Miras Oplosan Jaklan Pintas ke Kematian

121

KECELAKAAN bus yang menewaskan 27 orang di Subang, Jawa Barat, menjadi viral bukan saja di dalam negeri tetapi menjadi berita hangat di dunia internasional.

Peristiwa itu dinilai sebagai peristiwa luar biasa atau extra- ordinary karena menyangkut nyawa manusia. Minggu kedua bulan April ini, terjadi peristiwa luar biasa pula.

Di Kabupaten, Kota Bandung, dan Sukabumi ada 51 orang dinyatakan tewas akibat menenggak minuman keras oplosan.Wajar apabila berita itu viral karena termasuk berita exrra-extra ordinary, luar biasa.

Sekira 89 orang secara bersama-sama atau dalam kelmpok-kelompok terpisah, menyelenggarakan pesta miras. Mereka meminum minuman beralkohol yang dicampur dengan berbagai bahan yang dikenal dengan sebutan miras oplosan.

Apa saja yang menjadi bahan campuran miras oplosan itu, masih dalam penelitian saksama.

Diketahui yang dicampurkan ke dalam minuman keras beralkohol tinggi (hampir 98%) itu ada metanol, etanol, ginseng bubuk, racun nyamuk, dan entah apa lagi.   Namun yang pasti campuran itu jelas-jelas mematikan.

Pada saat yang hampir bersamaan, selepas minum miras oplosan itu, lebih dari 50 orang meninggal, dan sejumlah lainnya dirawat di rumah sakit.

Mengapa peristiwa seperti itu dapat terjadi, justru di tengah-tengah masyarakat Jawa Barat yang dikenal agamis dan antihomer? Ada masalah psikologis dan sosiologis apa yang tengah dialami sebagian warga? Bukankah semua orang tahu persis, miras dan narkoba berbahaya bagi penggunanya? Amat sering kita dengar berita tentang korban  miras oplosan itu.

Korban tewasnya juga cukup banyak. Seharusnya orang tahu, campiran miras dengan etanol, misalnya, menyebabkan peminumnya mati lemas.

Pasti karena itulah, Tuhan tidak memperkankan makhluk ciptaan-Nya mendekati minuman keras (homer). Para leluhur kita juga meminta turunannya menjauhi kebiasaan minum minuman keras.

Main (judi), maling, mabuk, madat (candu), menjadi larangan yang disampaikan secara turun temurun. Lebih dari 14 abad yang lalu, minuman yang memabukkan itu harus dijauhi bahkan dinyatakan haram dalam, agama Islam.

Miras atau homer membuat orang mabuk, kehilangan daya nalar, tidak dapat memilih mana yang baik dan mana yang jelek. Apalagi minuman keras yang dicampur dengan bahan-bahan mematikan.

Miras oplosan merupakan jalan pintas menuju kematian. Bisa jadi, para penenggak minuman yang mematikan itu memang  punya niat menempuh jalan pintas menuju kematian.

Para pengoplos, pengedar, pedagang, dan juga konsumen miras oplosan merupakan lingkaran setan yang tidak dapat dituduh siapa yang paling bersalah.

Lingkaran itulah yang harus kita putus. Tidak bisa kita menimpakan kewajiban memutus lingkaran itu hanya kepada Polri.

Keluarga, lingkungan, dan pendidikan juga punya peranan yang sangat besar. Pengoplos akan berhenti melakukan pekerjaannya apabila tidak ada distributor yang siap mengedarkannya.

Pedagang akan menutup lapak atau kiosnya apabila barang dagangannya tuidak ada yang membeli. Penenggak tidak akan nmelalukan pesta miras apabila miras oplosannya tidak ada.

Kita mengapresiasi, Polri cepat melakukan tinakan. Kios penjual miras ditutup, pedagangnya ditahan, pengedar dan pengoplosnya diburu. Pemerintah dan masyarakat harus sejak awal mengantisipasi maraknya perilaku aneh keluarganya.

Para pendidik, termasuk alim ulama,  dituntut berupaya lebih keras, menanamkan budi pekerti, keimanan, dan ketakwaan  kepada semua anak didik. Cegahlan anak-anak kita mendekati jalan kematian yang sesat itu.

Pengawasan terhadap peredaran miras (oplosan atau bukan) ditingkatkan lagi sebelum korban berjatuhan lebih banyak lagi. Para pedagang, mari kita niatkan dalam hati, kita berdagang dalam koridor etika dan regulasi yang berlaku.

Kita khawatir, peredaran miras oplosan yang semakin masif itu merupakan bagian dari tindakan teror yang ingin menghancurkan generasi muda kita.Audzubillahi mindzalik. ***