Taman Wisata Alam BKSDA Jadi Penyokong PNBP Potensial

188

BISNIS BANDUNG – Keberadaan kawasan TWA berkontribusi langsung kepada negara berupa Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) . Kawasan Taman Wisata Alam (TWA)  wilayah kerja Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat terdapat 15 lokasi TWA daratan, satu TWA perairan dan satu Taman Buru (TB) seluas kurang lebih 4.278,270 hektar. TWA daratan seluas 720 hektar, TWA perairan  12.420,70 hektar.

Kepala BKSDA Jawa Barat, Ir. Sustyo Iriyono, M.Si menyebutkan, keberadaan obyek Wisata Alam di kawasan Taman Wisata Alam memiliki payung hukum Peraturan Perundang-undangan (Peraturan Pemerintah nomor 36 Tahun 2010 dan Permenhut nomor P.48/Menhut-II/2010) dapat diberikan legalitas perijinan berupa Izin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) atau Izin Usaha Penyediaan Sarana Wisata Alam (IUPSWA) dan Izin Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam (IUPJWA).

Dikemukakan Sustyo ,  kunjungan wisata ke TWA lingkup BBKSDA Jabar dalam delapan tahun terakhir (2010-bulan Februari 2018), terincikan pada tahun  2010 sebanyak 1.772.401 pengunjung, tahun 2011 (1.854.358 pengunjung), tahun 2012 (1.774.162), tahun 2013 (1.650.166 ) tahun 2014 (2.057.876 ) tahun 2015 (2.050.413) di tahun 2016 (2.283.663) dan tahun 2017 (2.066.265 pengunjung).

“Jika dilihat dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari kawasan TWA lingkup BBKSDA Jabar dalam delapan tahun terakhir ,TWA Gunung Tangkuban Parahu memberikan kontribusi tertinggi dibandingkan kawasan TWA lainnya di Jabar. Kontribusinya  mencapai Rp  1.577.241.000,” paparnya kepada BB ,Senin ( 26/02) di Bandung.

Ir. Sustyo Iriyono, M.Si menyebut , TWA yang potensial untuk dikembangkan karena memiliki potensi Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) yang belum dikembangkan dan dipromosikan, antara lain,  TWA Pulau Sangiang dan TWA Laut Pulau Sangiang.

Sedangkan TWA yang potensial dikembangkan karena kemudahan mencapai lokasi (aksesibilitas), namun perlu diversifikasi produk atraksi wisatanya, yaitu TWA Gunung Tangkuban Parahu, TWA Gunung Pancar, TWA Sukawayana, TWA Pangandaran, TWA Linggarjati.

Sedangkan TWA yang potensial dikembangkan karena Objek Daya Tarik Wisata, namun perlu aksesibilitas/jalan masuk dan daerah penyangga disekitar TWA sebagai kesatuan wilayah atraksi wisata pendukung, yaitu TWA Telaga Warna dan TWA Jember, TWA Cimanggu, TWA Telaga Patengan, TWA Gunung Guntur, TWA Kawah Kamojang, TWA Telaga Bodas, TWA Tampomas

Berkontribusi pada pajak

Dikemukakan Sustyo , keberadaan kawasan TWA telah memberi kontribusi kepada negara berupa Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang disetor ke kas negara melalui Kementerian Keuangan berasal dari tiket masuk TWA dan tiket atraksi wisata lainnya.

Sedangkan kontribusi kepada masyarakat sekitar kawasan TWA adalah berpartisipasi langsung dalam pengembangan wisata alam menjadi pemegang ijin jasa wisata alam (IUPJWA).

Menjadi tenaga kerja/karyawan dan sektor jasa pemandu wisata alam, yang dikembangkan oleh pemegang ijin IPPA/IUPSWA, kontibusi lainnya diluar kawasan TWA yang merupakan efek lanjutan (multiflyer effect) dari berkembangnya kawasan TWA sebagai lokasi destinasi pariwisata.

”Sektor-sektor lain yang berkembang di luar kawasan TWA, di sekitar atau sepanjang akses masuk menuju kawasan TWA sebagai efek lanjutan (multiflyer effect), yaitu sektor pariwisata lainnya, homestay/penginapan/resor, sektor kuliner (makanan dan minuman), sektor jasa transportasi, cinderamata/kerajinan tangan/souvenir, dan sektor atraksi budaya/kesenian,”ujar Sustyo.

Dalam menjaga kelestarian obyek wisata alam, dilakukan olaboratif antara pemangku kawasan (BBKSDA Jabar) dan para mitra (pemegang IPPA/IUPSWA, IUPJWA dan masyarakat sekitar), antara lain tertuang dalam Rencana Karya Tahunan (RKT) IPPA/IUPSWA pada butir kegiatan pengelolaan lingkungan, pemberdayaan masyarakat dan pengembangan TWA.

Selain kegiatan rutin, kegiatan pelestarian TWA secara insidentil juga dilakukan dengan kelompok pecinta alam,  antara lain bersih gunung dan jalur pendakian di kawasan TWA, seperti di TWA Gunung Guntur dan TWA GunungTampomas.

Kegiatan untuk dapat mendongkrak/menarik minat/angka kunjungan ke kawasan TWA , di antaranya koordinasi dengan Pemda setempat terkait pengembangan kawasan TWA sebagai salah satu destinasi pariwisata daerah yang tertuang dalam RIPPDA (Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah) Kabupaten, sebagai contoh pengembangan wilayah Ciwidey Bandung Selatan.

Lainnya , penyelarasan program dan kegiatan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam upaya pendukungan pengembangan pariwisata, berupa program pengembangan wisata alam (sarana prasarana, atraksi wisata, dan lainnya dikawasan TWA yang telah ada pengusahaan pariwisata alam (IPPA/IUPSWA) yang tertuang dalam dokumen RKT IPPA/IUPSWA.

“Untuk kegiatan pameran pariwisata alam skala nasional yang diselenggarakan di Jakarta dilaksanakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerjasama dengan mitra kerja,” ungkap Sustyo.

Mengenai modal/faktor dalam mewujudkan suatu lokasi kawasan TWA untuk menjadi destinasi pariwisata internasional dan nasional, dijelaskan Sustyo, pertama kesamaan presepsi/pemahaman antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam pengembangan pariwisata alam di kawasan TWA.

Pendukungan kebijakan, program dan kegiatan dari Pemerintah Daerah , seperti kesiapan sarana prasarana  menuju kawasan TWA berikut alat transportasi massal yang efektif dan efisien, ditambah promosi pariwisata.

Kemudian kepedulian masyarakat sekitar TWA terhadap pengembangan kawasan TWA yang dikembangkan, dari segi persepsi, mental dan fisik sarana prasarana pendukung di luar kawasan TWA yang mendukung pengembangan kawasan TWA.

“Alokasi anggaran dari Pemerintah Pusat (APBN) dan Pemerintah Daerah (APBD) serta sektor swasta dalam pengembangan di dalam dan di luar kawasan TWA,” Sustyo menambahkan. (E-018)***