Pertarungan Sengit Buaya Putih dan Ular Lembu di Sungai Cisanggarung

245

SUNGAI Cisanggarung yang berhulu di Waduk Darma Kabupaten Kuningan , membelah perbatasan Jabar-Jateng  menyimpan dongeng atau cerita berantai yang  turun- temurun, dari generasi ke generasi. Dongeng tentang Buaya Putih di Sungai Cisanggarung, bernama   Ki Pati Amben yang  baik hati dan sering menolong penduduk sekitar sungai. Legenda ini terkenal  di daerah  Ciledug Cirebon sekitarnya, termasuk di  daerah berbatasan  Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Pada zaman dahulu kala, konon  hiduplah seekor ular lembu jahat di Sungai Cisanggarung. Seekor ular bertanduk dengan badan seperti lembu atau lebih mirip dengan lembu tanpa kaki. Sang ular akan memakan siapa saja yang berada di sungai.Bahkan buaya-buaya yang hidup di Sungai Cisanggarung pun takut kepadanya, karena sang raja buaya dan keturunannya juga sudah dibunuhnya. Dialah raja sungai yang paling ditakuti hewan-hewan sungai dan manusia  di sekitar bantaran sungai.

Suatu hari dia mencoba memangsa seorang kakek tua yang sedang memandikan sapinya di Sungai Cisanggarung. Dari bawah permukaan air sungai, sang ular berenang mendekati kakek tua itu. Saat mulut sang ular menganga dengan taring yang siap mencabik , seekor buaya putih menggigit ekornya.

” Ah….” sang ular menjerit kesakitan

” Jangan ganggu kakek itu ,“ucap sang buaya putih

” Hei, kau berani sekali menggigit ekorku. Siapa kau ? “.

” Aku buaya putih, anak dari raja buaya Sungai Cisanggarung yang telah kau bunuh, “ jawa sang buaya putih .

” Tidak mungkin, aku sudah membunuh betina dan semua keturunannya , bahkan aku  sudah memakan telur-telur calon anaknya “.  Sang ular tak percaya dengan pengakuan buaya putih

” Aku berhasil di sembunyikan ibuku ke daratan dan kakek itulah yang telah merawatku sejak kecil ,“ujar sang buaya.

” Baiklah, hari ini akan aku bunuh dirimujuga, “ sang ular mengancam.

Kemudian sang buaya putih bertarung dengan sang ular lembu. Pertarungan yang sengit, buaya putih mewarisi kesaktian dari ayahnya dulu.

Akhirnya sang buaya putih berhasil mengalahkan sang ular lembu. Namun dia tidak membunuh sang ular lembu. Dia membiarkan sang ular hidup dengan syarat dia tidak mengganggu manusia yang berada di sungai. Dia belajar dari sang kakek yang merawatnya. Meskipun sang kakek dikucilkan manusia lain karena penyakitnya, namun sang kakek tak pernah membenci manusia-manusia yang mengkucilkannya.

Sang kakek tidak menyadari bahwa buaya putih yang dipeliharanya telah menyelamatkannya dari serangan sang ular lembu.

” Kek….terimakasih telah merawatku ,“ ucap sang buaya dengan ekornya mengusap-usap betis kakek tua

” Kaukah itu putih ?  tanya sang kakek

” Iya…..ijinkan aku kembali ke sungai cisanggarung “.

” Baiklah…kembalilah, kakek hanya meminta kamu untuk melindungi orang-orang yang berada di sungai ini “.

” Iya kek aku janji “ ucap sang buaya sambil  moncongnya  menciumi betis sang kakek

Sang buaya putih pun pergi meninggalkan kakek tua. Dia akan setia terhadap janjinya untuk melindungi manusia-manusia yang berada di sungai cisanggarung baik untuk mandi, mencuci baju atau memandikan  ternak. (B-003/ BBS) ***