Menjual Alam dan Budaya Oleh: YAYAT HENDAYANA (Dosen Prgram Sarjana dan Pascasarjana Unpas)

144

PRESIDEN Jokowi semakin percaya diri bahwa pariwisata dapat diandalkan ssebagai salah satu sumber pendapatan kita. Malah ia cenderung berpendapat bahwa pariwisatalah yang pada suatu saaat nanti menjadi sumber pendapatan yang sangat bisa diandalkan. Pada suatu kesempatan Jokowi  pernah mengatakan bahwa secara genetik bangsa kita adalah “bangsa kebudayaan”.

Maknanya ialah, bangsa kita memiliki tingkat kebudayaan yang tinggi dan sangat bervariasi. Keingintahuan orang lain terhadap negeri kita terutama karena negeri kita indah alamnya dan tinggi kebudayaannya.

Oleh karena itu presiden yakin bahwa dunia pariwisata kita suatu saat kelak akan mampu menjadi sumber prendapatan utama negara kita.  Alam dan budaya sebagai modal kita untuk mengembangkan pariwisata, sangatlah luar biasa.

Kesadaran akan pentingnya membangun sektor kepariwisataan telah merata hampir di semua daerah. Alam yang diperkirakan akan menarik wisatawan dieksploitasi sedemikian rupa.

Sayang sekali eksploitasi keindahan alam tersebut tidak disertai dengan pembangunan unsur-unsur penunjangnya. Infrastruktur jalan ke objek-objek wisata itu kurang memperoleh perhatian pemerintah daerah.

Hal lain yang juga seringkali terabaikan oleh pemerintah daerah dalam pembangunan sektor kepariwisataan  adalah pembangunan  kesenian sebagai bagian dari kebudayaan. Tak sedikit wisatawan, baik domestik maupun asing, yang datang ke suatu tempat justru untuk mengetahui keseniannya.

Kesenian tradisional yang menunjukkan kelokalan, yang oleh karenanya sering menjadi istimewa dalam pandangan para turis, jarang sekali memperoleh sentuhan pengembangan dari pemerintah daerah. Padahal dunia kepariwisataan kita pada hakikatnya adalah menjual (keindahan) alam dan kebudayaan.

Keramah-tamahan penduduk adalah salah satu unsur budaya yang justru menarik wisatawan asing. Keanekaragaman kesenan daerah yang tersaji dari Sabang sampai  Merauke seringkali membuat wisatawan asing ketagihan untuk datang kembali ke negeri kita.

Sayangnya, pembangunan kesenian seringkali tak memperoleh perhatian pemerintah daerah. Kurangnya perhatian terhadap upaya pembangunan kesenian itu tercermin dari kecilnya jumlah anggaran yang teralokasikan dalam APBD.

Lahirnya Undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan tidak juga membuat pemerintah daerah meemperhatikan pentingnya pembangunan sektor kesenian khususnya dan kebudayaan pada umumnya. Pemerintah daerah lebih mengutamakan pembangunan yang hasilnya dapat diukur secara statistik.

Padahal dalam UU Pemajuan Kebudayaan tersebut jelas dikatakan bahwa pembanguan kebudayaan adalah investasi. Artinya, kegiatan pembangunan kebudayaan, kesenian khususnya, bukanlah pembangunan yang dapat dipetik hasilnya dalam sesaat.

Pembangunan seni-budaya adalah pembangunan yang menyangkut mental manusia. Hanya dalam jangka waktu yang panjang pembangunan mental itu dapat diukur.

Pembangunan kesenian yang merupakan salah satu modal untuk mengembangkan dunia kepariwisataan adalah salah satu bagian dari upaya revolusi mental yang justru didengung-dengungkan oleh Jokowi pada saat kampanye empat tahun yang lalu.

Ketika Jokowi mengkampanyekan perlunya bangsa kita melakukan revolusi mental betapa terperangahnya kita semua. Kita terperaangah oleh kenyataan bahwa ada calon petinggi negeri yang memahami betapa bobroknya mentalitas bangsa kita sekarang ini.

Salah satu implementasi dari revolusi mental adalah digiatkannya pembangunan kesenian di daerah-daerah. Kesenian merupakan salah satu bagian dari kebudayaan.

Kebudayaan adalah salah satu aspek yang kita jual dalam dunia kepariwisataan selain alam. Dengan kata lain, pariwisata pada hakikatnya adalah menjual alam den kebudayaan.

Oleh karena itu alam kita perlu kita pelihara dengan sebaik-baiknya agar tak jatuh ke tangan investor yang lebih mementingkan pabrik ketimbang keindahan. Demikian pula dengan kebudayaan. Kebudayaan kita yang asli harus kita pelihara agar tidak sampai tergerus oleh badai kebudayaan asing.***