Komparatif dan Kompetitif Ekspor Kain dan Produk Batik Terus Meningkat

236
????????????????????????????????????

BISNIS BANDUNG – Di pasar internasional , batik produk Indonesia memiliki daya saing komparatif dan kompetitif. Setiap tahunnya pertumbuhan batik Indonesia terus meningkat. Bahkan telah menjadi market leader yang menguasai pasar batik dunia.

Dikemukakan Kepala Bidang Pengembangan Jasa Teknis, Balai Besar Kerajinan dan Batik, Drs. Andreas Wisnu Pamungkas, M.Si , tren pertumbuhan batik Indonesia terus meningkat setiap tahunnya.

Pertumbuhan batik ditopang antusiasme masyarakat untuk menggunakan batik, baik pegawai negeri, BUMN , perusahaan swasta dan masyarakat dari berbagai kalangan yang mendorong meningkatnya permintaan produk batik dan tumbuhnya industri batik nasional.

Andreas menyebut, Undang-undang nomor 3 tahun 2014 tentang perindustrian, telah meletakan industri sebagai salah satu pilar ekonomi yang memberikan peran cukup besar kepada pemerintah untuk mendorong kemajuan industri nasional secara terencana.

Pada UU nomor 3 tahun 2014 disebutkan, bahwa industri yang memiliki keunikan dan merupakan warisan budaya adalah industri yang memiliki berbagai jenis motif, desain produk, teknik pembuatan, ketrampilan atau bahan baku yang berbasis pada kearifan lokal, misalnya batik (pakaian tradisional), ukir-ukiran kayu, kerajinan perak dan patung asmat.

Dalam hal ini , lanjut Andreas , pemerintah bertanggungjawab mengembangkan, memanfaatkan dan mempromosikan warisan budaya yang berbasis kearifan lokal serta memberikan perlindungan hak-hak masyarakat lokal.

Perwujudan warisan budaya yang berbasis kearifan lokal diharapkan dapat memperkuat dan memperkukuh ketahanan nasional serta mewujudkan pemerataan pembangunan industri ke seluruh wilayah Indonesia.

Dengan memperhatikan kenyataan keberagaman penyebaran dan pemerataan pembangunan industri berdasarkan pendayagunaan potensi sumber daya wilayah serta memperhatikan nilai keseimbangan, keserasian dan keselarasan antara kepentingan individu, masyarakat dan kepentingan bangsa dan negara.

Secara khusus, industri batik dan kerajinan termasuk dalam industri kreatif . Berdasar data statistik, ekonomi kreatif 2016 menunjukan, dalam kurun waktu 2010-2015, besaran Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif naik dari Rp 525,96 triliun menjadi Rp 852,24 triliun (meningkat  10,14%/tahun) atau pada tahun 2015 tumbuh sebesar 4,38% dibanding tahun 2014 dengan PDB sebesar Rp 784,82 trilliun. Ekonomi kreatif memberikan kontribusi sebesar 7.38 % terhadap total perekonomian nasional.

Kontribusi besar

Tiga Subsektor ekonomi kreatif yang memberikan kontribusi terbesar pada PDB ekonomi kreatif adalah subsektor kuliner sebesar 41,69%, fashion sebesar 18,15% dan kerajinan/kriya sebesar 15,70%. Sedangkan pada tahun 2014  2015, nilai ekspor dari sektor ekonomi kreatif mengalami penguatan sebesar 6,6% atau sebesar US$19.4 Milliar.

Penyumbang nilai ekspor tertinggi adalah subsektor fashion dan kerajinan dengan tujuan ekspor terbesar Amerika Serikat 31,72%, Jepang 6,74%, dan Taiwan 4,99%.

Untuk sektor tenaga kerja ekonomi kreatif 2010-2015 mengalami pertumbuhan sebesar 2,15%,  jumlah tenaga kerja ekonomi kreatif pada tahun 2015 mencapai sebanyak 15,9 juta orang.

Dikemukakan lebih lanjut oleh Andreas, geliat industri batik sebagai salah satu komponen industri kreatif ditandai dengan kontribusi besar terhadap perekenomian nasional dengan nilai eskpor mencapai US$ 151,7 juta pada tahun 2016.

Selain itu industri batik berkontribusi positif pada penciptaan lapangan perkerjaan. “Data tahun 2015 Jumlah tenaga kerja yang terserap pada industri batik sekitar 200.000 tenaga kerja dengan jumlah unit usaha sekitar 47.500 unit yang didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM),”ujar Andreas , Selasa (27/2) .

Nilai ekspor kain batik dan produk batik pada tahun 2016 mencapai USD149,9 juta dengan pasar utama Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. Ekspor batik pada tahun 2015 sebesar USD 156 juta atau setara Rp 2,1 triliun, naik 10 % dari tahun 2014. Pada tahun 2016, nilai ekspor kain batik dan produk batik mencapai USD149,9 juta.

Strategi yang diambil pemerintah dalam meningkat penjualan batik adalah dengan kebijakan pemakaian pakaian daerah sebagai seragam sekolah atau kantor.

Saat ini sebagian besar bahan baku dan bahan penolong batik masih impor dan belum terdapat substitusi impor yang memadai untuk memenuhi kebutuhan kapas dan zat pewarna sintetis hasil produksi dalam negeri Dari sisi teknologi.

Para pengusaha industri batik umumnya, belum melakukan perbaikan sistem dan teknik produksi agar lebih produktif dan mutunya bisa sama untuk setiap lembar kain batik.

Pemakaian zat pewarna alam masih belum mendapat hasil stabil satu sama lain. Di sisi lain, banyak terjadi pembajakan desain batik sehingga pengembangan kreativitas dan inovasi desain berkurang. Ditambah maraknya produk batik/tekstil dari Tiongkok masuk ke Indonesia dengan harga murah.

Kemudian, ujar Andreas ,  kurangnya akses terhadap informasi pasar. IKM kerajinan dan batik jadi sangat , tergantung dengan pedagang-pedagang besar, sehingga sebagian besar mereka hanya berfungsi sebagai produsen dengan margin yang sedikit.

Hal ini lebih disebabkan karena kurangnya penguasaan teknologi informasi, kurangnya kesempatan mengikuti pameran-pameran dan terbatasnya sarana pemasaran yang mereka miliki.

Batik Indonesia, memiliki nama motif dan filosofi. Sementara  produk batik impor yang masuk ke Indonesia kebanyakan dari proses printing dan  tidak masuk dalam kategori produk batik, tetapi produk tekstil bermotif batik.

Terbitnya Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor 74/M-IND/PER/9/2007 mengenai batik tujuannya untuk memberi jaminan mutu batik Indonesia, Selain untuk meningkatkan kepercayaan konsumen dalam  maupun luar negeri terhadap mutu batik Indonesia , memberikan perlindungan hukum dari berbagai persaingan tidak sehat di bidang Hak Kekayaan Intelektual dalam perdagangan nasional maupun internasional, “Memberikan identitas batik Indonesia agar masyarakat Indonesia dan asing dapat dengan mudah mengenali batik buatan Indonesia,” ucap Andreas.

Pemberlakuan kawasan perdagangan bebas China dan ASEAN (China-ASEAN Free Trade Area/CAFTA), memang mendorong peningkatan produk tiruan batik atau tekstil bermotif batik asal China dan negara ASEAN di pasar dalam negeri. Namun berdasarkan ketentuan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), batik merupakan produk asli Indonesia yang dibuat dengan keterampilan dan teknik tertentu. (E-018)***