inflasi Jawa Barat disumbang oleh ketiga kelompok yaitu volatile food, core inflation, dan administered prices. Kelompok volatile food terutama disumbang oleh tingginya harga beras, daging ayam ras, cabai rawit dan cabai merah,” tuturnya.

Ia memprkirakan inflasi Jawa Barat pada triwulan I maupun keseluruhan tahun 2018 diperkirakan dapat berada pada target inflasi nasional sebesar 3,5 persen – 1persen (yoy) dengan asumsi tidak ada kenaikan administered prices.

Untuk tetap menjaga inflasi di tahun 2018 berada pada level yang ditargetkan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Barat memiliki strategi pengendalian inflasi melalui sinergi antara Bank Indonesia bersama dinas/instansi terkait anggota TPID.

Terkait stabilitas keuangan Jabar, jelasnya kinerja intermediasi perbankan terpantau membaik. Hal ini diindikasi dari penyaluran kredit yangmeningkat di tengah melambatnya pertumbuhan DPK.

Demikian untuk penyaluran kredit lokasi proyek di Jabar pada Januari 2018 tercatat sebesar Rp607,64 Triliun dengan pertumbuhan sebesar 7,92% (yoy), meningkat dibanding akhir triwulan IV 2017 sebesar 7,81%.

Peningkatan ini antara lain didorong oleh perkembangan suku bunga yang juga terus menurun. Namun seiring dengan meningkatnya penyaluran kredit, risiko kredit juga ikut meningkat yang tercermin pada peningkatan Non Performing Loan (NPL) dari 3,19% pada akhir triwulan IV 2017 menjadi 3,48% pada Januari 2018.

Dari sisi korporasi, pertumbuhan kredit juga terpantau meningkat dari 3,03% menjadi 3,04%. Namun kenaikan ini juga diikuti dengan peningkatan NPL menjadi sebesar 5,61%.

Sementara itu pada sisi rumah tangga, penyaluran kredit juga tercatat tumbuh meningkat dari 15,93% menjadi 16,07% dengan rasio NPL yang meningkat ke level 2,09%.

“Secara sektoral, meningkatnya pertumbuhan kredit terjadi pada beberapa sektor utama yakni industri pengolahan dan konstruksi.  Dari aspek sistem pembayaran, pada Januari 2018 Jabar kembali mengalami net inflow dan transaksi melalui sistem pembayaran non tunai khususnya kliring juga mengalami peningkatan,” bebernya.

Ia mengungkapkan, pada sistem pembayaran tunai, Jabar tercatat mengalami net inflow sebesar Rp10,6 Triliun pada Januari 2018. Angka ini meningkat cukup signifikan dibanding Desember 2017 yang mengalami net outflow sebesar Rp1,59 Triliun. Peningkatan ini diperkirakan akibat efek seasonal pasca berlalunya libur akhir tahun sehingga likuiditas kembali masuk ke perbankan.(B-002)***