Muhammad Eggi Hamzah SH.,MH., Kerja Pintar Bukan Kerja Keras

241

Muhammad Eggi Hamzah SH., MH (39),  anak dari keluarga Paskah Suzeta ini, berprofesi sebagai pengusaha properti / developer.  Ia menjabat sebagai Direktur Utama PT Perisaidaya Usaha. 

Suami dari Ganyuvi (35) ini menuturkan bahwa,  menjadi pengusaha memang merupakan salah satu cita-citanya sejak kecil. Pasalnya, iya yakin bahwa banyak jalan menuju kesuksesan, dan salah satunya adalah menjadi pengusaha.

Setelah lulus kuliah S1 tahun 2001, Eggi Hamzah mulai menjadi pengusaha, yang diawali dengan menjadi agen gas elpiji Pertamina, serta membuka toko Handphone, maupun menjadi distributor kain dan berbagai bisnis retail lain yang dicobanya, sehingga sudah puluhan bisnis yang dijalaninya.

Selain menjadi pengusaha, Eggi juga mulai belajar menjadi advokat, sesuai dengan latar belakang pendidikannya di bidang hukum. Terakhir, Eggi mencoba menjadi pemilik saham di salah satu perusahaan logistik, yang menurut beberapa media menjadi salah satu dari 10 besar perusahaan logistik yang ada di Indonesia.

Namun, seiring dengan kemajuan jaman dan peningkatan teknologi, serta kebutuhan manusia yang selalu berubah-ubah, akhirnya Eggi Hamzah meninggalkan semua bisnisnya, begitupun dengan profesinya sebagai advokat, karena merasa tidak cocok dengan kegiatan sebelumnya.

“Sebenarnya, di usaha properti ini saya sudah terjun sejak 2005, tapi pada waktu itu saya tidak terlalu fokus, dan akhirnya, baru di tahun 2014 / 2015 saya mulai serius menekuni bisnis properti untuk rumah sederhana di daerah kabupaten bandung.  Alhamdulillah, saya bisa menjalankannya dengan sukses.

Selama 2 tahun perumahan saya terjual semua, dan sampai sekarang bisnis properti ini terus saya jalankan, ditambah beberpa usaha saya yang lain”, cerita Eggi tentang awal perjuangan usahanya kepada Bisnis Bandung.

Pendidikan S1 Eggi Hamzah adalah di Sekolah Tinggi Hukum Bandung, S2 Magister Hukum nya ia tempuh di Universitas Padjajaran.

Orang tuanya awalnya adalah pengusaha, tetapi akhirnya berkarier di politik. Bisa jadi, profesi Eggi saat ini ada kaitannya dengan latar belakang keluarganya, yang notabene berasal dari pengusaha juga.

Eggi Hamzah mengaku bahwa,  modal usahanya saat ini berasal dari hasil mengumpulkan uang lewat usaha-usaha sebelumnya, ditambah dari pinjaman.  Sertifikasi perusahaannya dikeluarkan oleh Kadin.  Untuk saat ini, target pasar usaha propertinya masih di sekitar Jawa Barat.

Alasannya adalah, karena di Jawa Barat penduduknya banyak, ditambah dengan pertumbuhan penduduk yang juga cepat, sehingga otomatis kebutuhan tempat tinggal akan terus meningkat.  Hal ini bagus untuk dijadikan target pasar.

Dikatakan pula oleh Eggi bahwa, di jaman ekonomi sulit seperti sekarang ini, pemasaran rumah lebih banyak mengarah ke segmen bawah, artinya, rumah-rumah murah ditambah dengan subsidi bunga dari pemerintah sangatlah menarik untuk dipasarkan.

Harga rumah subsidi tidak boleh lebih dari Rp.136 juta / unit.  Salah satu proyek perumahan bersubsidi yang ditekuni Eggi saat ini adalah, perumahan di daerah Cikancung, Kabupaten Bandung (kompleks Surya Rahayu). Dan sekarang, Eggi sedang mengembangkan 2 lokasi perumahan lagi di daerah Bogor.

Ia mengklaim bahwa, segmen pasarnya adalah tipe perumahan sederhana, karena harganya yang cukup terjangkau, ditambah subsidi bunga dari pemerintah.

  Pembelinya kebanyakan adalah pegawai pabrik, keluarga baru, PNS, maupun pengusaha kecil yang berpenghasilan rendah dan ingin memiliki rumah pertama.

 Tipe rumah sederhana ini sekarang banyak sekali diminati oleh pengusaha properti untuk dikembangkan, karena penjualannya jauh lebih mudah dibandingkan dengan rumah kelas menengah atau mewah.

Namun, banyak juga pengusaha properti tipe rumah sederhana yang membangun proyek rumahnya dengan bahan dari kualitas rendah.

