Berpacu dengan Tengkulak

108

KECEPATAN  melangkah dan bertindak merupakan syarat ”naluriah” seorang pengusaha. Jeli melihat peluang pasar, cepat dalam berhitung mau tidak mau harus dimiliki setiap pelaku usaha. Seorang wirausaha sejati membuang jauh-jauh semua kepentingan pribadi yang hanya akan menghambat usahanya. Cepat, sigap, matang (patgaptang) menjadi motto utama pengusaha sukses.

Semua itu ternyata dimiliki mutlak para tengkulak. Hari ini panen raya di sebuah desa yang terpencil sekalipun, malam hari beberapa orang tengkulak sudah siap bahkan tidak segan, menginap di pematang sawah.

Begitu petani selesai memanen padi di sawahnya, para tengkulak siap memborong hasil panennya. Mereka dengan cekatan, menentukan harga pembelian gabah saat itu yang berada di atas harga pembelian resmi.

Panen raya tengah berlangsung di beberapa daerah di Jabar, salah satunya di Indramayu. Seperti dimuat PR (7/3)  para petani langsung menjual gabahnya begitu padi usai diporot dari tangkainya.

Para petani sangat senang, mereka tidak usaha repot mengangkut dan menjemur gabah. Beban anggaran pengangkutan dan upah jemur tidak ada lagi. Para petani di Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu itu  membawa uang bukan membawa gabah ke rumahnya.

Para tengkulak tahu persis, gabah hasil panen musim ini, berkualitas jauh lebih baik  daripada gabah hasil panen sebelumnya. Karena itu mereka mau menaruh harga lebih tinggi.

Para petani di wilayah Indramayu merasa senang dengan meningkatnya kualitas gabah hasil panen raya sekarang ini. Mereka juga senang karena dapat menjual hasil panennya tanpa terlalu banyak pengeluaran.

Dengan uang hasil penjualan gabah basahnya,  para petani di pantura Jabar itu dapat segera menggarap sawahnya memasuki musim tanam lagi.

Tampaknya tidak ada masalah apa-apa di balik kegembiraan para petani pada musim panen rendeng ini. Hasil panen mereka dibeli dengan harga memadai langsung di sawah mereka.

Para petani punya kebebasan menjual hasil panennya kepada siapapun dengan pertimbangan harga jualnya sesuai dengan harga pasar. Yang menjadi masalah, dilihat  dari kacamata pemerintah. Ialah faktor pembelinya.

Mereka para bandar merupakan golongan kaum pengijon dan tengkulak. Padahal dua golongan penarik untung itu merupakan ”musuh” bagi dunia pertanian kita. Para petani banyak yang menjadi korban para pengijon dan tengkulak.

Para pelepas uang itu sangat paham terhadap kehidupan dan kebutuhan para petani. Para pengijon dan tengkulak sampai sekarang masih dianggap ”dewa penolong” bagi para petani.

Apalagi sekarang, pada musim panen raya Maret – April tahun ini, para tengkulak itu justru membeli gabah para petani dengan harga cukup tinggi ditambah berbagai kemudahan.

Kalau saja transaksi antara petani dan tengkulak berjalan sebagaimana perdagangan antara penjual dan pembeli yang saling menguntungkan, tidak ada peraturan yang dilanggar.

Jual beli itu sah asal petani sebagai penjual tidak dirugikan, merasa diperas, hasil panennya dibeli dengan harga sangat murah, ada unsur pemaksaan atau ancaman, pemerintah wajib bertindak. Prinsip melindungi dan menolong para petani wajib dilakukan.

Masalahnya sekarang, daya serap Bulog menjadi sangat rendah apalagi dengan persyaratan yang merepotkan petani. Ada ukuran rendemen gabah, pengangkutan dari sawah ke gudang, upah jemur, biaya pemasukan gabah ke dalam karung, dan sebagainya.

Seyogianya Bulog dapat bergerak jauh lebih sigap, cepat, dan cekatan dibanding para tengkulak. Harga beli gabah ditetapkan di atas harga pembelian para tengkulak.

Lakukan moratorium berbagai peraturan yang justru merepotkan dan merugikan petani. Masyarakat berharap, daya serap Bulog terus meningkat sehingga stok beras terjamin, tidak usah mengimpor beras lagi. ***