Menimbang Pedas Cuan Bebek Khas Madura

73

Waralaba atau kemitraan gerai makanan ayam Bebek Kacong

KULINER olahan bebek merupakan salah satu kudapan favorit masyarakat Indonesia. Citarasa dagingnya yang gurih dan bumbu khas membuat pasar kuliner ini masih terus ada.

Beberapa pelaku usaha baru terus bermunculan. Ada pula yang menawarkan kemitraan. Salah satunya Lutfyah asal Surabaya yang membesut Bebek Kacong.

Berdiri sejak 2012, Bebek Kacong menawarkan kemitraan tahun lalu. Kini, ada 11 gerai Bebek Kacong di  Surabaya, Sidoarjo dan Malang. Lima gerai merupakan milik pusat dan enam gerai lainnya milik mitra. “Sistem kemitraan kami ini modelnya investasi dan bagi hasil. Semua operasionalnya dikelola Bebek Kacong,” jelas Lutfyah.

Ada dua paket investasi yang ditawarkan, yakni paket mulai Rp 100 juta dan paket di atas Rp 250 juta. Dengan modal tersebut mitra bakal mendapat fasilitas kerjasama selama lima tahun, biaya sewa tempat selama setahun, peralatan usaha lengkap, renovasi, karyawan, manajemen fee awal, cover biaya operasional selama tiga bulan dan bahan baku awal.

Selama ini gerai Bebek Kacong membidik area mal atau pusat belanja. Dan baru-baru ini ada investor yang meminta kerjasama dalam bentuk ruko. “Untuk gerai yang di dalam mal, paketnya mulai Rp 100 juta itu. Kalau yang di ruko, paketnya minimal Rp 250 juta,” tuturnya.

Bebek Kacong menawarkan beragam menu unggulan bebek, seperti bebek pedas, bebek bakar madu dan bebek goreng madura. Ada pula menu lain seperti paket ayam goreng, nasi madura, nasi babat dan nasi cumi hitam. Aneka menu tersebut dibanderol mulai Rp 18.000 sampai Rp 32.000 per porsi.

Perkiraan omzet berkisar Rp 25 juta sampai Rp 40 juta per bulan. Sementara, prediksi balik modal berdasar perolehan omzet tersebut, antara 17-24 bulan. Pusat tak menarik biaya royalti, mitra  hanya wajib memasok semua bahan baku dari pusat.

Sistem bagi hasil diambil dari laba bersih. Porsinya, 75% untuk mitra dan 25% untuk pusat. “Sistem bagi hasil ini berlaku untuk mitra di Surabaya dan sekitarnya. Kalau sudah di kota yang lumayan jauh dari Surabaya, rencananya mau saya waralabakan saja dengan sistem yang beda,” jelasnya.

Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), Levita Supit berpendapat

Bebek Kacong juga perlu menawarkan menu olahan bebek yang baru, tak hanya bebek bakar dan bebek goreng. Kuliner olahan bebek juga diharapkan bisa mengikuti tren yang saat ini berkembang. Misal, pelaku usaha bisa menyajikan menu bebek sambal matah atau bebek mozarella.

Sebab, menurutnya, bisnis olahan bebek mulai meredup karena pasar mulai jenuh dan menu cenderung monoton. Meski begitu, potensi kemitraannya masih ada. (C-003/BBS)***