Pembangunan Gedung Sate Tahun 1920 Dilakukan Tim Pimpinan Kolonel V.L. Slors

232

Bandung sebagai daerah tujuan wisata favorit para pelancong, sudah bukan rahasia lagi. Kota Bandung memiliki berbagai keistimewaan terutama dalam potensi wisata  alam,budaya,sejarah serta kuliner.Bahkan hal ini telah dikenal sejak jaman kolonial. Para  tuan tanah serta pemilik lahan perkebunan hampir setiap akhir pekan menghabiskan waktunya di Kota Bandung.

Pemerintah kolonial Belanda sangat terkesan dengan Kota Bandung,terlihat dari  berbagai bangunan yang dibangunnya yang hingga kini masih bisa kita lihat. Salah satu ikon bangunan bersejarah di Bandung ialah Gedung Sate,bangunan ini dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda.

Gedung Sate , peletakan batu pertama dimulai pembangunannya  pada tanggal 27 Juli 1920 oleh Johana Catherina Coops, yang merupakan putri sulung Walikota Bandung waktu itu, yaitu B. Coops dan juga Petronella Roelofsen yang mewakili Gubernur Jenderal Batavia. Saat itu nama Gedung Sate adalah “Gouvernements Bedrijven“.

Pembuatan Gedung Sate sendiri, dibuat dengan rencana  sangat matang oleh tim yang di pimpin oleh Kolonel Purnawirawan V.L. Slors dengan  anggota tim  antara lain, Ir. J. Berger, arsitek muda ternama lulusan  Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir. Eh. De Roo dan In G. Hendriks, kemudian ada pihak dari “Gemeete van Bandoeng“.

Seiring perjalanan waktu hingga saat ini, Gedung Sate masih memiliki fungsi sebagai pusat pemerintahan. Pada masa lalu merupakan pusat pemerintahan penjajah kolonial Belanda,namun saat ini menjadi pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat.

Beberpa waktu lalu ada yang unik dari Gedung Sate ini, Pemprov Jabar membuka Museum Gedung Sate sebagai daya tarik wisata.Museum Gedung Sate diresmikan Gubernur Ahmad Heryawan dan Wagub Deddy Mizwar 8 Desember 2017.

Terletak di sayap timur basement Gedung Sate Kota Bandung, museum ini menyajikan tema sejarah, yang dikemas dalam sensasi teknologi digital dan interaktif, antara lain, Interactive Glass Display,  Interactive 3D Scale Model of Gedung Sate, Hologram, Wall Video Mapping, Augmented Reality: membuat pengunjung seolah-olah terlibat pada pengerjaan Gedung Sate, Virtual Reality: dengan kacamata VR dapat membuat pengunjung seolah-olah menaiki balon udara mengelilingi area sekitar Gedung Sate.

Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati Architarium (TV 270 derajat), Interactive Floor Display dan Interactive Picture Frame.

Antusiasme masyarakat untuk berkunjung ke museum ini pun telihat, pada jumlah kunjungan yang menembus angka 1.200 orang dalam satu hari. Menurut Tour Conductor Museum Gedung Sate, Hary Juliman, museum yang memiliki luas sekitar 500 meter persegi ini mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat.

Museum memiliki tiga segmen. Pertama; prolog. Kedua; eksplorasi. Ketiga; kontemplasi.  Walaupun bertemakan sejarah, pengunjung akan merasakan sensasi teknologi digital yang interaktif saat menggali informasi dari museum ini.

Teknologi seperti layar sentuh yang menyajikan informasi melalui grafis menarik menjadi daya tarik atraksi Museum Gedung Sate.

Museum buka  pukul 09.30 -16.00 WIB setiap hari, kecuali Senin dan hari libur nasional. Untuk jadwal kunjungan, reservasi dan informasi hubungi Call Center Museum Gedung Sate (022) 4267753 (jam dan hari kerja).(E001) ***