Pemodal Besar Dapat Hak Waralaba dari Luar Negeri

131

BISNIS BANDUNG —Sekretaris Jendral Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Tri Raharjo, SE mengemukakan,  bisnis waralaba di Indonesia terus berkembang dengan konsep menggandeng penerima waralaba untuk menjangkau pelanggan ke berbagai pelosok wilayah Indonesia , hingga ke pasar global.

Bisnis ini merambah ke berbagai kabupaten/kota di Indoenesia, bahkan merangsek sampai ke kota kecamatan.

Dikemukakan  Tri Raharjo , bisnis waralaba di Indonesia terlihat makin “dewasa” ,  baik dari sisi pemberi waralaba maupun penerima waralaba, seiring dengan makin terbukanya informasi bisnis ini.

Pengetahuan masyarakat akan pola bisnis waralaba semakin baik hal ini dikarenakan makin mudahnya akses informasi bisnis waralaba baik melalui pameran, media, seminar maupun internet.

“Diharapkan dengan mudahnya akses informasi waralaba akan memudahkan pemahaman dalam memilih dan menjalankan bisnis waralaba hingga berhasil. Dalam bisnis apapun tentunya sangat dinamis menyikapi pergerakan pasar, jadi tentunya harus tetap  berbenah untuk mencapai hasil yang ideal,”ujar Tri.

Dalam prakteknya, lanjut Tri , di Indonesia mengembangkan bisnis dengan sistem waralaba banyak digunakan oleh pelaku usaha skala UMKM, namun tidak sedikit  pelaku usaha besar juga menerapkan konsep waralaba dalam mengembangkan usahanya.

Pelaku bisnis bermodal besar, juga terlihat mengembangkan bisnis dengan mendapatkan hak waralaba dari bisnis waralaba luar negeri untuk dikembangan di Indonesia.

Bisnis waralaba didominasi oleh sektor usaha makanan, sektor usaha ini diminati karena pasarnya besar dan marginnya tinggi membuat bisnis waralaba kuliner sangat diminati oleh calon penerima waralaba.

“Tingkat keberhasilan masing – masing brand berbeda, menurut hemat saya bisnis waralaba memiliki tingkat keberhasilan di atas 80%,bahkan 90%  sudah cukup baik,”tutur Tri.

Menurutnya,  yang mesti diperhatikan oleh pelaku bisnis waralaba atau calon penerima waralaba adalah jaringan waralaba yang dijalankan oleh pemberi waralaba, berapa yang berhasil dan berapa yang gagal. Faktor apa saja yang menentukan tingkat kegagalan sebuah usaha waralaba.

Karena success rate dari sebuah brand waralaba  merupakan indikasi prospek atau tidak usaha tersebut untuk dijalankan. Untuk menilai indikasi waralaba yang berhasil , pertama brand yang kuat, kedua memiliki sistem yang kuat, ketiga memiliki produk/jasa yang unggul.

Ke empat memiliki manajemen support yang baik untuk mensukseskan penerima waralabanya. Kelima, memiliki aktifitas pemasaran yang memudahkan penjualan prosuk/jasa. Ke enam, Memiliki succes rate keberhasilan yang tinggi.

Keunggulan bagi pemberi waralaba, tentu banyak manfaatnya. Pertama, ekspansi bisnis lebih cepat dengan modal dari pihak penerima waralaba. Kedua, Mendapatkan pendapatan dari Franchise Fee, Royalty Fee dan Penjualan Bahan Baku.

Ketiga, Membangun jaringan penjualan produk atau jasa dengan resiko yang lebih kecil. Ke empat, memiliki posisi tawar di mata supplier lebih besar karena memiliki jaringan bisnis yang luas.

Sedangkan keunggulan bagi penerima waralaba , pertama menjalankan usaha dengan bisnis yang sudah proven. Kedua, menggunakan brand yang sudah relatif sudah terkenal.

Ketiga, Menjalankan usaha yang sudah memiliki standard operating procedure (SOP). Ke empat, mengurangi resiko usaha. Ke lima, adanya support pembukaan outlet dan setelah outlet dibuka.

Bisnis waralaba di Indonesia sangat diminati, indikasinya terlihat dari jumlah pengunjung pameran waralaba di JHCC Jakarta yang dikunjungi calon penerima waralaba sangat besar kisaran 15.000 pengunjung.

Bahkan aktifitas pameran juga berlangsung di daerah, seperti di Bandung, Surabaya, Jogjakarta, Semarang, Medan, Makasar, dan lain-lain.Jika dibandingkan di negara Asean lainnya pameran waralaba di Indonesia,  termasuk yang terbesar.

Tri Raharjo menegaskan, bagi pelaku usaha yang akan menerapkan sistem waralaba, Pertama, buat bisnisnya berhasil dan menguntungkan.

Kedua, membuat kajian kelayakan bisnis untuk diwaralabakan. Ketiga, Buat standarisasi seluruh proses bisnis untuk memudahkan duplikasi usaha.

Ke empat, mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang dimiliki. Ke lima, bentuk tim manajemen untuk memasarkan dan mensupport penerima waralaba. Ke enam, membuat perjanjian dan prospektus waralaba.

“Menurut hemat saya bisnis waralaba turut serta dalam menumbuhkan ekonomi, indikasinya terlihat dari bisnis waralaba mampu menumbuhkan wirausaha baru, penyerapan tenaga kerja di gerai gerai waralaba yang dibuka, penggunaan properti untuk outlet, supplier waralaba merasakan dampak positif dan tentunya menguntungkan buat pelanggan memudahkan untuk mendapatkan produk atau jasa”, pungkas Tri , Senin (9/4/18).  (E-018)***