Membuka Keran Dagang, Indonesia- Afrika

96

DIBANDING negara lain, Indonesia tertinggal dalam hal perdagangan dan hubungan ekonomi lainnya dengan semua negara di Benua Afrika. China yang sangat ekstensif membuka pasar global,  dapat menguasai pasar Afrika.

Berbagai produk China ada di pelosok negara-negara di sana. Lebih dari 10.000 perusahaan China, terutama swasta,  membuka ”lapak” di pasar Afrika.

Infrastruktur di semua negara Afrika dikuasai China lebih dari setengahnya. Begitu pula manufaktur, lebih dari 10 persen produjksi industri bernila 500 miliar dolar AS pertahun, dikelola perusahaan China.

Sedangkan perdagangan Indonesia-Afrika tahun 2017 baru mencapai 8,84 miliar dolar AS. Sangat kecil dibanding nilai perdagangan China-Afrika.

Wakil Presiden Jusuf Kalla, dalam pembukaan Forum Indonesia-Afrika (IAF) 2016 di Nusa Dua, Bali (10/4) menyatakan, pemerintrah Indonesia terus berupaya memperluas perdagangan dan investasi di pasar Afrika.

Wapres optimistis tahun 2018 ini perdagangan Indonesia-Afrika akan semakin meningkat. Hal itu tercermin dari meningkatnya nilai perdagangan Indonesia dan beberapa negara di Afrika. Misalnya, nilai perdagangan Indonesia- Liberia meningkat sampai 284%.

Pada IAF 2018 di Bali, terjadi hubungan bilateral antara pengusaha Indonesia dan utusan beberapa negara. Baik BUMN maupun perusahaan swasta menandatangani kesepakatan kerjsa sama.

Kesepakatan itu bernilai 586,5 juta dolar AS. Terjadi pula forum bisnis antara pemerintah dan 47 negara peserta IAF.

Muncul dalam pertemuan itu, di Afrika terdapat proyek Indonesia yang tengah berlangsung dan dalam tahap penjajagan. Proyek itu bernilai 1,32 miliar dolar AS.Selain itu banyak negara di Afrika yang berminat terhadap produk Indonesia.

Senegal berminat membeli kapal, kendaraan bermotor, bahkan kelengkapan rumah tangga.

Madagaskar berminat mengimpor kereta api buatan PT INKA. Jalur-jalur penerbangan langsung Addis Ababa-Jakarta. Terjadi juga kesepakatan kerja sama Pelabuhan Indonesia II dengan otoritas pelabuhan Djibouti.

IAF 2018 yang berlangsung dua hari di Bali itu membuka harapan sangat besar. Potensi pasar Afrika semakin terbuka bagi semua produk Indonesia, baik komoditas maupun produk manufaktur.

Pemerintah meyakini, Indonesia dapat memperluas perdagangan dan investasi.  Negara-negara di Afrika punya potensi ekonomi sangat besar.

Semula, baik BUMN maupun swasta punya anggapan keliru tentang potensi Afrika. Sebagian dari kita beranggapan, Afrika bukan pasar potensial bagi produk Indonesia.

Banyak negara di Afrika yang terpuruk akibat penjajahan dan perang saudara yang berkepanjangan.

Angka kemiskinan di beberapa negara masih sangat tinggi. Pemerintahnya tidak punya kesempatan luas memikirkan peningkatan ekonomi dan perdagangan.

Dalam situasi seperti itu, tidak ada negara, termasuk Indonesia yang berminat menanamkan investasi dan membuka jalur perdagangan yang lebih luas. Namun ternyata, China justru melangkah lebih awal.

Negara yang dikenal sebagai pedagang ulung itu, memberi berbagai kemudahan dalam, bentuk investasi jangka panjang, pinjaman modal, bahkan loan dalam menyelesaikan berbagai proyek infrastruktur. China juga melempar berbagai  produk dengan harga terjangkau.

Indonesia masih punya kesempatan membuka keran perdagangan di pasar Afrika. Kita punya hubungan emosional yang lebih dekat dengan bangsa Afrika. Pintu Afrika sudah terbuka melalui IAF 2018. Tinggal melangkah dengan langkah lebih besar. ***