Pelabuhan Patimban, Subang Disiapkan Kelak Arus Barang tak Menumpuk di Tanjung Priok

155

BISNIS BANDUNG- Ambisi  pemerintah  menghendaki  arus barang tidak hanya terpusat di Tanjung Priok,  patut diapresiasi.

Keinginan itu hampir terwujud  dengan  dibangunnya  Pelabuhan Patimban, Subang yang  masih dalam tahap konstruksi dan ditargetkan mulai beroperasi pada Maret 2019.

Proyek ini rencananya turut dibiayai Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) sebesar 118,9 juta yen atau sekitar Rp 14,17 triliun.  “Jepang mengakui proyek Patimban speed-nya cepat sekali. Kalau yang harusnya 3 tahun  menjadi  setahun. Jadi tahun depan sudah jadi,” ujar Menteri Perhubungan Budi Karya.

Budi menjelaskan, Pelabuhan Patimban diperkirakan dapat dioperasikan Maret 2019. Pelabuhan ini nantinya berkapasitas 7 juta TEUs (twenty-foot equivalent unit).

Jepang dan Indonesia akan membicarakan lebih lanjut mengenai operator pelabuhan. Namun, Budi menekankan Indonesia akan menjadi operator mayoritas pelabuhan ini.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono menuturkan, ground breaking Pelabuhan dilakukan Maret mendatang itu  telah disetujui Utusan Khusus Perdana Menteri bidang Infrastruktur Hiroto Izumi.

Pada tahap pertama, pembangunan pelabuhan  diperkirakan membutuhkan anggaran Rp17,16 triliun.  Dari jumlah tersebut, sekitar Rp14,17 triliun akan dipenuhi dari pinjaman JICA. Adapun secara total, pembangunan Pelabuhan Patimban membutuhkan anggaran Rp43 triliun.

Kawasan industri baru

Bahkan, pemerintah juga membangun Bandara Kertajati di Majalengka yang hampir rampung dan jalan tol Jakarta-Cikampek yang menyambung ke Cipali hingga Cirebon sebagai dukungan infrastruktur pengembangan kawasan industri Jawa Barat utara bagian timur.

Saat ini  sudah terdapat  lima hingga enam pengembang  yang mulai melakukan pembebasan lahan  dan diperkirakan akan terus bertambah.  Nantinya industri akan mulai bergeser ke Jabar utara bagian timur pada 2020.

“Paling sedikit ada 10 kawasan industri di sana dengan variasi luas antara 200 hektare sampai 2.000 hektare. Di Bekasi dan Karawang sekarang ada 22 kawasan industri,” jelas Ketua Himpunan Kawasan Indonesia (HKI) Sanny Iskandar dalam keterangan beberapa waktu lalu.

Pengembangan 10 kawasan industri baru di Jabar utara bagian timur akan tercapai pada 2020 dengan catatan kondisi ekonomi global mendukung.  “Seperti sekarang kan ada perang dagang, ini bisa menjadi peluang bagi Indonesia karena yang dibatasi masuk ke Amerika Serikat kan produk China,” katanya.

Dia menyebut, pengembangan kawasan industri di Jawa Barat diarahkan ke wilayah baru supaya lebih merata.  Selama ini kawasan industri Jabar hanya dikembangkan di wilayah utara bagian barat, seperti Bekasi dan Karawang. Tak pelak lagi kini  kawasan tersebut sudah mulai jenuh sehingga pengembangan selanjutnya mengarah ke timur.

“Jadi tidak hanya Jabar utara bagian barat saja yang berhasil, tetapi juga yang bagian timur meliputi Purwakarta, Subang, Majalengka, Indramayu, dan Cirebon. Nanti akan dibangun beberapa kawasan di sana,” ujarnya.

Perlu diketahui  kawasan industri juga menjadi salah satu pendukung implementasi industri 4.0 yang menjadi program pemerintah. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan meningkatkan jaringan internet 5G di kawasan industri.

Kemenperin akan berkoordinasi dengan Kemenkominfo untuk membahas regulasi serta menggandeng PT Telkom selaku operator penyedia layanan internet untuk perencanaan teknis. Menurut Airlangga, dalam upaya penerapan jaringan internet 5G di kawasan industri tersebut, saat ini masih dirancang peta wilayah pemasangannya.

“Industri 4.0 membutuhkan kecepatan data hingga 5G. Kalau datanya pakai yang lemot, ketika mau lihat proses di pabrik dan yang tampil di monitor akan ada time lag, waktu yang tidak cocok,” ungkapnya.

Airlangga mengatakan memasuki era digital saat ini, industri harus diimbangi dengan kualitas jarigan Internet yang cepat. Pemasangan jaringan Internet 5G tersebut terkait dengan pelaksanaan peta jalan Making Indonesia 4.0.

Adapun, dalam peta jalan Making Indonesia 4.0 terdapat  lima sektor pengembangan industri manufaktur yang akan menjadi percontohan, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektronik.(B-002)***