Kang Emil dan Teh Cinta Selamat Datang di Pakuan

279

RESMI sudah, Ridwan Kamil (biasa dipanggil Kang Emil) menjadi Gubenur Jawa Barat periode 2018 – 2023. Artinya, Kang Emil sekeluarga akan meninggalkan Pendopo Kota Bandung, sebagai rumah dinas walikota. Gubernur dan Ketua PKK, RR.Atalia Ridwan Kamil (kita panggil The Cinta), akan tinggal di Gedung Pakuan, rumah dinas Gubernur Jabar. Keluarga Kang Emil akan menjadi warga Kebonseureuh, Kelurahan Sumur Bandung.

Entah, Kang Emil dan Teh Cinta akan betah tinggal di Pakuan, gedung lawas yang dibangun pemerintah penjajahan Belanda. Gedung dengan arsitektur klasik Eropa itu menjadi salah satu ikon Kota Bandung selain Gedung Sate, Gedong Papak, Gedong Sabau, dan lainnya. Pakuan berdiri sangat memesona dan kelihatan kecantikannya dari arah Tegallega karena terletak di ujung utara Jl. Otto Iskanmdardinata yang lurus.

Meskipun Kang Emil  seorang arsitek masa kini yang terkenal hingga mancanegara, tidak mungkin merombak Pakuan menjadi bangunan berselera masa kini. Paling-paling membuat atau meletakkan beberapa ornamen di halaman atau di beberapa bagian gedung itu.

Pakuan merupakan rumah dinas residen, wali negara, kemudian gubernur Jawa Barat. Perlakuan terhadap tempat tinggal resmi itu pun bebeda-beda sesuai ”selera” dan kebiasaan penghuninya. Pada era Gubernur Mashudi, Pakuan dianggap rumah semua orang. Sangat terbuka bagi masyarakat. Siapa saja boleh masuk tanpa ditanya surat keterangan. Di bagian belakang gedung ada lapang tenis, siapa saja boleh bermain tenis di sana, bukan hanya pegawai pemerintah.

Pak Mashudi selalu menyuruh Kepala Rumah Tangga  Pakuan, menyediakan nasi goreng untuk sarapan bagi para pemain tenis yang datang pagi-pagi. Karena itu, Kepala Rumah Tangga  Pakuan suka menyebut Pak Mashudi sebagai ”kuwu” bukan gubernur karena kedekatannya dengan rakyat.

Pada zaman Solihin GP jadi gubernur, Pakuan masih terbuka. Ada beberapa wartawan Bandung yang sering duduk bahkan terkantuk-kantuk di  kursi di ruang depan Pakuan tanpa gangguan penjaga. Halaman Pakuan sering digunakan sebagai arena pertunjukan kesenian tradisional seperti ketuk tilu, angklung, dan sebagainya. Ada grup kesenian yang seolah-olah penghuni tetap Pakuan. Dari gedung itulah rencana pementasan atau lawatan didiskusikan serta latihan secara parsial.

Mungkin karena ada peraturan yang bersifat nasional, makin ke sini, Gedung Pakuan makin tertutup. Namun terakhir ketika Ahmad Heryawan (Kang Aher) jadi gubernur. Gedung Pakuan kembali terbuka. Di bagian belakang dibangun kandang burung yang cukup luas, berbagai jenis burung hidup bersama di kandang yang terletak di halaman bagian timur itu. Siapapun boleh menikmati keindahan rupa dan suara burung-burung itu. Kang Aher suka memberi pakan bagi burung itu sambil berkain sarung. Masjid yang ada di belakang gedung juga terbuka bagi jamaah dari mana saja. Setiap bulan Ramadan, diselenggarakan salat isya dan taraweh bagi masyarakat sekitar gedung.

Di bagian belakang sebelah barat, ada beberapa ruangangan yang disediakan bagi para penggemar kesenian, terutama vokal grup dan arumba. Ny. Dr.Netty Fitriani Heryawan, sangat menyukai olah vokal dan main musik. Hampir setiap malam ada latihan dengan peralatan kesenian yang cukup baik. Tidak hanya pemain musik, yang hanya ingin menonton pun boleh masuk ke ruangan itu dari sebelah barat. Makanan dan minuman selalu tersedia di tempat itu. Ada atau tidak ada Bu Netty, latihan berjalan terus.

Bagaimana perlakuan  Kang Emil terhadap Pakuan? Kita tunggu saja sampai 100 hari pemerintahannya. Namun menyaksikan kebiasaan Kang Emil ketika menjadi penghuni Pendopo Kota Bandung, tampaknya Pakuan akan terbuka. Di pendopo, Kang Emil sering melakukan diskusi, seminar, rapat, pergelaran kesenian, pameran, dan sebagainya.  Sering kali para tokoh Bandung, seniman, dan wartawan, berkumpul. Gedung Pakuan lebih memungkinkan untuk klegiatan serupa itu. Halamannya lebih luas, gedungnya lebih besar.

Selamat datang Kang Emil dan Teh Cinta di Gedung Pakuan. Semoga betah dan gedung itu bernilai barokah dan menjadi surga di bumi bagi penghuninya. ***