Fort Rotterdam

77

FORT ROTTERDAM atau dikenal juga dengan nama Benteng Ujung Pandang, berada  di kawasan Jalan Ujung Pandang No 1, Kota Makassar. Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna. Awalnya benteng ini dibangun dengan bahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti olehdi batu padas yang diambil dari daerah pegunungan Karst yang ada di Maros.

Benteng Ujung Pandang berbentuk seperti seekor penyu yang merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan. Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang menjadi markas pasukan katak Kerajaan Gowa.

Benteng Fort Rotterdam merupakan salah satu bangunan benteng di Sulawesi Selatan yang boleh dianggap megah dan menawan. Seorang wartawan New York Times, Barbara Crossette pernah menggambarkan benteng ini sebagai “the best preserved Dutch fort in Asia”.Benteng ini pernah hancur pada masa penjajahan Belanda yang pernah menyerang Kesultanan Gowa yang saat itu dipimpin Sultan Hasanuddin, antara tahun 1655 hingga tahun 1669. Penyerbuan Belanda ini untuk menguasai jalur perdagangan rempah – rempah dan memperluas sayap kekuasaan untuk memudahkan mereka membuka jalur ke Banda dan Maluku.

Armada perang Belanda pada waktu itu dipimpin oleh Gubernur Jendral Admiral Cornelis Janszoon Speelman. Selama satu tahun penuh Kesultanan Gowa digempur, serangan ini pula yang mengakibatkan sebagian benteng hancur. Akibatnya Sultan Gowa kalah dan dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667.

Sejak saat itu Benteng Fort Rotterdam berfungsi sebagai pusat perdagangan dan penimbunan hasil bumi dan rempah – rempah sekaligus pusat pemerintahan Belanda di wilayah Timur Nusantara (Indonesia).Dinding benteng ini kokoh menjulang setinggi 5 meter dengan tebal dinding sekitar 2 meter, dengan pintu utama berukuran kecil. Jika dilihat dari udara benteng ini berbentuk segi lima seperti penyu yang hendak masuk kedalam pantai. Karena benteng ini bentuknya mirip penyu, kadang juga benteng ini juga dinamakan Benteng Panynyua (Penyu). Benteng ini mempunyai 5 Bastion, yaitu bangunan yang lebih kokoh dan posisinya lebih tinggi di setiap sudut benteng yang biasanya ditempatkan kanon atau meriam diatasnya.

Salah satu obyek wisata yang terkenal disini selain melihat benteng serta museum Lagaligo , juga dapat melihat-lihat ruang tahanan sempit bekas Pangeran Diponegoro ditahan yang kemudian dibuang  Belanda ke tempat ini dari tanah Jawa. Perang Diponegoro yang berkobar antara tahun 1825-1830 berakhir dengan dijebaknya Pangeran Diponegoro oleh Belanda saat mengikuti perundingan damai. Pangeran Diponegoro kemudian ditangkap dan dibuang ke Menado, lantas tahun 1834 ia dipindahkan ke Fort Rotterdam. di Benteng in juga Terdapat Meseum La Galigo yang menyimpan kurang lebih 4.999 koleksi.

Koleksi tersebut meliputi koleksi prasejarah, numismatic, keramik asing, sejarah, naskah, dan etnografi. Koleksi Etnografi ini terdiri dari berbagai jenis hasil teknologi, kesenian, peralatan hidup dan benda lain yang dibuat dan digunakan oleh suku Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Saat ini, selain sebagai tempat wisata bersejarah, benteng ini juga dijadikan  pusat kebudayaan Sulawesi Selatan.

Secara umum bangunan-bangunan di dalam kawasan Benteng Fort Rotterdam berada dalam kondisi utuh dan terawat. Bahkan di tengah-tengah benteng, tepatnya sekitar taman terdapat sebuah bangunan yang di depannya biasa dibangun sebagai panggung untuk pagelaran seni.Lokasi wisata ini hanya berjarak sekitar 1 Km dari Pantai Losari, atau jika ditempuh dari Bandara Sultan Hasanuddin sekitar 30 menit mengendarai mobil maupun motor. Sementara dari Pelabuhan Sukarno Hatta ditempuh hanya sekitar 15 menit. (E-001) ***