BIJB Menguntungkan Secara Ekonomi, Waspadai Kejahatan Transnasional

57

BISNIS BANDUNG – Kepala Departemen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran,  Dr.Arfin Sudirman, S.IP.,MIR mengemukakan, berdasar hasil pengamatan dan analisis, keberadaan Bandara Internasional Jawa Barat sangat berpengaruh terhadap konektivitas Jawa Barat ke wilayah-wilayah Indonesia dan negara-negara lingkup Asia. Namun di sisi lain  ada dampak yang harus diwaspadai dari keberadaan BIJB,  yakni kejahatan lintas negara dan lainnya.

“Pantura  yang masih tinggi dalam hal Trafficking In Persons dan Human Trafficking, perlu mendapat perhatian serius karena mudahnya konektivitas  , hingga akses kejahatan transnasional akan semakin mudah,” ungkap Arfin seraya menyebut pula kemungkinan yang harus diwaspadai, yakni masuknya tenaga kerja asing illegal, jaringan terorisme dan narkoba .

Keberadaan BIJB, disebutkan Arfin sangat berpotensi untuk meningkatkan pendapatan daerah Jawa Barat dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di daerah Pantura. Namun perlu diperhatikan aspek lingkungan dan budaya lokal yang harus adaptasi dengan pembangunan di wilayah Pantura.

Menurutnya, keberadaan BIJB sangat menguntungkan bagi Indonesia, khususnya Jawa Barat, karena konektivitas ke Jawa Barat semakin mudah. Negara tetangga  yang mendapat keuntungan dari keberadaan BIJB , yakni Malaysia, Singapura, Thailand dan Brunei karena dapat memperluas akses bisnisnya ke daerah-daerah Pantura , seperti Cirebon, Majalengka, Kuningan, Indramayu serta tidak menutup kemungkinan terjalin kerjasama antara daerah di Pantura dengan negara-negara ASEAN di bidang Pendidikan, ekonomi dan investasi.

Dikemukakan lebih lanjut Arfin Sudirman, keuntungan dari  keberadaan BIJB bagi Indonesia serta negara tetangga yakni dekatnya konektivitas yang bisa berdampak pada kemudahan akses investasi asing terutama Cirebon yang sudah siap menjadi kota Metropolitan. Selain keuntungan ekonomi, lanjut Arfin,  keberadaan BIJB dapat juga memberi keuntungan pada bidang pendidikan, mengembangkan universitas-universitas  lokal yang mampu berdaya saing internasional , di samping sektor pariwisata.

Untuk antisipasi dampak negatif keberadaan BIJB dengan kemunculan tidak kejahatan, Arfin berpendapat, program jangka pendek,  menengah dan jangka panjang harus dilakukan oleh pemerintah serta negara yang terkoneksi melalui BIJB. “Majalengka dan Cirebon harus diperlakukan sama seperti daerah perbatasan dengan negara lain karena keberadaan BIJB. Kapasitas dan kewenangan imigrasi dan Bea Cukai harus diperkuat. Pengawasan terhadap agen-agen tenaga kerja harus diperketat agar tidak terjadi pengiriman TKI ke luar negeri secara illegal melalui BIJB,”ujar Arfin, Senin  lalu.

Negara yang harus dirintis  oleh pemerintah untuk  mengantisipasi hal-hal serupa itu , Arfin menyebut Malaysia dan Singapura, karena banyak barang (narkoba) yang diselundupkan  dari Tiongkok Selatan melalui wilayah dua negara tersebut sebagai tempat transit. Selain di dua negara ini banyak agen tenaga kerja yang nakal . (E-018)***