Eggi Hamzah mengklaim bahwa, proyek rumahnya lebih mengutamakan kualitas, seperti, rangka atapnya ia memilih untuk memakai baja ringan, tembok rumahnya plester aci, sehingga bias menarik konsumen, walaupun Eggi harus mengurangi sebagian keuntungan yang diperoleh.  Prinsipnya, kepuasan konsumen adalah segalanya.

Sampai saat ini, ada 3 proyek properti yang sedang digarap oleh Eggi Hamzah. Satu proyek sudah selesai, dan 2 proyek lainnya masih dalam tahap pengerjaan.

Tentu saja bisnis properti ini harus terus berkembang, dan beberapa bulan lagi ada beberapa proyek pembangunan perumahan baru, yang lokasinya segera di survei dalam 1-2 bulan kedepan.

Menurut Eggi, bisnis properti sangat dipengaruhi oleh faktor masyarakat di lokasi setempat.  Banyak gangguan yang sering dihadapi, mulai dari pungli maupun preman.

Intinya, pengusaha properti harus mempunyai tim yang bisa berbaur dengan masyarakat setempat.  Inilah seninya bisnis properti, yang harus dihadapi serta bisa dinikmati.

 “Salah satu pengalaman unik yang pernah dialami adalah, ketika salah satu proyek perumahan yang saya bangun awalnya memiliki sumber mata air yang letaknya di tanah yang sudah kita beli.  Letak mata air ini berjarak 1,5 Km dari proyek perumahan, dan kita alirkan menggunakan pipa.

Namun, setelah sekian lama, airnya tidak mengalir lagi ke kompleks perumahan, dan ternyata, pipa nya diambil oleh masyarakat yang rumahnya terlewati jalur pipa air tersebut.  Kita sempat pusing, karena rumah tanpa ada air bersih tentu tidak akan ada yang beli.

 Akhirnya, setelah saya berdiskusi dengan tim, maka diputuskan untuk berkonsultasi dengan pihak desa.  Solusinya, kita bangun kembali pipanya dan desa yang mengelola airnya, sehingga ada kontribusi bulanan dari masyarakat ke desanya.

 Masalah ini akhirnya bisa diatasi, dan siapa yg mengambil air tanpa izin akan berurusan dengan kantor desa, bukan dengan pihak pengembang, sehingga air bisa mengalir ke perumahan yang kita bangun dengan lancar,” ungkap Eggi Hamzah.

Ayah dari Viellora (7)  dan Aldrick (5)  ini mengutarakan bahwa, semua usaha pasti menghadapi kendala.  Namun yang penting adalah, bagaimana semua permasalahan itu bisa diselesaikan dengan solusi.

Persaingan biasanya muncul dari developer-developer besar yang mempunyai modal kuat, namun, mereka cenderung lebih memilih untuk membuat rumah bagi kelas menengah keatas, karena secara keuntungan tentu lebih menggiurkan, sehingga mereka tidak banyak yang masuk ke bisnis rumah sederhana.

Untuk dapat bersaing, kita harus mempunyai proyek  perumahan yang lokasinya bisa terjangkau dari tempat kerja, atau wilayah yang dekat dengan keramaian masyarakat, dan ini menjadi jadi point penting agar bisa sukses dalam pemasarannya.

 “Kalau ditanya hingga kapan saya akan menggeluti profesi sebagai pengusaha properti, maka jawabannya, saya belum tau.  Sepanjang bisnis properti ini bisa membawa keuntungan, kenapa tidak untuk berbisnis disini.

 Sebagai pengusaha, kita harus pandai melihat peluang ke depan, dan kalau ada bisnis lain yang lebih bagus, mungkin saja saya akan pindah ke usaha yang lain.  Banyak usaha yang pernah saya jalankan sebelumnya, namun akhirnya saya lebih memilih untuk terjun di bisnis properti,” ucap Eggi kepada BB.

Eggi Hamzah sekarang ini juga menjalani profesi sebagai konsultan di perusahaan-perusahaan yang sudah ‘go public’.

 “Bisnis properti itu banyak jedanya, terutama kalau sedang mengurus proses perizinan dan pemasaran awal, yang mana kita harus menunggu antara 6-9 bulan.

Menjalani bisnis properti sebenarnya tidak terlalu sibuk, karena saya bisa menyewa tenaga survey awal dan marketing yang berpengalaman.  Banyak sekali perusahaan outsourcing yang menyediakan tenaga marketing untuk properti.

Untuk membangun perumahannya pun kita bisa bekerjasama dengan kontraktor.  Ketika memulai bisnis properti, biasanya kita hanya sibuk di awal, tapi setelah berjalan maka kita cukup mengontrol saja,” tutur Eggi.

Pegawai tetap dalam bisnis properti Eggi saat ini tidak lebih dari 10 orang, namun kalau pegawai kontrak dalam setiap proyek bisa mencapai ratusan orang.

