Dodol Betawi Tidak Bisa Dibuat Sembarang Waktu

175

Penganan khas lebaran  di Indonesia sangat banyak . Masing masing daerah memiliki beragam penganan khas  yang dibuat dan disajikan bertepatan dengan hari raya Idul Fitri.

Di wilayah Pasundan, terutama di perdesaan berbagai macam penganan seperti aneka kue basah,tape,ranginang merupakan di antara penganan yang biasa tersedia di setiap rumah. Di wilayah lainnya juga berlaku hal yang sama.

Misalnya  di wilayah kebudayaan Betawi,ada satu penganan wajib yang harus ada , yakni dodol Betawi. Dodol  berwarna hitam kecoklatan dengan variasi rasa dibanding dodol dari daerah lain.

Dodol Betawi berbahan baku ketan putih, ketan hitam dan durian. Proses pembuatan dodol Betawi sangat rumit, selain berbahan baku beras ketan hitam dan durian , juga gula merah, gula pasir dan santan yang diolah (dimasak) di atas tungku dengan pengapian kayu bakar  kurang lebih  selama 8 jam.

Karena proses pembuatannya yang rumit, hanya sedikit  yang ahli membuat dodol Betawi.

Di Jakarta dan sekitarnya yang masih memproduksi dodol Betawi saat ini sangat sedikit, hanya yang terdapat komunitas warga Betawi, seperti di Condet, Jakarta Timur , Bogor dan Bekasi.

Proses pembuatan dodol Betawi, memang tidak mudah, maka warga menerapkan prinsip saling membantu (sambatan) agar dodol dapat dibuat dengan benar.

Proses pembuatan dodol Betawi di mulai dari kaum wanita yang menyediakan bahan-bahannya, memarut kelapa  untuk mendapatkan santan, menumbuk beras ketan untuk membuat tepung kemudian menuangkan semua campuran bahan ke atas kawa (penggorengan besar).

Ketika dodol mulai kental, barulah digantikan oleh pria (tukang ngaduk). Proses mengaduk (ngaduk) membutuhkan waktu yang lama, antara 8-12 jam tanpa henti dengan menggunakan pengaduk (gelo).

Bahan bakar untuk memasak dodol berupa kayu bakar  harus dijaga agar tidak terlalu panas dan mengeluarkan asap. Api yang terlalu besar akan membuat dodol gosong dan masaknya tidak rata.

Asap dapat menyerap dalam dodol dan membuat rasanya tidak enak. Dodol yang sudah masak dituang di nampan atau tampah untuk didinginkan. Wanita melakukan tugas akhir memotong dodol  kecil-kecil dan kemudian membungkusnya.

Tidak semua orang mampu menjaga atau melestarikan membuat dodol Betawi setiap  Ramadan. Sebagian keluarga Betawi akhirnya memilih cara yang lebih praktis. Daripada repot dan capek, lebih baik membeli.

Konon ada  pantangan yang harus dipatuhi agar dodol Betawi hasilnya bagus.  Dipercaya bahwa pembuat dodol Betawi harus makan sirih agar hasilnya  bagus.

Selain itu, dalam membuat dodol tidak bisa sembarangan waktu. Ada hitungan tersendiri , terutama dalam memilih tanggal untuk  pesta pernikahan. Yang pasti, dalam sepekan seseorang sebaiknya hanya membuat dodol maksimal dua kali.

Juga, tidak boleh membicarakan hal buruk selama mengaduk dodol Betawi, termasuk di antaranya bicara soal orang meninggal. Konon, membicarakan sesuatu yang negatif membuat hasil akhir dodol Betawi tidak memuaskan.

Pembuat dodol juga harus berprasangka baik dengan adonan yang diaduknya. Walau dari awal kelihatan hasil akhirnya kurang maksimal, pantang untuk memberi label bahwa dodol itu ‘tidak bagus’. (E 001) ***