Tahun Kebangkitan Ekonomi dan Hiruk Pikuk Politik

104

DANA Moneter Internasional (IMF)  memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini mencapai 5,3 persen. Proyeksi itu sama dengan angka yang dirilis Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB).

Diprediksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahun depan malah lebih tinggi yakni pada kisaran 5,5 persen. Sedangkan Pemerintah RI pada APBN 2018 menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen. Angka itu lebih tinggi dari PDB 5,07 persen.

Pertumbuhan ekonomi yang meningkat itu dipicu dengan naiknya nilai konsumsi rumah tangga dan nilai  ekspor produk nonmigas. Pendorong lainnya ialah sektor investasi.

Indonesia sampai sekarang masih merupakan negara yang memiliki daya tarik kuat masuknya investasi. Peningkatan itu juga terutama dipicu dengan makin membaiknya situasi ekonomi global.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi itu merupakan angin segar bagi bangsa Indonesia. Soalnya, hambatan terhadap laju pertuimbuhan ekonomi itu sangat banyak dan beragam. Tahun 2017 – 2019 Indonesia berada dalam tensi politik yang terus meninggi.

Menurut pengalaman, setiap kali terjadi hiruk pikuk politik, setiap kali itu pula pertumbuhan ekonomi stagnan bahkan melambat. Tiga tahun ini, suhu politik akan terus memanas.

Pemilihan Kepala Daerah Serentak 2018 diikuti dengan Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif tahun 2019, membutuhkan konsentrasi para pemegang kekuasaan. Situasi yang makin panas juga akan berpengaruh terhadap sikap politik bahkan sikap hidup masyarakat luas.

Hal itu biasanya punya pengaruh sangat besar terhadap ekonomi. Benar, pada sisi lain, tahun politik dapat meningkatkan pendapatan para pelaku usaha UMKM, namun pada sisi yang lebih besar, tensi politik yang panas biasanya menekan pertumbuhan ekonomi.

Konsumsi rumah tangga

Proyeksi peningkatan laju pertumbuhan ekonomi jangan membuat kita semua terutama pemerintah berleha-leha. Justru menghdapi tahun politik yang memuncak pada pemilu presiden dan legislatif, kita semua harus memiliki persiapan antisipatif.

Efisiensi yang proporsional harus segera dilakukan, perlindungan tetrhadap rakyat dengan meningkatkan kesiapan keamanan juga harus dilakukan secara masif.

Meningkatnya petrtumbuhan ekonomi antara lain dipicu dengan meningkatnya konsumsi rumah tangga. Hal itu harus terus dipertahankan bahkan lebih ditingkatkan.

Peningkatan konsumsi rumah tangga berkaitan erat dengan peningkatan daya beli masyarakat.

Sedangkan daya beli masyarakat akan tumbuh apabila pemerintah dapat mengendalikan harga, terutama harga kebutuhan pokok, termasuk harga BBM, tarif listrik dan air. Di samping itu pendapatan pekapita harus terus didorong.

Sektor investasi memiliki daya dorong sangat besar terhagap pertumbuhan ekonomi. Indonesia masih terbuka terhadap masuknya modal asing.

Serktor pertanian, inftastruktur, manufaktur, dan jasa, masih memiluiki celah cukup luas bagi kaum investor. Para pemilik modal itu sedang berlomba menanamkan modalnya pada sektor perhubungan, konstruksi, IT,  waralaba, dan sebagainya.

Namun pemerintah hendaknya punya sikap lebih berhati-hati menerima masuknya investasi dari luar itu. Pemeliharaan lingkungan hidup, tenaga kerja lokal, dan bahan baku domestik, harus menjadi perhatian khusus.

Pencemaran Citarum akibat pesatnya industri di Jawa Barat, jangan sampai terulang. Para investor harus berkomitmen, bersama-sama pemerintah dan masyarakat, membebaskan sungai dan udara dari pencemaran.

Kita berharap pertumbuhan ekonomi itu dapat terus meningkat, setidakntya, dalam dua tahun ini, pemerintah dapat mempertahankannya. ***