Iseng Yang Berakhir Jadi Eksportir

68

BERASAL dari keluarga tak berada, memaksa Nicholas Kurniawan harus kehilangan sebagian masa kanak-kanak yang indah. Sejak duduk di bangku kelas dua sekolah dasar (SD), ia mesti mencari duit dengan berjualan untuk membiayai sekolahnya.

Pria kelahiran 29 Januari 1993 ini berdagang apa saja, mulai makanan, minuman, kaos, hingga produk multi-level marketing (MLM). “Dari berbagai macam usaha itu, saya pernah rugi, dagangan enggak laku, ketipu sama pemasok, sampai kehilangan teman. Ya maklum, namanya urusan uang, terkadang sama saudara saja bisa berantem,” ungkap dia.

Sampai akhirnya, Niko, panggilan Nicholas Kurniawan, berjualan ikan garra rufa saat kelas dua sekolah menengah atas (SMA). Bisnis ini yang kemudian mengantarkannya menjadi eksportir ikan hias dengan omzet miliaran rupiah, bukan per tahun tapi per bulan.

Saban pekan, lulusan SMA Kanisius, Jakarta, ini bisa mengekspor ikan hias sebanyak tiga hingga empat kali. “Sudah lebih ke 30 negara saya ekspor,” kata pemenang Wirausaha Muda Mandiri Tahun 2013 itu.

Dan, berjualan ikan hias awalnya tak sengaja. Saat kelas dua SMA, temannya memberi ikan garra ruffa. Jujur, mulanya Niko tidak tahu samasekali soal ikan berjulukan dokter tersebut.

“Daripada saya buang, kan, sayang tuh, saya coba jual aja di Forum Jual Beli Kaskus. Eh, enggak tahunya ada yang beli, bahkan banyak banget yang nawar,” ujarnya.

Setelah tanya teman dari mana mendapatkan ikan garra ruffa, Niko pun mulai jualan ikan yang hidup di aliran sungai di Turki, Iran, dan Irak ini dalam jumlah banyak. Kala itu, ia sudah bisa mengantongi uang Rp 2 juta–Rp 3 juta per bulan dari usaha tersebut.

Hanya, permintaan yang banyak tidak dibarengi suplai ikan garra ruffa yang berlimpah dari pemasok. Biar bisnis jalan terus, dia pun memutuskan jualan ikan hias lainnya, seperti tigerfish dan arwana.

“Saya pun memberanikan diri untuk keliling kampung nelayan atau suplier ikan hias yang ada di Sumatra buat mencari tahu sekaligus kerjasama,” imbuh Niko, yang menggandeng pemasok ikan hias dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua.

Namun, Niko mengakui, ketika itu, dengan penghasilan yang besar, dirinya terbilang sangat sombong. Maklum, baru kelas dua SMA tetapi punya penghasilan jutaan rupiah.

Lalu, Tuhan menegurnya dengan tidak naik ke kelas tiga sampai harus pindah sekolah. “Tapi, saya sadar dan malah menetapkan tujuan yang lebih tinggi lagi, saya harus kuliah karena memang butuh ilmu bisnis dan pemasaran,” ucap jebolan Jurusan Marketing Management Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta, ini.

Gagal di bisnis baru

Setelah bisnis berjalan dua tahu, ia memberi nama usahanya: Venus Aquatic. Bukan sekadar nama. Venus, nama planet berjulukan bintang fajar, mengandung filosofi, yakni bukan yang terbesar tapi yang paling terang di antara planet dan bintang dalam galaksi.

“Saya juga, sampai kapan pun mungkin tak akan pernah bisa jadi yang terbesar, tapi bisa jadi yang paling bersinar. Saya akan memberikan pelayanan yang paling berkualitas ke pembeli, keuntungan yang bagus bagi suplier,” jelas Niko.

Soalnya dulu, waktu memulai bisnis ini, dia mengungkapkan, banyak ikan hias yang cantik dan hidup di sungai-sungai di Indonesia tapi tidak ada nilainya. Sekarang, harganya berkali-kali lipat.

Contoh, ikan tigerfish. Lima tahun lalu, harganya cuma Rp 5.000–Rp 10.000 per ekor. Kini, harganya bisa Rp 500.000–Rp 1 juta.

Tanpa bermaksud sombong, ia menyebutkan, banyak yang mengakui, harga ikan hias di Indonesia bisa bagus lantaran peran dirinya. Ini berkat strategi promosi yang gencar lewat saluran online ke seluruh dunia. “Bahkan, yang menetapkan harga adalah saya. Sebelumnya, kan, orang banting-bantingan harga,” ungkap Niko.

Alhasil, harga ikan hias Indonesia perlahan bisa naik. “Boleh dibilang, saya berjasa meningkatkan industri ikan hias di tanah air. Sehingga, banyak orang yang sejahtera karena ikan hias. Ke depan bisa lebih baik, jangan malah hancur,” tegasnya.