Dalam bisnis properti, ketika pembangunan dilaksanakan, Eggi mengontrak banyak tukang dan beberapa ahli bangunan.  Sebagai pengusaha property, omzet yang didapat bisa naik turun, kadang sampai puluhan milyar perbulan, tapi kadang juga kecil.

Penganut moto hidup “kerja cerdas bukan kerja keras” ini mengatakan juga bahwa, selain sebagai pengusaha properti,  ia juga aktif di Hipmi, Kadin, Kosgoro, Japnas dan lain-lain.  Menurut Eggi, organisasi itu sangat penting, karena Ia percaya bahwa, keberhasilan dan kesuksesan seseorang berawal dari silaturahmi.

  Dengan berorganisasi, kita punya teman , bahkan karena berorganisasi, kita bisa punya teman dari seluruh di Indonesia, dan punya jaringan di seluruh Indonesia, bahkan di luar negeri.

“Saya senang berdiskusi dengan teman-teman di organisasi untuk saling sharing tentang bisnis kita masing-masing, sehingga kita bisa mendapat pengetahuan yang luas mengenai berbagai macam bisnis dan cara menjalankannya.

Terkadang saya juga turut invest di bisnis teman-teman, kalau mereka kebetulan memiliki bisnis yang bagus, begitu juga sebaliknya.  Bahkan, tidak sedikit orang yang akhirnya membangun usaha bersama, yang dimulai dari silaturahmi dalam organisasi.  Dari silaturahmi, kita bisa mendapat ilmu, permodalan dan lain-lain.

Tapi semua ini tak lepas dari cara kita bergaul, karena ada juga orang yang masuk organisasi tapi dia tidak aktif, sehingga akhirnya tidak bisa mendapatkan apa-apa”, papar Eggi Hamzah.

Peluang usaha di dunia properti masih terbuka luas, karena di Indonesia masih banyak rakyat yang belum memiliki tempat tinggal, sehingga makin banyak orang yang membutuhkan tempat tinggal.  Pertumbuhan penduduk di Indonesia juga luar biasa, sehingga Eggi yakin bahwa, kedepannya industri properti akan terus tumbuh seiring dengan pertambahan jumlah penduduk.

Pemerintah saat ini sangat mendukung pertumbuhan properti di Indonesia dengan program 1 (satu) juta rumah sederhana.  Banyak juga program dukungan lain dari pemerintah seperti, memberikan subsidi bunga.

Sehingga orang bisa memiliki rumah sederhana dengan bunga 5 % fix sampai dengan 20 tahun, serta keringanan pajak, ditambah juga dengan Dp rumah yang hanya 1-5% dari harga rumah untuk rumah sederhana.  Ada pula bantuan dari pemerintah yang berupa fasilitas infrastruktur.

Untuk masalah permodalan, kita bisa bersinergi dengan bank, sedangkan untuk bidang pemasaran, semua itu tergantung kejelian pengusaha dalam menjual dan memasarkan produk rumahnya. 

Kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal yang terus meningkat, tentunya menjadi pendorong industri properti untuk terus tumbuh, ditambah dengan adanya kebijakan pemerintah pusat mengenai rumah sederhana.

 “Kalau berbicara tentang dunia properti, ada beberapa issue yang berkembang saat ini, yang mana tipe rumah mewah dan menengah pasarnya sedang menurun, disebabkan ekonomi dunia sedang bergejolak.

Namun, ada juga issue yang menyatakan bahwa, walaupun daya beli masyarakat menurun, kebutuhan masyarakat untuk tempat tinggal tetap saja tinggi, sehingga bisnis rumah sederhana ini dapat menjadi solusi.

Pemasaran rumah sederhana sampai saat ini masih bagus.  Bila ingin tetap survive, kita harus pandai melihat peluang.  Ada beberapa developer rumah mewah dan menengah, yang kemudian juga beralih ke bisnis rumah sederhana.  Kita berharap.

Pemerintah bisa mempercepat proses perizinan, dan memberikan keringanan pajak untuk pengusaha properti. Kadangkala kita harus mengurus sertifikat dalam waktu yang lama, ditambah lagi mengurus perizinan di kota / kabupaten yang membutuhkan waktu lama.

  Selain itu, kepastian hukum yang ada di Indonesia juga perlu dilengkapi lagi, karena banyak pengusaha properti yang sudah berinvestasi dalam pembelian tanah, namun beberapa waktu kemudian baru diketahui bahwa tanah itu bermasalah.

Pemerintah juga diharapkan bisa memberi keringanan pajak dan biaya asuransi perihal mendapatkan kredit dari bank, sehingga Dp awal untuk pembelian tipe rumah mewah dan menengah bisa diturunkan dibawah 20%.

Karena banyak masyarakat yang bisa membayar cicilan rumah, tapi berat untuk membayar DP awal, disebabkan selain membayar DP awal 20%, pembeli juga harus membayar pajak serta asuransi untuk bisa memperoleh kredit bank,” pungkas penggemar warna merah ini kepada BB.     ( E-018) **