Industri Kecil dan Menengah Tunjukkan Kinerja Gemilang

91

BISNIS BANDUNG- Sebagai pemimpin pasar, Indonesia telah menguasai pasar batik dunia sekaligus menjadi penggerak perekonomian di regional dan nasional. 

Sampai saat ini, industri batik didominasi oleh sektor industri kecil dan menengah  (IKM) yang tersebar di 101 sentra di Jawa Tengah, Jawa Barat, JawaTimur, dan Yogyakarta dengan tujuan utama pasar ekspor ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.

“Kerajinan Indonesia memiliki pasar yang terus meningkat, sehingga dapat dikatakan bahwa para penggiat IKM kerajinan termasuk IKM batik dan IKM perhiasan menjadi salah satu tombak ekonomi kerakyatan yang tahan terhadap krisis ekonomi global,” ujar Dirjen IKM Kemenperin,  Gati Wibawaningsih dalam keterangan pers yang diterima Bisnis Bandung, pekan ini.

Ia  mengklaim  bahwa sejumlah industri kecil menengah  nasional mampu menunjukkan kinerja yang gemilang.

Hal ini tidak terlepas dari komitmen dan upaya pemerintah memacu pengembangan IKM karena sebagai sektor mayoritas dari populasi industri di Tanah Air dan memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional.

“Misalnya, kami mencatat, nilai ekspor komoditas perhiasan pada tahun 2017 mencapai  USD2,6 miliar. Selain itu, nilai ekspor IKM sektor batik juga menunjukkan angka yang positif sebesar USD58 juta pada tahun 2017,” ungkap Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih.

Untuk itu, lanjutnya, Kemenperin terus berupaya mendongkrak produktivitas dan daya saing IKM nasional melalui berbagai program strategis, antara lain peningkatan kompetensi tenaga kerja, pengembangan kualitas produk, standardisasi, fasilitasi mesin dan peralatan produksi, serta mengikuti promosi dan pameran di dalam dan luar negeri.

Gati menyampaikan, pihaknya melalui Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) yang berada di bawah binaan Ditjen IKM, sedang berupaya untuk meningkatkan kinerja sektor IKM alas kaki.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyelenggarakan Indonesian Footwear Creative Competition (IFCC) dengan mengusung konsep 3in1, yaitu melalui kompetisi desain, fotografi, dan videografi.

“Penyelenggaraan IFCC ini bertujuan untuk mendekatkan generasi muda pada industri alas kaki yang juga merupakan bagian dari perkembangan fesyen, serta menjadi rencana bisnis yang menjanjikan ke depannya, sehingga akan tumbuh pelaku industri kreatif sektor alas kaki,” paparnya.

Kemenperin mencatat, kontribusi industri alas kaki dalam negeri semakin meroket dengan menyumbang PDB sebesar Rp26,5 triliun pada tahun 2017, dengan pertumbuhan sebesar 2,4%. Tak hanya itu, kinerja ekspor industri alas kaki mampu menembus angka hingga USD4,9 miliar tahun 2017.

Sedangkan, dengan produksi mencapai 1,1 miliar pasang, Indonesia menjadi produsen alas kaki terbesar keempat dunia setelah China, India dan Vietnam.(B-002)***