Sejak awal berbisnis, Niko memang berjualan ikan hias melalui kanal daring, baik situs maupun media sosial. Sebab, cara ini jadi salah satu kunci kesuksesan dalam berbisnis, harus bersentuhan dengan teknologi. Terlebih, pemasaran online tanpa biaya.

Selain bikin laman yang menarik, ia juga membuat tagar alias hashtag tropicalfish. Tujuannya, agar calon pembeli bisa dengan mudah menemukan informasi mengenai ikan hias yang dia sampaikan.

Meski begitu, perjalanan bisnis ikan hiasnya tidak melulu mulus. Niko pernah kena tipu pemasok. Sudah mengirim uang Rp 30 juta yang seharusnya buat biaya masuk ke Universitas Prasetiya Mulya, tapi pesanan tidak kunjung datang dan si supplier menghilang.

Pengalaman pahit lainnya adalah banyak ikan yang mati gara-gara belum punya banyak akuarium. Waktu awal ekspor juga begitu. Banyak ikan yang dia kirim mati di tengah jalan karena salah mengemas.

Pelajaran berharga dari semua kejadian pahit itu adalah: harus terus belajar, jangan pernah merasa puas, serta mesti lebih mawas diri. “Uang saya saja sekarang mungkin ada ratusan juta masih di pemasok. Tapi, ya, sudahlah, namanya bisnis memang selalu ada seperti itu. Ada hutang dan piutang juga,” kata Niko.

Filosofi semut

Dan, meski sukses di bisnis ikan hias, Nicholas ternyata gagal di bidang usaha lainnya. Sambil membesarkan usaha ikan hias dan kuliah, dia pernah menjajal bisnis properti dan kuliner, dengan berkongsi dengan sejumlah teman.

Cuma, kedua bisnis itu gagal total. Bisnis properti tidak semudah yang dia bayangkan, apalagi modalnya harus besar. Kuliner juga bukan bisnis yang gampang lantaran banyak sekali saingan.

Dan, “Saya juga tak terlalu menguasai kedua bisnis itu. Setelah lulus kuliah tahun lalu, saya benar-benar fokus bisnis ikan hias dan merasakan lonjakan omzet yang luar biasa,” ujar penulis buku Die Hard ANTrepreneur: Born a Leader, Made a Champion ini.

Buku yang ia rilis 2014 itu mengupas tentang dua filosofi bisnis utamanya yakni die hard dan ant (semut). Niko menjelaskan, kedua filosofi ini merupakan kunci utama dari awal merintis bisnis ikan hias.

Filosofi die hard mirip dengan film Die Hard yang dibintangi Bruce Willis. Seorang pengusaha harus beraksi seperti Bruce Willis, tidak takut mati dan terus berjuang, walau berbagai cobaan menerpa.

Sementara filosofi semut, dia bilang, pengusaha yang sukses harus memiliki mentalitas seperti semut. Meski dari luar kelihatan lemah, semut sejatinya sangat kuat. Dia sanggup memikul beban dengan berat tiga kali dari berat tubuhnya.

Saat ini, untuk pemesanan dan pembelian, Niko mengerjakan sendiri dengan berperan sebagai administrator. Cuma sebetulnya, ia pernah menyerahkan pekerjaan itu ke beberapa orang. Tetapi, baru hitungan bulan bekerja, mereka sudah keluar lalu membentuk usaha ikan hias sendiri.

Tentu, bukan berarti sekarang Niko tidak punya karyawan. Buat urusan bersih-bersih akuarium, pengepakan, dan pengiriman ikan, ada pekerja yang membantunya. “Tapi, kan, saya pantau langsung, harus terus saya awasi. Cuma, kalau yang kecil-kecil juga saya ambil, bisa kewalahan,” imbuhnya.

Supaya usahanya makin maju dan pasokan lancar, Niko berencana membangun tempat budidaya ikan hias yang besar.

Sebab, “Saya juga ingin agar spesies ikan hias kita tidak punah. Dari hasil browsing, Indonesia kaya sekali akan spesies ikan hias. Namun, jumlahnya terus turun,” sebut dia.

Untuk itu, Niko juga bercita-cita mendirikan taman akuarium terbesar di Indonesia sekaligus museum ikan hias. Ia tengah membidik lahan di daerah Serpong, Tangerang Selatan, dengan mengajak mitra.

Menurutnya, taman akuarium yang ada di negara kita, seperti Taman Akuarium Air Tawar TMII, Jakarta Akuarium, dan SeaWorld Ancol, kalah jauh dengan di Singapura. “Akuarium terbesar ini juga bisa jadi etalase produk-produk yang saya jual,” tambah dia.

Dengan dua filosofi bisnisnya, die hard dan ant, tampaknya tidak sulit buat Niko mewujudkan impian itu. Semoga.  (C-003)***