Dr. Sri A. Kusumawardani, MHum.

69

Sri A. Kusumawardani, lahir di Medan 20 Maret 1956, anak dari pasangan H. Ahmad Hass (Alm.) dan Hj.Sri Anna (90) ini,  adalah seorang Widyaiswara di PKP2A I LAN Bandung –  Kampus Jatinangor.

Istri dari Ir.H.Kiki Moch. Rosjidi (63) ini,  sebelum menjadi Widyaiswara di PKP2A I LAN Bandung,  pernah juga menjabat sebagai Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Provinsi Jawa Barat.

“Ketika lulus dari Fakultas Hukum Unpad tahun 1982,  saya tidak berminat untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).   Sejak dulu saya senang berorganisasi, dan ketika itu saya masuk di beberapa organisasi kepemudaan (BKTK, KNPI , AMS dan FKPPI), sehingga banyak mendapat pengalaman dari berorganisasi.   Pada tahun 1988 saya ikut tes PNS,  dan pada tahun 1989 saya diterima serta ditempatkan di Kewedanaan Cileunyi Kabupaten Bandung.   Kemudian,  pada tahun 1991 saya ditugaskan pada Biro Hukum Setda Provinsi Jawa Barat,  tahun 2000 saya bertugas di Biro Desentralisasi, kemudian di Biro Otonomi dan Kerjasama Daerah, serta terakhir  saya ditugaskan di Badan Pemberdayaan Perempuan sebagai Kepala Badan sampai dengan awal 2013.   Selanjutnya, saya berpindah tugas lagi ke Lembaga Administrasi Negara sebagai Widyaiswara  sampai sekarang,  dan ditempatkan di PKP2A I LAN Bandung Kampus Jatinangor,”  tutur Sri kepada BB tentang perjalanan karirnya.

Dr. Sri A.Kusumawardani sudah sekitar 29 tahun mengabdikan diri sebagai PNS / ASN,  yakni sejak tahun1989 hingga saat ini.   Atas loyalitas dan dedikasinya kepada negara dalam kaitan profesinya,  ia berhasil meraih beberapa penghargaan baik dari Gubernur maupun Presiden.

“Kemampuan mengelola program sudah tertuang dalam tupoksi,  dan dikembangkan melalui terobosan / inovasi,  dalam rangka peningkatan pelayanan publik dengan dukungan kolaboratif dari stakeholder serta pimpinan.   Untuk meningkatkan kualitas diri,  saya sering mengikuti berbagai diklat,  seminar,  serta in house training,  baik di dalam maupun di luar negeri”,  ungkapnya.

Ibu dari Moch.Iqbal Aulia Ssos. (32), Saraswati Gita Dwiputri, SPd. (28), dan Sabila Nadin Pebrianti (12) ini mengungkapkan bahwa,  untuk membenahi mentalitas, kinerja dan pelayanan ASN / PNS di tanah air ini,  ada sejumlah program yang harus digulirkan oleh pemerintah / pemangku kewenangan,  baik untuk jangka pendek,  jangka menengah maupun jangka panjang.   Program jangka pendeknya adalah,  perlunya pemahaman aturan / kebijakan,  in house training dan diklat teknis maupun disiplin.

Juga berkomitmen tinggi dalam mengaktualisasikan program-program yang telah ditetapkan, serta melakukan evaluasi,  agar ada perbaikan untuk rencana ke depan sebagai akuntabilitas,  yang kemudian dilakukan secara sustainable / berkelanjutan pada jangka menengah maupun jangka panjang.   Semua ini adalah dalam rangka peningkatan pelayanan publik,  sesuai dengan fungsi ASN sebagai pelaksana kebijakan publik,  pelayanan publik,  serta sebagai perekat dan pemersatu Bangsa.

“Untuk meningkatkan pelayanan publik,  ASN harus profesional dan memiliki nilai dasar etika profesi,  juga bebas dari intervensi politik,  serta bersih dari praktik KKN.   Untuk menjalankan itu semua dibutuhkan komitmen yang tinggi,  karena selalu ada tantangan,”  ungkapnya menegaskan.

Penggemar warna biru ini mengemukakan bahwa,  pertumbuhan mentalitas dan kualitas ASN harus terus menerus dilakukan,  melalui berbagai program pembinaan dan kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah pusat maupun daerah, juga melalui revolusi mental untuk pembentukan karakter.   Program yang dilakukan dapat melalui diklat kepemimpinan maupun diklat teknis,  untuk menyiapkan pemimpin yang mempunyai wawasan global, adopsi teknologi,  serta mempunyai inovasi maupun wawasan kebangsaan serta integritas.

Selain itu juga diperlukan dukungan kolaboratif dari stake holder,  serta kemampuan untuk memanfaatkan sumberdaya yang ada,  sehingga smart ASN pada tahun 2019 dapat tercapai dengan highly competitif,  dan menguasi IT maupun bahasa.   Tentu saja semuanya berproses,  dan kita akan menjadi ASN yang profesional.

 “Insya Allah sanggup,  sepanjang ada komitmen dari seluruh pimpinan lembaga dan ASN itu sendiri.   Kita semua harus percaya diri ( the beauty country, walaupun banyak kekurangan, tapi patut diperjuangkan ),  I proud Indonesia,”  pungkas  penganut moto hidup “Hidup berguna untuk orang lain” ini kepada BB.    ( E-018)***