Cacing Sepotong, Rusak Ikan Kaleng Semuanya

174

BAK peribahasa, nila setitik rusak susu sebelanga, ditemukannya sepotong cacing anisakis sp pada ikan kemasan kaleng hasil impor, pasar ikan dalam kaleng terganggu. Banyak peritel di Indonesia yang menolak pasokan ikan kaleng, baik hasil impor maupun poduksi domestik.

Pasar menolak masuknya ikan kaleng karena konsumen mendadak tidak mau lagi makan sarden, tuna, salmon, dan sebagainya yang sudah masak dan dikemas dalam kaleng.

Konsumen bukan takut terkena penyakit akibat makan ikan kaleng. Mereka juga tahu, ikan dalam kaleng itu dipasarkan setelah melalui pengolahan yang dijamin sterilitasnya. Tidak ada bibit penyakit atau telur cacing yang mampu bertahan pada suhu sangat panas.

Selain melalui pencucian secara mekanis, ikan  matang itu dipanaskan baik penggodokan maupu pengasapan dengan suhu sangat tinggi. Namun sebagian besar konsumen, khususnya di Indonesia, merasa jijik terhadap cacing, belatung, dan sejenisnya.

Apalgi binatang itu berada pada makanan. Sontak, selera makan mereka musnah bahkan tidak mau lagi mengonsumsi makanan sejenis padahal  makanan yang dihadapinya terbebas dari cacing atau belatung.

Berita penemuan cacing dalam ikan kaleng itu disiarluaskan secara kurang bijaksana.

Berita sensitif seperti itu seyogianya masuk dalam pertimbangan para pengelola media, layak siar atau tidak? Bagaimana dampaknya secara sosial dan ekonomi? Keterangan orang BPOM—yang seharusnya diembargo—pasti menjadi sangat viral.

Dampaknya? Orang enggan makan ikan dalam kemasan kaleng. Selain mengganggu pasar ikan, ekspor atau impor, juga upaya peningkatan konsumsi ikan di Indonesia juga ikut terganggu.

Prersiden Joko Widodo selalu meminta kabinetnya meningkatkan ekspor dan konsumsi ikan. Kampanye makan ikan menyehatkan,sedikitnya akan terhambat dengan peristiwa penemuan anisakis sp itu.

Beredarnya makanan tercemar itu terutama akibat lemahnya pengawasan. BPOM melakukan pengawasan dengan uji petik di pasar. Artinya makanan impor itu sudah beredar di pasar. Seharusnya pengawasan dilakukan sejak barang itu masuk pelabuhan.

Gunanya karantina itu untuk menjaga masuknya barang atau makanan yang tak layak pakai atau makan. BPOM tidak mungkin membuka semua produk makanan kemasan yang ada di pasar.

Serlain tenaganya tidak tersedia, barang dagangan juga akan rusak. Soalnya, pemeriksaan tidak akan ada hasilnya apabila dilakukan hanya secara sampling.

Hanya dengan detektor yang khusus menerawang isi makanan kemasan, pengawasan akan evetif. Alat teknologi canggih itu hanya ada di lembaga  karantina atau pabean.

Kasus itu merupakan pelajaran amat berharga bagi SDM pengawasan dan juga bagi produksi ikan kemasan nasional. Para pengawas makanan dan minuman tidak boleh lengah, kasip, atau kecolongan.

Sedangkan bagi para pengusaha ikan kemasan domestik, harus lebih berhati-hati. Pengolahan sejak pemilahan, pencuician, hingga pengemasan, harus dilakukan dengan pengawasan sangat ketat.

Gugus kendali mutu juga berperan penting, jangan sampai ada nila maski hanya setitik, jangan ada cacing meski hanya sepotong pada produk yang diolahnya.

Masyarakat berharap, pemerintah menghentikan sementara, impor ikan kemasan bercacing itu.

Kita harus punya jaminan, semua produk yang masuk ke negara kita terbebas dari berbagai unsur pencemar. Mungkin saja di negara pengekspor ikan kaleng itu, cacing bukan sesuatu yang menjijikan bahkan mungkin merupakan sesuatu yang biasa dikonsumsi.

Akantetapi bagi sebaghian besar bangsa kita, sesuatu yang menjijikan itu tidak layak dimakan.Kita juga harus menjamin, produk ikan kemasan kita yang diekspor, benar-benar bersih, sehat, matang, dan sedap.Semoga masyarakat Indonesia tidak kapok makan ikan. ***