THR ‘Angin Segar’ bagi Tenaga Honorer

96

PARA tenaga honorer bersorak atas konfirmasi Menteri Keuangan Sri Mulyani soal pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR).

Melalui laman Facebook-nya, Sri menegaskan bahwa pemerintah akan mengucurkan dana THR sebesar Rp440,38 miliar pada Juni 2018.

Itu termasuk untuk tenaga honorer yang bekerja di instansi pemerintah, seperti sekretaris, satpam, pengemudi, petugas kebersihan, dan pramubakti.

Salah satu pengemudi di lingkungan Kementerian Luar Negeri, Alex mensyukuri kebijakan itu.

“Bagus lah, artinya pemerintah memikirkan nasib kami. Sekarang kan demokrasi, dari rakyat untuk rakyat. Uang rakyat juga kok, ya kasih lagi ke rakyat. Daripada di korupsi anggota parlemen,” kata Alex saat ditemui wartawan di Jakarta, Sabtu (26/5).

Alex sudah 12 tahun bekerja sebagai pengemudi di Kemenlu. Namun ia ingat, baru tiga tahun terakhir THR ia nikmati. Demikian pula dengan tenaga honorer lainnya, seperti tukang kebun dan petugas keamanan. Tiga tahun lalu, jumlah THR pun tergantung kebijakan Kemenlu.

Kini jumlah THR tenaga honorer diberikan sesuai satu bulan gaji yang bersangkutan. Namun, antar petugas honorer di setiap instansi negara jumlahnya bisa berbeda-beda. Menurut Alex, itu karena tiap instansi negara punya kebijakan berbeda soal gaji kepada tenaga honorer.

“Teman saya di kementerian lain, gajinya lebih besar daripada saya,” ujarnya.

Di satu instansi saja, berbeda satuan kerja bisa berbeda pula jumlah gaji dan THR-nya.

“Teman saya sesama pengemudi ada di satker lain gajinya lebih besar. Ada Ditjen Amerika Eropa, Ditjen Asia Pasifik dan Afrika, dan lain-lain itu gajinya saja berbeda-beda. Jadi kembali tergantung dari internalnya instansi pemerintah,” ucap Alex menjelaskan.

Meski begitu ia tetap mensyukuri THR yang didapat karena itu sangat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Belum lagi, bulan ini menjelang tahun ajaran baru. Beranak dua, Alex harus mengalokasikan THR untuk daftar ulang dan membeli buku pelajaran.

Alex mengaku tidak mempermasalahkan kapan dana THR bisa cair. Ia sendiri lahir di Jakarta, sehingga tak perlu mempersiapkan mudik ke kampung halaman. Namun menurut Alex, rekan-rekannya yang harus mudik berharap agar THR bisa cari maksimal seminggu sebelum Lebaran.

“Yang getol dapat THR itu ya yang harus mudik. Saya sih tidak mempermasalahkan, saya kan tidak punya kampung,” kata Alex.

Diwawancarai secara terpisah, petugas keamanan di Kantor Wilayah Kementerian Agama Jakarta Timur, Kris mengatakan ia pasrah terhadap apa pun yang diterapkan oleh pemerintah.

Pria yang sudah sembilan tahun menjadi petugas keamanan di kantor Kanwil Kemenag itu bercerita, awalnya ia berasal dari perusahaan outsourcing. Memasuki tahun ketiga bekerja, ia ‘diambil alih’ oleh subbagian umum.

“Anggap saja ini subbag umum mengurus rumah tangga kantor ini,” kata Kris.

Senada dengan Alex, ia bergembira dengan kebijakan pemerintah yang memutuskan untuk memberikan THR bagi petugas honorer. Ia juga akan mengalokasikan THR-nya untuk keperluan anak dan rumah tangga. Seperti Alex, anaknya juga akan menghadapi tahun ajaran baru.

“Ya untuk beli baju anak juga menjelang lebaran. Ya THR membantu kita lah,” ujar Kris.

Baik Alex dan Kris berharap THR bagi tenaga honorer ikut dinaikkan, menyusul naiknya anggaran THR dan gaji ke-13 PNS sebesar 68,9 persen. (c-003/rsa)***