Perubahan Terjadi Terdorong Kertajati

103

RAKYAT Jabar, khususnya orang Majalengka patut bersyukur dan berbangga, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka resmi dibuka Presiden Jokowi Kamis kemarin.

Bandara internasional yang digagas dan digarap sejak 15 tahun lalu itu kini selesai. Pendaratan perdana di landasan Kertajati itu dilakukan pesawat kepresidenan. Diikuti dua pesawat berbadan lebar dari Jakarta dan Bandung.

Kerja keras Pemda Jabar dan masyarakat Majalengka itu berbuah manis. Jabar punya bandara internasional. Bandara yang mampu menberi pelayanan penerbangan domestik dan internasional, termasuk pemberangkatan haji meski masih berupa embarkasi.

Diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama, tuntutan penerbangan  yang mengharuskan BIJB memiliki landasan pacu 3.000 meter—sekarang 2.500 m—segera terwujud. Dengan demikian, semua jenis pesawat angkut, termasuk angkutan jamaah haji, akan dapat landing dan tinggal landas di BIJB.

Dirjen Perhubungn Udara, Kemenhub, Agus Santoso, seperti dimuat PR (28/5) mngajak semua pemangku kepentingan, berusaha keras mengoptimalkan Bandara Kertajati. Ia berharap, dengan upaya yang sinergitas tinggi itu, potensi-potensi ekonomi yang ada, dapat terwujud.

Taraf hidup masyarakat sekitar dapat meningkat. Begitu pula ekonomi Jawa Barat akan lebih terpacu. Untuk mencapai hal itu, operasional bandara harus dimaksimalkan baik dari sisi aero maupun nonaero.

Menurut Dirjen, di dunia internasional, bidang penerbangan adalah salah satu pemicu utama dalam pengembangan perekonomian suatu kawasan.

Karena sifatnya yang multinasional, cepat, berteknologi tinggi, dan mampu menyerap tenaga kerja, bandara selalu menjadi pemicu berkembhangnyua ekonomi dan taraf hidup masyarakat sekitar.

Hal itu merupakan peluang yang sangat terbuka bagi masyarakat dan pemprov serta pemkab. Pembangunan Areo City akan berdampak positif bagi masyarakat sekitar.

Pemerintah pusat berharap masyarakat terpacu dalam memanfaatkan peluang tersebut. Masih banyak spot pembagunan nonaero yang dapat dikerjakan pemprov, pemkab, dan masyarakat Majalengka.

Sinergitas ketiga institusi itu dapat mendorong para pengembang, kaum industri, dan pelaku usaha, secara bersama-sama mengubah wajah lama Kertajati menjadi kawasan bandara internasional yang modern dengan pelayanan prima. ”Di sekitar bandara dapat dibangun industri pendukung penerbangan,” kata Dirjen Perhubungan.

Industri pendukung itu antara lain pembangunan maintenance repair and overhaul pesawat, industri jasa seperti gudang, kesehatan, pusat-pusat informasi tentang sarana pendidikan, pariwisata, ruang pamer tekstil dan produksi tekstil terutama batik, alas kaki, dan sebagainya.Hotel berbintang hingga pondokan merupakan sarana yang selalu dicari para pendatang, baik sekadar singgah maupun tinggal dalam jangka tertentu.

Semua yang diharapjkan Dirjen Perhubungan Udara itu sungguh ideal dan diprediksi akan menjai pemicu perubahan budaya dan sosial. Rakyat Jabar, khususnya orang Majalengka dan sekitarnya, diharapkan mengalami perubahan yang signifikan.

Di kawasan Kertajati yang semula merupakan persawahan nonteknis, penghasil batubata dan genting, kebun tebu, kini berubah total. Perubahan  yang sangat cepat itu layak disebut revolusi budaya. Pembangunan yang serba wah itu tentu akan membuat sebagian warga merasa ”kaget”.

Tiba-tiba saja di depan mata mereka tumbuh bangunan fisik yang luar biasa, baik bentuk maupun ukurannya. Sebagian warga Kertajati pasti mengalami schok culture, keterkejutan budaya yang luar biasa.

Revolusi  budaya merupakan tenggat waktu yang pendek untuk berpikir. Dampaknya, akan terjadi kegamangan budaya. Mereka nanti akan setiap saat menyaksikan hilir mudik orang luar yang membawa kebiasaan bahkan kebudayaan yang berbeda jauh dengan budaya masayarakat setempat.

Perubahan yang kita harapkan adalah perubahan ekonomi menuju kesejahteraan masyarakat yang meningkat sangat cepat. Kita tidak berharap justru terjadinya keterkejutan budaya di masyarakat setempat. Hal itu jangan dianggap sepele.

Bagaimana pun BIJB dapat menjadi pemicu terjadinya tsunami globalisme. Tanpa persiapan matang, tsunami itu akan berakibat buruk bagi tatanan kehidupan masyarakat.

Pemerintah setempat harus terus menerus memberikan edukasi terhadap masyarakat tentang perubahan-perubahan itu. Ketahanan budaya sebagai penapis utama tsunami globalisasi harus tetrus ditanamkan pada masyarakat.

Kita tidak berharap, masyarakat Kertajatui dan sekitarnya bukannya berubah ke arah yang lebih baik tetapi justru menjadi korban pembangunan.

Kita khawatir, masyarakat hanya akan menjadi penonton hiruk pikuk kehidupan supra-modern di bandara. Warga di sekitarnya berdiri di luar pagar bandara, menyaksikan kaum elite, domestik dan asing, hilir mudik naik pesawat. Rakyat di sekitar bandara, mimpi pun, belum pernah naik pesawat.

Pemerintah dan masyarakat yakin, BIJB Kertajati membawa angin segar bagi pertumbuhan ekonomi dan kehudupan masyarakat. Presiden berharap terciptanya dampak ekonomi untuk Jawa Barat.

Pertumbuhan ekonomi daerah akan menarik minat investor sehingga percepatan pembangunan bisa segera dirasakan oleh masyarakat luas. Namun terciptanya dampak positif jangan sampai lupa terhadap nasib masyarakat terdampak pembangunan itu.

Agar masyarakat sekitar mendapat bagian dari manisnya hasil pembangunan, jangan tinggalkan mereka. Mereka hendapknya menjadi bagian bahkan pemilik  sah bandara itu. Lapangan kerja yang tersedia cukup banyak, jangan sampai justru diisi para pendatang.

Berikanlah prioritas bagi warga.Ajaklah mereka menikmati perubahan-perubahan itu. Bukalah pendidikan setingkat SMK penerbangan, kebandaraan, kepariwisataan, serta perguruan tinggi aeronotika di Majalengka, Cirebon, Indramayu,  atau Sumedang. ***