Berburu Kolang – kaling dan Timun Suri Kuliner Khas Ramadan

129

Ada sebuah penganan yang selalu hadir saat bulan Ramadan. Penganan ini ialah kolang kaling. Buah kolang kaling , kuliner khas Ramadan yang diolah menjadi kolak dicampur pisang ,ronde es buah ataupun manisan.

Kolang kaling berasal dari buah  pohon aren yang dikenal merupakan  pohon yang memberi banyak manfaat bagi manusia

. Mulai dari batangnya sebagai bahan baku tepung,kemudian saribunga dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuat gula hingga daun yang dimanfaatkan untuk bahan  atap rumah.Fenomena unik yang tercipta ialah kolang kaling sebagai buah dari pohon aren selalu melimpah saat bulan Ramadan.

Kolang-kaling selain memiliki rasa yang enak ternyata juga memiliki khasiat dan manfaat yang luar biasa bagi kesehatan. Kolang-kaling kaya kandungan mineral seperti protasium, iron, kalsium yang bisa menyegarkan tubuh serta memperlancar metabolisme tubuh.

Selain itu, juga mengandung vitamin A, vitamin B dan vitamin C. Kolang-kaling dikenal bisa membangkitkan stamina dan kebugaran tubuh.

Kandungan karbohidrat yang dimiliki kolang kaling bisa memberikan rasa kenyang bagi orang yang mengonsumsinya, selain itu juga menghentikan nafsu makan dan mengakibatkan konsumsi makanan jadi menurun, sehingga cocok dikonsumsi sebagai makanan diet.

Kolang-kaling juga bermanfaat untuk mengobati nyeri sendi dan mengandung kalsium sama dengan tulang sapi. Kandungan mineral seperti protasium, iron, kalsium mampu menyegarkan tubuh dan memperlancar proses metabolisme tubuh.

Kuliner khas Ramadan lainnya ialah bubur kampiun, sebagaimana namanya, bubur yang satu ini memang juara. Disebut kampiun karena bahan  bubur terdiri dari beragam isian yang mengundang selera.

Dalam sepiring bubur kampiun, Anda akan menemukan bubur sumsum, kacang hijau, beras ketan, kolak pisang, bubur pacar cina, sarikaya, dan kolak biji salak.

Bagi masyarakat Minang , menyantap bubur ini bukan hanya pada saat bulan Ramadan saja,namun bubur ini kerap kali di sajikan sebagai menu sarapan.Penamaan bubur kampiun sendiri dalam sejarahnya berasal dari Kota Bukittinggi.

Cuacanya yang dingin membuat orang ingin makan yang panas dan mengenyangkan untuk menghangatkan badan. Jadilah bubur kampiun hidangan untuk sarapan atau saat udara dingin di malam hari.

Dikisahkan , bubur ini merupakan ciptaan seorang nenek penjual aneka bubur. Kala itu sekitar tahun 60-an diadakan lomba membuat bubur. Sang nenek kemudian mencampur semua bubur yang biasa dijualnya dan menamakan bubur tersebut dengan nama bubur kampiun.

Bekas-bekas penjajahan Eropa di Sumatera Barat masih menyatu dengan bahasa masyarakat setempat kala itu. Kampiun merupakan serapan kata dari champion yang artinya pemenang pada lomba yang sedang diikuti sang nenek,hingga hari ini bubur ini dinamakan bubur kampiun.

Untuk saat ini bubur kampiun bukan hanya bisa dinikmati masyarakat Minang saja,kepopuleran bubur kampiun telah menyebar keseantero Indonensia.

Di setiap kota besar, kita bisa dengan mudah menemukan penjual bubur kampiun.Apalagi saat bulan Ramadan para penjual bubur kampiun menjamur di setiap lokasi.

Mengapa bubur ini begitu populer sebagai penganan untuk buka puasa,tidak sulit untuk menemukan jawabannya,karena tekstur bubur yang lembut serta rasanya yang manis menyebabkan banyak orang senang berbuka dengan penganan ini.

Di dalam Islam sendiri dianjurkan untuk berbuka puasa dengan hidangan manis , cocok dengan karakteristik bubur kampiun.

Harga yang ditawarkan oleh para penjual bubur kampiun cukup beragam,namun kisarannya sangat terjangkau untuk satu porsi biasanya di hargai Rp 10.000 hingga Rp 20 .000 saja.

Kuliner Ramadan selanjutnya ialah Timun suri,untuk Anda yang berpuasa pasti takkan melewatkan kesempatan untuk berburu timun suri. Buah yang kaya kandungan air ini memang cocok dipakai sebagai salah satu bahan minuman berbuka.

Selain menyegarkan karena dapat memuaskan dahaga, buah ini juga memiliki beragam khasiat. Timun suri merupakan anggota keluarga labu-labuan (Cucurbitaceae). Buah ini memiliki bentuk lonjong dengan kulit berwarna kuning.

Di balik bentuknya yang lonjong, buah ini memuat beragam nutrisi seperti asam linoleat, glukosa, fluktosa, vitamin A, C, kalium, potasium, magnesium, saponin, dan lain lain.

Dari zat-zat yang terkandung di dalamnya sudah jelas dapat kita ketahui bahwa buah yang menjadi salah satu faforit masyarakat ini ternyata bukan hanya menyegarkan saja tapi juga memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan tubuh.

Buahnya yang setengah masak biasa dijual secara musiman pada bulan puasa (Ramadan) karena daging buahnya menjadi komponen minuman penyegar untuk berbuka puasa. (E-001) ***