Mayoritas Jual Barang Impor Pelaku Usaha di Bandung sedikit Raih Nilai Tambah

57

BISNIS BANDUNG– Jumlah pelaku usaha di Kota Bandung dinilai masih minim, yakni berdasarkan sensus BPS tahin 2016, jumlahnya baru mencapai empat persen atau sekitar 90 ribu.

“Padahal, Kota Kembang Bandung menjadi destinasi wisata favorit karena terkenal akan fesyen, kuliner dan hiburan lainnya,” kata Ketua Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) Kota Bandung Dendy Akad Buldansyah usai Pelantikan Pengurus Japnas Kota Bandung di Kota Bandung, pekan ini.

Menurut dia, idealnya jumlah pelaku usaha di Kota Bandung itu di atas lima persen dari jumlah penduduk atau lebih dari 100 ribu.

Dendy mengatakan sebagian besar pelaku usaha di Kota Bandung merupakan pedagang sehingga hanya mendapatkan sedikit nilai tambah. Bahkan, sebagian besar barang yang dijualnya juga merupakan barang impor.

Kondisi tersebut, kata dia, terjadi karena pelaku usaha belum  mengubah mind set menjadi pengusaha dan juga para pelaku juga tidak memiliki daya saing yang kuat sehingga tidak punya rasa percaya diri untuk berkompetisi.

“Kami akan berupaya mengubah mind set dari pedagang menjadi pengusaha. Harus memikirkan cash flow, manajemen, SDM, dan lainnya,” kata Dendy.

Pihaknya akan menumbuhkan wirausaha baru dengan melakukan road show ke perguruan tinggi negeri maupun swasta di Kota Bandung dan mahasiswa akan diberi pemahaman mengenai dunia usaha agar kelak para lulusan punya pilihan selain menjadi pekerja.

Selain itu, lanjut Dendy, pihaknya juga akan merangkul pelaku usaha besar agar mau melakukan pembinaan sehingga pelaku kecil bisa naik kelas.

“Jadi akan kita dorong agar pelaku usaha naik kelas. Apabila usahanya maju maka semakin banyak lapangan pekerjaan tersedia sehingga bisa mengurangi angka pengangguran di Kota Bandung,” ungkapnya.

Butuh  mental

Menurut  Wili Wirataman, pengusaha  garmen di Magahayu Kab.Bandung, banyak  anak muda berkeinginan menjadi seorang pengusaha atau entrepreneur. Tapi selalu saja yang dikeluhkan untuk mencapainya adalah modal.

Meski juga perlu modal  sebenarnya yang utama bukan itu  namun  mental. “Calon pengusaha harus siap mental siap rugi bahkan bangkrut. Tapi juga harus siap mental untuk menjadi besar,” tuturnya kepada Bisnis Bandung.

Membentuk mental berani ini, diakuinya tidak gampang, melainkan   perlu  melatih mental dengan berani mencoba atau berani mengambil resiko termasuk menderita kerugian.

“Jadi pengusaha beda sama dengan gabling. Pengusaha memang mempunyai risiko, tapi karyawan atau pegawai juga punya yakni di-PHK atau dipecat. Tapi risiko kerugian sebenarnya bisa ditekan,” terangnya.

Jika mempunyai uang Rp 100 juta yang akan digunakan untuk investasi sebaiknya tidak digunakan semuannya.

“Jangan sampai punya uang diinvestasikan semua. Misal punya uang Rp 100 juta tanamkan investasi cukup Rp 5 juta, jadi kalau rugi tidak kerasa. Kalau diinvestasikan semua dan rugi bisa stres,” tuturnya.

Ia menyampaikan  tips, jika akan memulai usaha, berbisnislah dalam bidang yangh menjadi passion Anda. “Jadi usaha yang kita lakukan harus sesuai dengan  apa yang kita sukai,” katanya.

Ia pun mengaku tidak bisa langsung sukses. Sejumlah bisnisnya pernah mengalami kerugian bahkan pernah bangkrut.

Terhadap karyawan, ia  mengaku tidak pernah memandang karyawannya sebelah mata karena  tidak ada pengusaha yang sukses tanpa pekerja.(B-002)***